Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Penderitaan Gia


__ADS_3

Gia masih saja terbaring lemah, jangankan untuk bangun dari tempat tidur. Untuk menggeserkan tubuhnya saja, terasa sulit.


Setiap dia bergerak atau membuka mata, Gia akan merasakan pusing yang luar biasa. Semua pekerjaan di kantor bahkan dia serahkan pada Tuan Dirja dan juga Ajun.


Rasanya dia tak akan sanggup untuk berurusan dengan yang namanya pekerjaan, karena untuk mandi saja dia tak sanggup. Elsa bahkan harus rela mengelap tubuh suaminya itu.


Kadang Elsa merasa iba, biasanya suaminya itu terlihat sangat gagah. Dia selalu bertingkah konyol dan selalu senang menggodanya, namun kali ini dia terlihat lemah tak berdaya. Bahkan terkesan seperti mayat hidup.


Beruntung Gia masih punya Dad yang begitu menyayanginya, masih ada Bu Anira juga yang selalu memberikan kasih sayangnya.


"Mas, apa sudah lebih baik?" tanya Elsa yang kini tengah berusaha untuk menyuapi suaminya itu.


"Masih seperti kemarin, puyeng kepalanya. Buka mata aja sulit, padahal aku udah kangen banget pengen lihat wajah cantik kalian. Aku juga kangen pengen nengokin Babby." Ucap Gia dengan mata yang masih terpejam.


"Ujung-ujungnya urusan ranjang!" Elsa mencebik kesal.


"Ngga gitu juga, Yang. Nengokin bukan berarti miliku yang masuk ke sana, aku ingin mengecup perut buncitmu itu. Aku ingin mengajak Babby berbicara." Ucap Gia dengan suara lemahnya.


Elsa tersenyum, dia menarik tangan Gia dengan lembut. Lalu mengusapkan tangan Gia ke perut Elsa, Gia langsung tersenyum saat merasakan gesekan antara perut Elsa dan tangannya.


Gia langsung memeluk pinggang Elsa, dia mengusakan wajahnya di perut Elsa. Rindu, Gia begitu rindu pada Elsa, twins A dan juga Babby yang ada di perut Elsa.


"Ayah rindu, Sayang. Ayah sudah ngga sabar dengan syndrom sialan ini, Ayah ingin sekali hidup dengan normal seperti sedia kala." Kata Gia.


Elsa mengelus lembut puncak kepala Gia, dia begitu merasa kasihan pada suaminyanitu. Mungkin. memang benar, ini. adalah cara Tuhan untuk menegur Gia. Karena Gia pernah melakukan kesalahan pada Elsa dan Elsa benar-benar merasa tersiksa saat tahu jika sedang hamil.


Namun, Elsa sudah mengikhlaskan semua itu. Elsa sudah memaafkan Gia, tentu Elsa sangat berharap jika Gia akan segera sembuh dan bisa beraktifitas dengan normal kembali.


"Mas'nya bangun dulu, aku suapin. Mas harus makan, kalau ngga mau makan nanti ngga sembuh-sembuh." Bujuk Elsa, dan Gia pun menurut.


Dia bangun dengan dibantu Elsa. Bahkan dia sampai meringis sambil memegangi pelipisnya. Sungguh rasa ini begitu menyiksanya. Namun, Gia sudah berjanji akan menikmatinya.

__ADS_1


Menikmati setiap rasa yang tercipta karena syndrom simpatik ini, Gia juga sangat sadar jika mungkin ini adalah cara Tuhan menghukum Gia.


Susah payah Gia menelan suapan demi suapan yang Elsa berikan padanya, hingga tanpa terasa sepiring nasi dengan lauknya langsung tandas tak tersisa.


"Mas'nya pinter, Elsa suka. Cepat sembuh ya, Sayang." Elsa langsung mengecup bibir Gia beberapa kali.


Gia nampak tersenyum, namun dengan mata yang tetap terpejam. Dia masih merasakan pusing di kepalanya.


"Lagi, Yang. Cium, jangan cuma kecup aja." Gia langsung memonyongkan bibirnya.


Bukannya mencium Gia, Elsa malah mendorong pelan wajah Gia. Dia merasa lucu dengan raut wajah suaminya itu.


"Mulut Mas, bau amis. Aku ngga mau cium," ucap Elsa seraya terkekeh.


Gia nampak kesal, dia langsung merebahkan tubuhnya lalu menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya. Bagimana tak bau amis, jika dia sudah menghabiskan satu porsi sup ikan yang Elsa buat.


Elsa langsung ikut masuk ke dalam selimut, dia memeluk Gia dari belakang dan mengelus lembut dada pria itu. Pria yang pernah merusak masa depannya, tapi juha pria yang kini telah membawa kebahagiaan bagi dia dan kedua putrinya.


Elsa hanya ingin membina masa depannya bersama dengan Gia dan juga bersama anak-anaknya kelak.


Gia langsung tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu, rasanya terlalu manis. Namun dia tetap memunggungi Elsa. Dia merasa kesal karena Elsa tak mau menciumnya.


Elsa tak mempermasalah hal itu, karena Elsa tahu jika Gia hanya pura-pura saja. Tak mungkin dia akan benar-benar marah terhadap dirinya.


Sedangkan VB, kini masih terlihat uring-uringan karena harus puasa. Sepulang kerja, dia bahkan belum masuk ke dalam kamarnya, dia duduk terdiam di bangku taman belakang sambil menatap kopi yang telah dingin.


Sebenarnya Dina juga merasa kasihan, apa lagi sampai harus tidur terpisah. Dina yang sudah terbiasa di peluk saat tidur oleh sang suami pun merasa tidurnya tak bisa lena, semalaman dia hanya membolak-balikan badannya tanpa bisa memejamkan matanya.


Nyonya Miranda pun mulai merasa tak tega melihat wajah sendu putranya, dia pun jadi berpikir. Apakah dia terlalu ikut campur urusan rumah tangga putra semata wayangnya?


Apakah dia harus mengizinkan putranya untuk kembali tidur bersama dengan menantunya? Apakah VB bisa menjamin tidak menerkam Dina di saat seperti ini?

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya, dia merasa kasihan pada putranya. Tapi juga dia takut jika VB akan menerkam Dina habis-habisan.


"Sayang..." Nyonya Miranda terlihat duduk di samping VB, kemudian dia pun mengelus lembut punggung putra semata wayangnya itu.


VB sempat menoleh kearah Mom'nya, tapi kemudian dia pun kembali memalingkan wajahnya. Dia seakan enggan bertatap muka dengan Mom'nya karena sudah memisahkan dirinya dengan istrinya.


Nyonya Miranda hanya bisa menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Dia tahu jika putranya sedang marah kepada dirinya, akan tetapi, bukankah ini demi kebaikannya dia juga, pikirnya.


"Maafkan, Mom." Kata Nyonya Miranda.


VB diam saja, dia sama sekali tak menoleh ke arah Nyonya Miranda.


"Maafkan, Mom, Sayang. Mulai sekarang kamu boleh satu kamar lagi dengan istri kamu," ucap Nyonya Miranda menyerah.


"Benarkah, Mom?" tanya VB dengan raut binar bahagia di wajahnya, tatapan yang sedari sendu kini hilang entah kemana, menguap berganti dengan kebahagiaan.


"Ck, giliran boleh aja langsung seneng." Kata Nyonya Miranda.


"Seneng banget, Mom. Terima kasih, Mom sangat baik." VB langsung menghujani wajah Mom'nya dengan ciuman, dia sungguh sangat bahagia karena merasa sudah terbebas dari masa hukumannya.


Dina yang memperhatikan obrolan mereka di balik jendela, hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang kembali tersenyum. Dina sudah bisa menebak apa yang diobrolkan oleh Nyonya Miranda dan juga VB.


Sudah bisa dipastikan jika Nyonya Miranda merasa tak tega dan mengizinkan VB untuk tidur kembali bersama dirinya.


+


+


+


Selamat malam, selamat beristirahat. Semoga kalian bahagia selalu, jaga kesehatan dan semoga kalian tak bosan membaca karya ku ini. Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya..

__ADS_1


__ADS_2