
Pagi Ini Ajun terlihat sangat lesu sekali, dia terlihat masih sangat mengantuk karena ulah Gadis, istrinya. Ajun benar-benar merasa, jika istrinya sedang mengerjai dirinya.
Bagaimana tidak merasa lelah, pukul tiga pagi dia baru saja tertidur. Sendangkan pukul lima dia harus terbangun untuk mandi dan segera bersiap untuk bekerja.
Kalau saja hari ini tidak ada pertemuan penting dengan klien, rasanya Ajun ingin tidur saja. Dia ingin mengambil cuti, karena badannya terasa sangat lelah.
Bagaimana tidak lelah coba jika sepulang membeli sate, Ajun harus menemani istrinya untuk menghabiskan dua bungkus sate.
Kemudian, delapan bungkus sate yang lainnya harus dia berikan kepada pelayan dan dimakan saat itu juga. karena, Gadis ingin melihat secara langsung jika para pelayan tersebut menghabiskan sate yang dia beli.
Para pelayan bahkan saling pandang seakan hendak melayangkan protesnya, namun mereka benar-benar tak bisa membantah apa pun perkataan dari anak majikannya tersebut.
Dengan mata hampir tertutup, para pelayan tersebut memakan sate yang Gadis beli. Bahkan, mereka terlihat mengunyah dengan sangat pelan sekali karena rasa kantuk yang benar-benar menyerang.
"Woy! Bengong aja udah kaya Ayam mau mati," kata Gia.
Ajun terlihat mencebik kesal, karena tiba-tiba saja Gia datang dan langsung menepuk pundaknya dengan sangat keras. Kalau saja dia bukan bosnya, sudah dapat dipastikan dia akan memukul dan memelintir tangan Gia.
"Ngga usah melotot kayak gitu, biasa aja. Lagian kamu kenapa sih, kenapa terlihat lesu seperti itu?" tanya Gia.
Gia terlihat menghampiri Ajun, lalu dia pun berbisik tepat di samping telinga Ajun.
"Jangan bilang kalau Gadis semalaman suntuk mengajakmu untuk bertempur di atas ranjang, Uhuuuu... pasti sangat panas. Ranjangnya juga pasti bergoyang dan berdecit dengan sangat kencang," kata Gia.
Gia terlihat mengucapkan hal itu dengan gayanya yang terlihat konyol di mata Ajun, bahkan kalau tidak ingat jika Gia adalah bosnya, rasanya Ajun ingin melemparkan laptop yang ada di atas mejanya ke wajah Gia yang terlihat sangat menyebalkan di matanya.
Setelah mengucapkan hal itu, Gia langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Kemudian dia pun meninggalkan Ajun dan langsung di duduk di kursi kebesarannya.
Ajun benar-benar merasa kesal, dengan apa yang diucapkan oleh Gia. Namun, dia hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi di hadapan Gia.
Andai saja Gia tahu jika tadi malam dia sangat menderita dan kurang tidur karena harus menemani istrinya begadang.
__ADS_1
Anda saja Gia tahu jika begadang yang Ajun lakukan bukan untuk bergoyang di atas ranjang, pasti Gia akan lebih meledeknya lagi.
Jadi, Ajun pun memilih untuk berdiam. Agar Gia tidak terus-terusan meledaknya.
"Sudah puas, tertawanya?" tanya Ajun dengan wajah datarnya.
"Jangan marah-marah, tidak baik untuk kesehatan. Lagi pula ini masih pagi, kamu sudah marah-marah saja," ucap Gia.
"Sudah jangan berisik, lebih baik kamu mempersiapkan diri untuk segera pergi. Karena kita harus menemui klien," kata Ajun mengingatkan.
"Astaga! Aku lupa," ucap Gia seraya tertawa meledek.
Sebenarnya Gia merasa sangat lucu saat melihat wajah kusut Ajun, selama ini Ajun selalu terlihat tampan, gagah, mempesona dan terlihat dingin tapi sangat keren di mata Gia.
Namun, hari ini Gia tak melihat hal itu di dalam diri Ajun. Justru hari ini dia merasa jika Ajun terlihat sangat tertekan, kesal dan juga berusaha untuk menahan emosinya.
Setelah terjadi obrolan yang tidak penting antara Gia dan juga Ajun, akhirnya mereka pun memutuskan untuk segera pergi ke perusahaan L.
Ajun terlihat bersiap dengan membawa berkas-berkas yang sangat diperlukan, berbeda dengan Gia yang hanya berjalan tanpa membawa apa pun.
Ya, itulah enaknya menjadi bos besar. Tak perlu repot atau pun susah karena sudah ada sang asisten yang begitu luar biasa bisa diandalkan.
Sebenarnya Ajun pun bisa bersikap seperti Gia, tentunya dengan masuk ke perusahaan milik Tuan Alfonso.
Karena, Tuan Alfonso sudah beberapa kali menawarkan kepada Ajun untuk mengelola perusahaan miliknya.
Namun, Ajun menolak dengan alasan dia masih punya kontrak kerja dengan Gia. Sebenarnya alasan utamanya bukan karena itu, dia seorang pria.
Dia merasa wajib mencari nafkah untuk istrinya dan juga keluarganya, dia tidak mau dicap sebagai lelaki benalu yang hanya menumpang hidup kepada keluarga istrinya.
Apa lagi jika sampai dirinya menerima bantuan dari mertuanya tersebut rasanya dia tidak akan punya harga diri lagi di mata orang lain.
__ADS_1
Menurutnya, lelaki itu harus punya harga diri. Walaupun berpenghasilan kecil tapi bisa menghidupi istrindan anak-anaknya.
Bukan mengharapkan uang yang besar, namun bisa didapatkan dengan cuma-cuma dari orang lain.
Tiba di perusahaan L, baik Ajun atau pun Gia, mereka langsung disambut dengan sangat baik di perusahaan tersebut.
Mereka pun bahkan langsung diajak ke dalam ruang meeting, karena pemilik perusahaan tersebut sudah menunggu mereka di sana.
Gia dan Ajun pun dengan senang hati mengikuti langkah asisten pribadi milik perusahaan tersebut, tiba di ruang meeting, mereka pun berbasa-basi sebentar.
Kemudian, mereka pun langsung melaksanakan meeting yang memang sudah direncanakan dari kemarin.
Setelah 1 jam melakukan meeting, akhirnya Ajun dan Gia pun bisa bernapas dengan lega. Mereka langsung kembali ke perusahaan milik keluarga Pranadtja.
Tiba di perusahaan Pranadtja, Ajun langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan kerja mereka.
Dia sudah benar-benar lelah dan mengantuk, rasanya matanya sudah tidak bisa untuk dibuka lagi.
"Ya Tuhan! Dia benar-benar mengenaskan!"
Gia berucap seolah dirinya tidak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Ajun, padahal saat Elsa hamil keadaan Gia lebih mengenaskan lagi daripada Ajun.
+
+
+.
Selamat malam semuanya, semoga kalian sehat selalu. Jangan lupa membaca novel karya Othor yang satu ini untuk menemani malam kalian.
Terima kasih untuk kalian yang selalu hadir di setiap novel karya Othor, terima kasih juga untuk like, vote komment dan juga hadiahnya yang selalu kalian berikan untuk Othor. Karena dukungan kalian adalah segalanya bagi Othor.
__ADS_1