Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Perubahan Rencana


__ADS_3

Cukup lama dokter Irawan berciuman dengan istrinya, dia begitu menikmatinya. Kalau saja tidak ingat ini di kampus, kalau saja tidak ingat jika istrinya sedang datang bulan, dia pasti sudah mewujudkan keinginannya.


"Sekarang keluarlah, jangan terus memancingku. Nanti aku bisa khilaf," kata Dokter Irawan.


"Baiklah, suamiku." Anita terlihat mengambil cermin kecil dari dalam tasnya.


Dia melihat bibirnya yang terasa kebas, lalu dia pun kembali memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda.


"Sudah rapi belum?" tanya Anita.


Anita terlihat mendekatkan wajahnya dan sedikit memonyongkan bibirnya.


"Sudah, Sayang. Sekarang turunlah, atau aku akan memper--"


Anita langsung menutup mulut suaminya, lalu dia pun tersenyum dengan sangat manis.


"Aku turun dulu, sampai jumpa lagi suamiku," pamit Anita.


Setelah berpamitan kepada suaminya, Anita pun langsung turun dan melangkahkan kakinya menuju kampus.


Dokter Irawan nampak tersenyum melihat tingkah Anita yang dia rasa sudah mulai berani, dia tidak menyangka jika Anita bisa langsung membuka hati untuknya.


Setelah Anita tak terlihat lagi, dia pun melajukan mobilnya menuju perusahaan Pranadtja.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia ingin membicarakan masalah resepsi pernikahannya bersama dengan Gia, sahabatnya.


Sebenarnya Anita tak keberatan jika tak diadakan acara resepsi pernikahan, baginya yang penting dokter Irawan setia dan mau benar-benar berumah tangga yang baik dengannya.


Namun, dokter Irawan pun ingin mempunyai kenang-kenangan untuk dia ceritakan pada anak cucunya nanti, jika dia juga pernah menjadi raja dan ratu sehari.


Dia ingin punya album pernikahan yang menampilkan gambar dirinya dan sang istri dalam berbagai fose.


Tiba di kantor Pranadtja, dokter Irawan nampak memarkirkan mobilnya. Lalu dia turun dan langsung melangkahkan kakinya menunju ruangan Gia.


Semua karyawan yang sudah mengetahui siapa dokter Irawan, nampak membungkuk hormat.


"Hai, Bro!" sapa Dokter Irawan kala membuka pintu ruangan Gia.


Mendengar sapan dari dokter Irawan yang terasa begitu tiba- tiba dan sangat tidak sopan, membuat Gia dan Ajun terlihat kaget.


Dokter Irawan nampak tak perduli, dia langsung menghampiri Gia dan duduk tepat di hadapannya.


"Minta waktunya bentar," pinta Dokter Irawan.


Gia yang sedang berkutat dengan berkas di tangannya, langsung menyimpannya. Lalu, dia menatap dokter Irawan dengan tatapan tidak suka.


"Ck! Bisa berlaku lebih sopan tidak? Ini kantor, bukan tempat umum!" prote Gia.

__ADS_1


Mendengar ucapan Gia yang tidak menyenangkan hati, dokter Irawan hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya.


Dia tahu kalau dia sudah masuk ke dalam ruangan Gia tanpa permisi, dia tahu kalau dia tidak sopan.


Akan tetapi, dia sudah tidak sabar ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.


"Sorry, ini urgent." Dokter Irawan nampak memperlihatkan wajah seriusnya.


Gia terlihat menghela napas berat, jika sudah seperti itu. Sahabatnya itu sedang mempunyai masalah yang cukup rumit.


"Ceritakanlah, jangan membuatku pusing karena harus menebak-nebak," kata Gia.


Gia pun menggeser berkas yang sedang dia kerjakan ke ujung meja, karena dia ingin mendengarkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya.


"Jadi, begini--"


Dokter Irawan nampak menceritakan semuanya kepada Gia, Ajun yang sedang bekerja pun langsung menghampiri dokter Irawan dan duduk tepat di sampingnya.


Dia menepuk pundak dokter Irawan, lalu dia pun berkata.


"Kita pasti bantu, tenang saja," kata Ajun.


Dokter Irawan nampak tersenyum, dia tahu kedua sahabatnya itu bisa diandalkan.


"Yang penting ada duitnya," timpal Gia.


"Dasar mata duitan!" seru Dokter Irawan.


Kemudian mereka bertiga pun tertawa bersama.


"Aku akan mengatur semuanya, dua hari sebelum hari h, kamu berangkatlah terlebih dahulu. Nanti aku kabari," ucap Ajun.


"Oke, terima kasih. Kalian memang teman terbaik," kata Dokter Irawan.


"Jangan sungkan, kita sudah seperti saudara." Gia menepuk pundak dokter Irawan.


"Ya, kalau begitu aku permisi." Dokter Irawan segera pergi dari ruangan Gia.


Dia sangat sadar jika dia akan mengganggu Gia dalam bekerja, jika di terlalu lama di sana. Hatinya yang tadinya resah, kini mulai terasa lebih baik.


Dokter Irawan pun dengan cepat melajukan mobilnya untuk segera pulang, dia sudah tak sabar ingin segera memberitahukan pada mom Clara tentang perubahan rencana pernikahannya.


Tiba di rumahnya, dokter Irawan langsung masuk dengan tergesa kedalam rumahnya.


"Mom!" seru Dokter Irawan.


Dia mencari sosok wanita yang sudah melahirkannya tersebut, namun tak menemukannya.

__ADS_1


Akhirnya dia pun berlari menuju kamar yang di tempati oleh mom Clara, sayang di sana pun tak ada.


"Kemana, Mom?" tanya Dokter Irawan lirih.


Dokter Irawan pun memutuskan untuk segera menemui pelayan yang ada di rumah tersebut. Saat tiba di ruang makan, ada seorang pelayan yang sedang merapikan meja makan.


Dokter Irawan pun langsung menghampirinya, dia ingin segera menanyakan keberadaan mom Clara.


"Mba, mom kemana?" tanya Dokter Irawan.


Seorang pelayan tersebut tampak menghentikan pekerjaannya, kemudian dia pun menjawab pertanyaan dari tuannya.


"Tadi saya lihat ada yang menelepon Nyonya, kemudian Nyonya pun pergi," jawab pelayan tersebut.


"Apa Mbak tahu kemana mom pergi?" tanya Dokter Irawan.


"Kalau saya tidak salah dengar, ke Cafe yang itu lo Tuan. Cafe yang ada di dekat toko bunga, katanya yang tak jauh dari sini," jawab pelayan tersebut.


"Terima kasih, Mbak. Saya pergi nyusul Mom," pamitnya.


Setelah mengatakan hal itu, dokter Irawan pun segera pergi dari rumahnya. Dia ingin segera menemui mom'nya, dia menjadi penasaran denagn apa yang dilakukan mom'nya di Cafe dan dengan siapa dia membuat janji.


Tiba di Cafe yang dituju, dokter Irawan pun menepikan mobilnya. Dia masuk ke dalam Cafe tersebut dan mencari sosok mom'nya.


Ternyata mom Clara bertemu dengan Clarista, dokter Irawan pun segera mendekati mom Clara. Namun, dia terlihat menjaga jarak agar Clarista tak mengetahui kedatangannya.


"Aunty, please jangan restui hubungan mereka. Aku janji akan menjadi menantu yang baik untuk Aunty, aku juga akan menjadi istri yang baik untuk Kak Irawan," ucap Clarista mengiba.


"Sayang, untuk masalah perasaan tidak dapat dipaksakan. Jika sekarang Aunty mendukung kamu untuk bisa menikah dengan Awan, kamu sendiri yang akan tersiksa. Karena Awan pasti akan memperlakukan kamu dengan acuh," jawab Mom Clara.


"Aku jamin, aku akan membuat dia jatuh cinta sama aku, please Aunty. Kasih aku kesempatan," Clarista memelas.


"Dengarkan Aunty, kamu cantik. Kamu itu kaya, kamu itu pengusaha. Banyak di luar sana lelaki yang menyukai kamu, bahkan bersedia menikahi kamu saat ini juga. Jangan merendahkan diri kamu untuk melakukan hal yang tidak baik," ucap Mom Clara.


"Ck! Aunty tidak mengerti dengan perasaan aku," kata Clarista.


Clarista terlihat menangis, dia kecewa dengan Auntynya. Kemudian, dia langsung pergi dari Cafe tersebut tanpa pamit. Rasanya dia sudah tidak ingin berbicara lagi, karena sangatlah percuma, pikirnya.


Melihat tingkah dari keponakannya tersebut, mom Clara hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Dia tidak menyangka jika keponakannya sendiri akan terobsesi terhadap putranya. Bahkan dia rela menggunakan cara kotor untuk menjerat putranya.


Beruntung Tuhan seakan selalu melindungi dokter Irawan, sehingga apa pun yang dilakukan oleh Clarista, dokter Irawan masih saja bisa terhindar dari jeratnya.


"Kita pulang, Mom. Ada yang mau aku bicarakan," ucap dokter Irawan seraya mengelus pundak mom Clara.


Mom Clara terlihat sangat kaget, karena tiba-tiba saja putranya kini berada di belakangnya.

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab Mom Clara.


__ADS_2