
'Ini bukannya pria dingin itu, ya? Kenapa sekarang dia terlihat tampan sekali?' tanya Aurora dalam hati.
Melihat Aurora yang menatap dirinya dengan senyuman, membuat Kiandra membuka suaranya.
"Sejak kapan Nona Aurelia berada di sini?" tanya Kiandra.
"Aku? Anda bertanya padaku?" tanya Aurora seraya menunjuk wajahnya.
"Ya," jawab Kiandra.
Awalnya Aurora terlihat kebingungan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Kiandra, begitupun dengan Jefri.
Karena setahunnya sedari siang Aurora tidak kemana-mana, dia terlihat belajar melukis dengan sangat antusis ditemani oleh dirinya.
Namun, tak lama kemudian Aurora jadi teringat jika adiknya Aurelia kini sedang berada di perusahaan sang ayah.
Aurora jadi berpikir jika Kiandra mungkin saja sudah bertemu dengan adiknya, lalu dia mengira jika kini dirinya adalah Aurelia.
"Ehm, maaf Tuan--"
"Kiandra, Nona. Baru saja kita bertemu, tapi anda sudah lupa akan nama saya," kata Kiandra.
Aurora terlihat tersenyum canggung, sedangkan Jefri terlihat bingung saat mendengar ucapan dari bosnya tersebut.
Kiandra terlihat memindai penampilan dari Aurora, Aurora terlihat memakai baju casual. Rambutnya juga terlihat di ikat secara asal, Kiandra tersenyum melihat akan hal itu.
Karena Kiandra lebih suka jika melihat penampilan wanita yang dia kenal sebagai 'Aurelia' itu berpenampilan seperti saat ini.
Rasanya dia tidak nyaman jika melihat wanita yang berada di depannya itu berpenampilan feminim seperti saat bertemu di kantor Pranadtja.
"Kamu cantik!" celetuk Kiandra.
"Hah?" Jefri dan Aurora nampak melongo tak percaya saat mendengar ucapan dari Kiandra.
Mereka terlihat menatap wajah Kiandra dengan tatapan penuh tanya. Kiandra menjadi salah tingkah mendapatkan tatapan maut dari kedua manusia yang berada di hadapannya itu.
"Eh? Itu, maksud saya lukisan yang kamu buat sangat cantik. Perpaduan warnanya juga cantik, iya. Maksud saya seperti itu," kata Kiandra seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Jefri dan Aurora nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Oh, kirain aku yang cantik. Soalnya banyak yang berkata jika aku sangat cantik," kata Aurora.
Dia berkata seraya mengusap pipinya dengan punggung tangannya, Jefri langsung tersenyum melihat akan hal itu
"Ish! Percaya diri sekali," cibir Kiandra.
Dia merasa tidak percaya jika gadis yang berada di hadapannya itu ternyata sangat percaya diri.
"Tentu saja aku cantik, karena aku perempuan. Kalau aku bilang kamu cantik, baru itu aneh. Iya, kan Kak Jef?" tanya Aurora.
Kiandra merasa tak percaya dengan apa yang gadis di hadapannya katakan, mereka terlihat begitu akrab dengan panggilan yang disematkan oleh wanita yang dia kenal sebagai 'Aurelia' itu.
"Hah, Kak Jef?" tanya Kiandra seraya memandang wajah asisten kepercayaannya.
__ADS_1
Jefri terlihat menunduk malu-malu, saat mendapatkan panggilan manis dari Aurora. Namun saat dia menatap wajah dari Kiandra yang terlihat menatap dirinya tidak suka, Jefri langsung menelan ludahnya dengan susah.
"Saya ke belakang dulu, Tuan." Jefri langsung pergi karena takut.
Melihat kepergian Jefri, Aurora nampak bingung. Jika Jefri pergi, lalu siapa yang akan mengajarinya?
"Yah, kok Kak Jef pergi? Aku belajar melukisnya bagaiamana?" tanya Aurora.
"Biar saya yang mengajari," kata Kiandra.
"Memangnya bisa?" tanya Aurora.
"Ya Tuhan, jangan remehkan saya nona Aurelia. Saya pemilik sanggar ini, tentu saja saya sangat bisa mengajari anda daripada si Jefri," kesal Kiandra.
"Okeh, kalau begitu kita mulai." Aurora nampak bangun.
Dia mengambil celemek dan hendak memakaikannya di tubuh jangkung Kiandra.
"Tolong menunduk sedikit, kamu tinggi sekali. Aku susah pakeinnya," pinta Aurora.
Kiandra menunduk seraya memperhatikan wajah Aurora yang terlihat kotor dengan cat warna, matanya bahkan sampai tak berkedip melihat wajah cantik gadis itu.
"Sudah selesai," kata Aurora.
"Eh? Sudah selesai, ya?" tanya Kiandra.
"He'em, sekarang kamu ajarin aku melukis," pinta Aurora seraya memberikan kuas pada Kiandra.
Kiandra nampak mengambil tisu basah yang berada tidak jauh dari sana, kemudian dia mengelap pipi dan kening Aurora yang terlihat terkena cat warna.
Untuk sesaat Aurora nampak terdiam dengan perlakuan manis dari Kiandra, dia tidak menyangka jika pria dingin di hadapannya mampu bersikap semanis itu kepada dirinya.
"Terima kasih," ucap Aurora.
Sebenarnya hatinya merasa sangat berbunga, namun dia berusaha untuk menutupinya.
"Sama-sama, sekarang kita lanjutkan belajarnya," ajak Kiandra.
Aurora terlihat menganggukkan kepalanya, tentu saja dia ingin segera belajar lagi. Karena dia sudah tidak sabar ingin membuat lukisan untuk kedua orang tuanya.
Aurora dan juga Kiandra terlihat begitu serius dalam melukis, Jefri hanya bisa memperhatikan keduanya dari kejauhan.
"Yah di embat si bos, padahal tadinya saya mau deketin Nona Aurora yang cantik itu," keluh Jefri seraya memilin ujung celemeknya.
*/*
Di kediaman Pranadtja.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Elsa ketika melihat Gia yang datang menghampirinya.
"Sudah, Yang." Gia menunduk dan langsung mengecup bibir istrinya.
"Mas!" keluh Elsa.
__ADS_1
Selalu saja Gia bersikap seperti itu, padahal di ruang keluarga terlihat ada Kenzie, Adelia dan juga Axelle.
Bahkan di sana juga ada Alex, putra bungsu mereka yang sedang asik bermain lego ditemani bu Anira.
Mereka bertiga sedang belajar kelompok untuk membuat prakarya, beruntung mereka sedang serius sehingga tidak melihat apa yang dilakukan oleh Gia.
"Kangen, Yang. Mereka sedang serius, sebaiknya kamu ikut aku sebentar." Gia langsung menarik lembut tangan istrinya menuju kamar mereka.
Tentu saja tidak lain tidak bukan dia akan meminta jatah kilatnya, karena melakukan itu membuat dirinya merasa lebih dekat dengan istrinya.
Semua rasa lelah dan penat setelah seharian bekerja seakan menguap entah kemana, beruntung putra-putrinya selalu anteng.
"Aduh, Mas!" kaluh Elsa ketika Gia menyudutkannya ke tembok.
"Boleh, ya?" tanya Gia dengan tangan yang mulai melucuti baju Elsa dan baju yang dia kenakan.
"Ya Tuhan, bagaimana aku bisa menolak kalau Mas selalu saja melakukannya bahkan sebelum aku--"
Bibir Elsa berhenti berbicara ketika milik Gia sudah memasukinya dari belakang dan mulai bergerak secara cepat.
*/*
Jika Elsa dan Gia kini sedang berlomba untuk mencapai puncak, berbeda dengan keadaan di luar rumah.
Kiandra terlihat memberhentikan mobilnya, lelaki muda itu terlihat turun dengan tergesa kemudian membukakan pintu mobil untuk Aurora.
"Terima kasih, Kak," kata Aurora.
"Sama-sama," jawab Kiandra.
"Kalau begitu aku pamit dulu," kata Kiandra.
"Ngga mau mampir dulu, nanti aku bikinin teh jahe," tawar Aurora karena kebetulan cuacanya sedang mendung.
"Tidak usah, saya pulang saja. Takut keburu hujan, selamat sore Nona Aurelia." Kiandra masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan perlahan.
Aurora tersenyum kala mendengar apa yang diucapkan oleh Kiandra, karena memang dirinya bukan Aurelia.
Namun, dia seakan tak berniat untuk memberitahukan siapa dirinya.
Selepas kepergian Kiandra, Aurora langsung masuk ke dalam rumah. Tiba di ruang keluarga, Axelle dan juga Kenzie yang melihat kedatangan Aurora langsung bangun dan memeluk Aurora dengan erat.
"Kakak Cantik!" seru keduanya.
"Astaga!" keluh Aurora.
+
+
+
BERSAMBUNG....
__ADS_1