Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Pengertian


__ADS_3

Beruntung Steven mengikuti Clarista sampai ke Bali, kalau tidak... tak ada yang tahu akan seperti apa amarah Clarista saat melihat kemesraan Anita bersama dengan dokter Irawan.


"Mau langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Steven.


Mendengar pertanyaan dari Steven, Clarista nampak membalikkan tubuhnya dan berusaha untuk menatap wajah Steven.


Entah kenapa, setelah mendengarkan penuturan cinta dari Steven, Clarista merasakan jantungnya berdebar lebih kencang.


"Aku mau makan, laper," ucap Clarista asal.


Setelah mengatakan hal itu, dia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju Resto yang tak jauh dari pantai.


Steven terlihat keheranan melihat tingkah Clarista yang nampak berubah total, karena takut terjadi sesuatu terhadap Clarista, Steven pun segera menyusulnya.


'Sebenarnya dia kenapa? Kenapa sikapnya berubah menjadi aneh? Padahal tadi terlihat sangat marah sekali, kenapa sekarang seperti bukan dia?'


Banyak pertanyaan yang muncul di benak Steven, namun dia tak berani bertanya. Dia mensejajarkan langkahnya dengan Clarista.


Di bibir pantai.


Anita nampak tertunduk malu setelah dokter Irawan mencium bibirnya di depan orang banyak, suami messumnya benar-benar sangat nakal menurutnya.


Dia sangat tidak tahu tempat, selalu saja ingin bermesraan dengan dirinya.


Dokter Irawan nampak tersenyum melihat tingkah istrinya tersebut, dia menunduk dan mengusap lembut bibir Anita.


"Kenapa menunduk terus?" tanya Dokter Irawan.


Tentu saja Anita hanya bisa tertunduk, karena dokter Irawan sudah menciumnya di depan orang banyak.


"Malu," jawab Anita.


Dokter Irawan nampak terkekeh saat mendengarkan penuturan istrinya, dia lupa jika Anita memang masih sangat polos.


"Jangan malu-malu, kita harus menikmati bulan madu kita. Karena nanti setelah aku aktif bekerja, aku tidak tahu kapan lagi ada waktu luang," kata Dokter Irawan.


Anita terlihat memeluk dokter Irawan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Bukankah kelinik itu milik suamiku yang tampan ini? Kenapa kamu harus sibuk bekerja juga?" tanya Anita.


Mendengar pertanyaan dari Anita, dokter Irawan langsung terkekeh. Tentu saja dia harus sibuk bekerja, karena menolong orang adalah cita-citanya dari kecil.


Dokter Irawan selalu bercita-cita untuk bisa menyembuhkan banyak orang, maka dari itu dia lebih memilih menjadi dokter dari pada meneruskan usaha milik sang Daddy.

__ADS_1


"Karena aku mencintai pekerjaanku, aku harus mengamalkan ilmu kedokteran yang aku kuasai." Dokter Irawan nampak mencuil dagu Anita.


Anita tersipu.


"Baiklah, kita nikmati acara bulan madu kita kali ini. Bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan?" ajak Anita.


Dokter Irawan nampak tersenyum, tentu saja dia akan menyetujui apa pun keinginan istri kecilnya.


"Apa pun untuk tuan puteri," kata Dokter Irawan.


Akhirnya dokter Irawan pun mengajak Anita untuk pergi berjalan-jalan, tentunya sesuai dengan keinginan Anita.


Seharian ini dokter Irawan dan juga Anita menghabiskan waktu untuk menikmati harinya dengan berwisata kuliner.


Memanjakan mata dan juga memanjakan lidah mereka, mereka juga masuk ke dalam toko souvenir. Mereka ingin membelinya untuk mereka jadikan kenang-kenangan.


Mereka berpikir sepertinya tidak perlu untuk membeli oleh-oleh, karena semuanya pasti sudah membelinya sendiri-sendiri.


"Lelah sekali," keluh Anita saat sampai di dalam kamar pengantin mereka.


Anita langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


Dokter Irawan langsung menghampiri istrinya, dia pun turut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil istrinya.


"Males ah, dingin." Anita nampak mengeratkan pelukannya.


"Jorok, mandinya bareng aku. Ngga bakal dingin, yang ada malah kamu akan kepanasan." Dokter Irawan mengecup kening Anita.


"Memangnya iya?" Dokter Irawan nampak menganggukkan kepalanya, "aku baru tahu."


"Ayo, biar kamu lebih paham." Dokter Irawan bangun dan langsung menggendong istrinya dan membawanya kedalam kamar mandi.


Dokter Irawan nampak membuka semua kain penghalang yang menutupi tubuh istrinya, begitupun dengan kain yang melekat ditubuhnya.


Air hangat dari shower langsung mengguyur tubuh keduanya, dokter Irawan tersenyum. Lalu, dia membalikkan tubuh istrinya sampai mentok ke dinding kamar mandi.


Tak lama kemudian, dokter Irawan nampak mengarahkan miliknya dan menghentak istrinya dari belakang. Anita yang kaget, langsung menempelkan tangannya ke tembok.


Dia benar-benar tak menyangka, jika dokter Irawan akan mengajaknya bercinta di dalam kamar mandi.


*/*


Anita nampak tertidur sambil memeluk guling, badannya terasa remuk redam. Dia merasa lelah, lemas dan terasa tak bertenaga.

__ADS_1


Tentu saja hal itu terjadi karena perbuatan suami tampannya, setelah seharian mengajak Anita jalan-jalan, pulangnya dokter Irawan langsung memberikan gulungan kenikmatan kepada sang istri secara terus-menerus.


Anita tak memungkiri, dia menikmatinya. Dia suka akan setiap sentuhan yang membuat dirinya seakan terbang melayang.


Namun, dia juga ingin diberikan waktu untuk meredakan semua rasa akibat apa yang lakukan oleh suaminya itu.


Dokter Irawan nampak tersenyum melihat istrinya yang tertidur dengan pulas, dia sangat tahu dengan apa yang dirasakan oleh istrinya.


"Pak Dokter, aku pegal." Anita mengeluh kala dia menghentak istrinya.


"Sebentar lagi, Sayang. Tanggung," kata Dokter Irawan.


Dokter Irawan kembali tersenyum, dia sangat senang karena Anita mau menjadi istri sesungguhnya. Dia merasa senang karena Anita bisa dengan cepat menerima dirinya sebagai suami seutuhnya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu pasti sangat lelah, tidurlah yang nyenyak." Dokter Irawan mengecup kening Anita dengan lembut.


Dia lalu melangkahkan kakinya menuju pantai, dia duduk beralaskan hamparan pasir sambil menikmati semilir angin malam.


Dia merasa sangat bersyukur karena Tuhan begitu baik terhadap dirinya, dia merasa bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk dia memperbaiki dirinya.


Tatapan matanya tertuju pada hamparan air yang membentang di hadapannya, mampak indah kala terkena sinar rembulan.


Saat asik menatap indahnya ciptaan Tuhan, dia merasa ada suara yang sangat dia kenal. Dia mengedarkan pandangannya, ternyata tak jau dari sana dia melihat Clarista yang sedang berbicara dengan seorang pria.


"Bukankah itu Steven?" tanya Dokter Irawan lirih.


Mereka nampak serius, dokter Irawan yang merasa penasaran pun langsung mendekati Clarista. Dia menajamkan pendengarannya agar bisa mendengar apa yang mereka obrolkan.


"Mau, kan, Cla?" tanya Steven.


"Entahlah," jawab Clarista.


"Ck! Tapi, aku mohon. Jangan mengganggu hubungan Irawan dengan istrinya, biarkan mereka bahagia," kata Steven.


"Akan aku coba, tapi kalau untuk menerima dirimu, aku tidak janji," kata Clarista.


Steven tersenyum, setidaknya Clarista sudah mulai bisa mengendalikan hati dan pikirannya. Walaupun cintanya masih bertepuk sebelah tangan.


"Sekarang istirahatlah, besok kita pulang. Aku sudah tidak sabar untuk merebahkan tubuh lelahku," ucap Steven.


"Baiklah," jawab Clarista.


Tak lama kemudian, Clarista dan Steven nampak pergi. Seulas senyum terbit dari bibir dokter Irawan, dia merasa lega karena akhirnya Clarista mau mengerti, jika cinta tidak bisa dipaksakan.

__ADS_1


__ADS_2