Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Salah Mengira


__ADS_3

Suasana pagi ini terlihat sangat canggung, dokter Irawan nampak asyik dengan sarapannya. Dia begitu khusyu sampai tak sempat menoleh ke arah Anita ataupun mom Clara, sesekali Anita terlihat melirik ke arah suaminya.


Dia benar-benar merasa tak enak hati, karena tadi malam dia tidak bisa memberikan hak suaminya.


Padahal dia sangat tahu, jika suaminya begitu menginginkan dirinya. Anita pun sangat sadar, jika tadi malam dia sudah sangat menginginkan sentuhan lebih dari sang suami.


Sayangnya gara-gara tamu tak diundang yang kurang ajar itu, membuat hal yang seharusnya terjadi, harus tertunda.


Dokter Irawan memang tidak marah, dia tertidur di ranjang yang sama dengan Anita. Bahkan dokter Irawan memeluk Anita dengan sangat erat saat mereka tidur bersama.


Namun sayangnya, dokter Irawan tak mengucapkan sepatah kata pun dari semalam.


Hal itu membuat Anita benar-benar tak enak hati, dia ingin sekali mendengar suara suaminya. Karena dari pagi, dokter Irawan sama sekali tidak menyapanya.


Melihat raut gelisah di mata menantunya, membuat mom Clara jadi bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa diantara kedua insan rupawan tersebut?


Namun, dia tak berani bertanya. Dokter Irawan sudah berumur, pikirnya. Tidak mungkin dia mengambil langkah yang salah.


"Aku sudah selesai, aku akan mengantarkan kamu ke kampus. Kamu sudah selesai belum sarapannya?" tanya Dokter Irawan.


Dia menoleh ke arah istrinya, lalu beralih menatap mom Clara.


"Sudah, Pak Dokter." Anita langsung meletakan sendok dan garpu yang dia pegang.


"Mom, kami berangkat." Dokter Irawan nampak bangun dan menghampiri Mom Clara.


Dia langsung mengecup kening mom Clara dengan lembut, Anita pun langsung menghampiri mom Clara, lalu dia pun berpamitan kepada mertuanya tersebut.


"Aku pergi, ya, Mom," pamit Anita.


Mom Clara nampak tersenyum, dia berharap semoga tidak ada hal yang tidak diinginkan diantara anak dan menantunya tersebut.


"Hem, hati-hati," ujar Mom Clara.


Setelah berpamitan kepada mertuanya, Anita angsung berjalan menuju halaman rumah bersama dengan dokter Irawan.


Tiba di halaman rumah, dokter Irawan langsung membukakan pintu mobil untuk Anita. Anita tersenyum, lalu dia pun masuk ke dalam mobil dokter Irawan.


Tak lama kemudian, dokter Irawan pun nampak masuk kedalam mobilnya dan duduk di balik kemudi.


Tanpa banyak bicara, dokter Irawan langsung melajukan mobilnya menuju kampus tempat di mana sang istri menimba ilmu.

__ADS_1


Selama perjalanan menuju kampus, mereka hanya saling diam. Dokter Irawan terlihat begitu fokus mengendarai mobilnya, sedangkan Anita terlihat was-was.


Sesekali dia melirik ke arah suaminya, dia benar-benar merasa tak enak hati. Bahkan dia terus saja meremat kedua tangannya secara bergantian. Dia benar-benar merasa serba salah dan juga gugup.


Tiba di depan kampus, Dokter Irawan nampak menepikan mobilnya.


"Sudah sampai, belajar yang rajin biar cepet lulus terus bisa bikin usaha yang kamu inginkan," kata Dokter Irawan.


Tanpa banyak bicara, Anita langsung membuka sabuk pengamannya. Kemudian, dia nampak memeluk Dokter Irawan dengan erat.


"Huwaaa... huhuhu... maafin aku ya, Pak Dokter. Aku beneran ngga ada niatan untuk nolak keinginan Pak Dokter tua messumku ini, aku juga ngga tahu kalau dia akan datang secepat itu. Huwa... maaf, maafin Anita, Pak Dokter. Anita minta maaf," ucap Anita.


Anita menangis dengan sangat kencang bahkan kemeja yang dokter Irawan pakai sudah basah, beruntung mobil miliknya kedap suara.


Dokter Irawan yang mendengar istrinya menangis sambil terus berkata minta maaf menjadi kasihan padanya, padahal itu adalah siklus alam yang memang seharusnya terjadi.


Namun, istrinya itu terlihat sangat berlebihan, pikirnya. Namun, dia sadar jika itu adalah pengaruh hormon.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa, lagian masih ada minggu depannya lagi. Nanti kalau tamunya sudah pulang, gantian belalaiku yang akan bertamu. Kamu tidak boleh menolak," kata Dokter Irawan seraya mengelus lembut punggung istrinya.


Mendengar ucapan suaminya, Anita langsung mengusap air matanya dengan kemeja yang dokter Irawan pakai, kemudian dia menatap dokter Irawan dengan lekat.


Dokter Irawan tersenyum, lalu dia mengusap wajah Anita yang masih basah dengan air mata.


"Tidak, untuk apa aku marah." Dokter Irawan nampak mengecup hidung Anita.


"Terus, kalau tidak marah, kenapa dari malam diem aja?" tanya Anita lagi.


Dokter Irawan nampak terkekeh, dia merasa lucu saat mendengar istrinya yang terus aja bertanya layaknya anak kecil.


"Tadi malam aku mendapatkan pesan singkat dari Clarista, dia mengancam akan menggagalkan rencana acara pernikahan kita," ucap Dokter Irawan.


Clarista yang tak mengetahui jika mereka sudah menikah, memberikan ancaman serius kepada dokter Irawan.


Anita bisa bernapas dengan lega, karena ternyata diamnya suaminya bukan karena marah kepadanya.


Namun, karena memikirkan ucapan dari Clarista. Wanita gila yang terlalu terobsesi untuk mendapatkan cinta saudara sepupunya sendiri.


"Kalau begitu, kita rubah rencana saja," usul Anita.


Mendengar ucapan dari istri kecilnya, membuat dokter Irawan mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Maksudnya, bagaimana?" tanya Dokter Irawan tak paham.


"Bukankah kita akan melaksanakan acara resepsi pernikahan kita di hotel milik Tuan Gia yang berada di pusat kota?" tanya Anita.


"Ya, benar. Lalu?" tanya Dokter Irawan.


"Bagaimana kalau acara resepsi pernikahannya kita ganti tempatnya saja?" usul Anita lagi.


"Diganti tempatnya bagaiamana?" tanya Dokter Irawan.


"Kita lakasanakan acara resepsi pernikahan kita di hotel Tuan Gia yang berada di Bali, rasanya itu akan lebih baik. Aku suka pantai, nanti kita bisa bermain air berdua di sana," kata Anita mengutarakan isi hatinya.


Dokter Irawan pun tampak tersenyum, dia merasa jika usulan istrinya sangatlah tepat.


"Sepertinya itu memang akan lebih baik, kalau begitu aku harus segera menemui Gia dan mengutarakan maksudku," kata Dokter Irawan.


"Hem," jawab Anita.


"Aku juga akan mengundang semua tamu yang hadir dengan undangan rahasia, kita adakan private parti di Bali." Dokter Irawan nampak tersenyum.


"Sepertinya bagus," kata Anita.


"Ya Tuhan, kenapa istri cantikku ini pandai sekali?" tanya Dokter Irawan.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari sang suami, membuat Anita tersipu. Dia langsung memeluk dokter Irawan dan menyembunyikan wajahnya di ketiak suaminya.


Dokter Irawan nampak tersenyum melihat kelakuan istri kecilnya, dia mengusap kepala Anita dengan lembut.


"Sekarang turunlah, hanya tinggal hari ini kamu kuliah. Karena dua minggu kedepan, aku sudah meminta cuti untukmu," kata Dokter Irawan.


"Benarkah?" tanya Anita.


"Ya, Sayang," jawab Dokter Irawan.


Anita terlihat mengambil tisu basah dan mengelap wajahnya sampai bersih, kemudian dia pun menatap dokter Irawan sambil memonyongkan bibirnya.


"Kiss me, please," ucapnya.


Mendengar permintaan istrinya, tentu saja dokter Irawan tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.


Dia langsung menarik tengkuk leher istrinya dan melabuhkan ciuman hangat di bibir istrinya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2