
Setelah selesai dengan olah raga paginya, Melani dan Andrew langsung membersihkan diri. Tentu saja mereka melakukan ritual mandinya bersama-sama.
Awalnya Melani seakan enggan mandi bersama dengan Andrew, dia masih belum terbiasa melakukan hal seperti itu.
Apa lagi dulu saat dia menikah dengan Aldino dia tak pernah melakukan hal itu, karena Aldino memang tak pernah mengajaknya untuk mandi bersama.
Namun setelah Andrew merayunya, Melani pun akhirnya mau mandi bersama dengan Andrew. Tentunya dengan syarat Andrew tidak boleh mengajaknya lagi untuk melakukan kegiatan panas mereka.
Tentunya hal itu karena Melani sudah merasa sangat lelah, karena Andrew benar-benar menggempurnya tanpa ampun.
Selain iti, dia juga harus membantu Mama Andrew untuk menyiapkan sarapan pagi, dia tak ingin terlihat sebagai menantu yang tidak baik dimata Mama Andrew.
"Sini aku bantuin kamu buat gosok punggungnya," ucap Andrew yang kini sedang berendam bersama Melani di dalam bathup.
Melani pun menurut, dia memberikan spon yang sudah dituangkan sabun cair kepada Andrew, dengan senang hati Andrew pun menerimanya.
Tangan kanan Andrew mengusap punggung Melani dengan lembut, sedangkan tangan kirinya meremat kedua dada istrinya secara bergantian.
Sesekali dia pun memainkan ujung dada istrinya, hal itu membuat Melani merasa kesal sekaligus nikmat dalam waktu bersamaan.
Ternyata walaupun Andrew masih amatiran, namun dia selalu saja bisa membuat Melani melenguh karena tubuhnya terasa dialiri oleh aliran listrik yang secara tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Mau lagi, boleh ngga, Yang? Pengen nyobain rasanya itu di dalam kamar mandi," ucap Andrew seraya mengusap area inti istrinya.
Bahkan tangannya sudah mulai nakal, dia sengaja memainkan jemarinya di bagian terkecil tubuh istrinya tersebut.
Melani terlihat melebarkan kakinya, dia menikmati sensasi rasa nikmat yang datang. Saat itu juga Melani merasa jika ada gulungan kenikmatan yang membalut tubuhnya.
Namun jika mengingat kalau ini sudah pagi dan dia harus segera ke rumah mertuanya untuk membantu membuatkan sarapan, Melani pun berusaha untuk mengendalikan hasratnya.
__ADS_1
Melani pun memejamkan matanya, dia menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu, dia pun menarik tangan Andrew dengan lembut.
"Aku harus segera mandi dan ke rumah Mama untuk membantu membuat sarapan, itunya nanti lagi aja ya?" tawar Melani.
Andrew mengerti, walaupun dia kecewa dia berusaha untuk tersenyum dengan sangat manis di depan istrinya.
" Baiklah kalau begitu," ucap Andrew..
Andrew dan Melani pun negara menyesalkan ritual mandinya, setelah itu mereka pun langsung pergi menuju rumah Andrew.
Saat mereka masuk, Mama Andrew nampak sedang sibuk membuatkan sarapan di dapur. Melani pun dengan cekatan langsung membantu mertuanya tersebut.
Dia memang sudah terbiasa bangun pagi dan membuatkan sarapan untuk kedua buah hatinya, jadi... dia merasa tak kesulitan dalam membantu Mama Melani mempersiapkan sarapan pagi untuk keluarga mereka.
"Makanlah yang banyak, Mbak. Biar kamu nggak lemes," ucap Andrew.
Andrew terlihat mengambilkan nasi goreng lengkap dengan telur ceplok dan acarnya untuk Melani, Andrew melakukannya dengan senang hati.
Namun Melani merasa, jika Andrew terlalu berlebihan. Karena seharusnya dirinyalah yang melayani Andrew.
Walau pada kenyataannya memang suaminya itu masih berumur jauh lebih muda dari pada Melani, namun tetap saja dia merasa tak enak hati.
Putrinya Merissa saja bahkan mengambil sendiri sarapan paginya, sedangkan Fajri makan bersama dengan Anita, adik dari Andrew.
Baru 1 hari menjadi menantu di rumah tersebut, tapi Melani merasa sudah kenal lama dengan keluarga Andrew.
Apa lagi kedua buah hatinya yang terlihat begitu lengket terhadap tantenya, Anita, Mama Andrew dan juga suami brondongnya.
Hal membuat dirinya tidak menyesal menikah dengan Andrew, apa lagi melihat Anita yang terlihat begitu menyayangi Fajri, membuat Melanie merasa tidak salah masuk ke dalam keluarga Andrew.
__ADS_1
Padahal Anita masih kuliah, namun anak itu terlihat begitu keibuan. Dengan telaten dia menyuapi Fajri dan sesekali mengajaknya untuk bercanda.
*/*
"Andrew, sekarang kita sudah menikah. Walaupun kamu lebih muda dari aku, tapi sudah seharusnya aku memanggilmu dengan sebutan yang baik. Jadi, kamu maunya dipanggil apa?" tanya Melani.
Andrew dan Melani terlihat sedang mengobrol asik di taman belakang rumah Andrew, Andrew terlihat merangkul pundak Melani.
Berbeda dengan Melani yang terlihat memeluk Andrew, sambil menyandarkan kepalanya di pundak pria yang sekarang sudah menjadi suaminya tersebut.
"Apa saja, yang penting kamu suka." Andrew terlihat mengecup kening Melani dengan lembut sekali, rasa damai langsung menyelimuti ruang hati Melani.
"Mas saja kalau begitu," usul Melani.
"Boleh, Sayang," kata Andrew seraya menunduk dan mengecup bibir Melani.
Pasangan pengantin baru itu terlihat bermesraan, mereka seolah tak ingin melewatkan waktu untuk saling berbagi kasih sayang.
Sore harinya Melani dan Andrew nampak membenahi pakaian mereka, karena esok harinya Melani dan juga Andrew akan pergi ke Roma.
Tentu saja hal itu mereka lakukan, karena tiket bulan madu yang Tuan Alfonso berikan adalah 2 tiket honeymoon menuju Roma selama 5 hari.
Awalnya Melani terlihat enggan untuk pergi, karena takut jika kedua buah hatinya akan menangis saat dia tidak ada.
Namun Anita meyakinkan jika Fajri dan juga Merissa akan baik-baik saja bersama dirinya dan juga Mama Andrew.
Akhirnya, mau tak mau Melani pun setuju untuk pergi menuju Roma bersama dengan Andrew. Selain karena merasa tenang menitipkan kedua buah hatinya kepada Anita dan Mamanya Andrew.
Dia juga tak ingin mengecewakan suaminya, karena Andrew terlihat begitu berharap untuk pergi berlibur bersama dengan dirinya.
__ADS_1