Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Mencoba Keberuntungan


__ADS_3

Malam telah berlalu, gelapnya langit malam berangsur menghilang. Terganti dengan cahaya mentari, yang mulai menyembul secara perlahan.


Gia mencoba untuk membuka matanya, dan saat matanya terbuka, Gia sangat bahagia. Karena di sisi kanan dan kirinya, Aurora dan Aurelia memeluknya dengan erat.


Senyumpun langsung mengembang di bibirnya, di tatap wajah cantik kedua putrinya, terlihat mirip dengan wajahnya. Di kecupnya kening Aurora dan Aurelia secara bergantian, dengan penuh kasih dan sayang.


Pandangan mata Gia, lalu mencari sosok wanita yang kemarin telah SAH menjadi istrinya. Tapi nihil, sejauh mata memandang, Gia tak menemukan Elsa.


Tapi, Indra penciuman'nya, mencium wangi masakan yang enak. Gia pun secara perlahan turun dari tempat tidurnya, agar tak mengganggu waktu tidur kedua putrinya.


Dengan langkah pelan, Gia melangkahkan kakinya menuju dapur. Benar saja, Elsa telah selsai memasak dan sedang menata makanan yang sudah dia masak di atas meja makan. Gia langsung menghampiri Elsa dan memeluknya dari belakang.


"Mas!" pekik Elsa, dia kesal karena Gia selalu saja membuatnya kaget.


Gia seolah tak perduli, dia malah mengecupi pipi Elsa secara bergantian.


"Mas, jorok! Mandi dulu sana, nanti kita sarapan." Elsa berusaha melepaskan tangan Gia yang melingkar indah di perutnya.


Gia pun tersenyum nakal, seolah ingin meminta sesuatu hal yang lebih pada Elsa.


"Jadi, kalau udah mandi boleh cium lagi?" tanya Gia sambil menaik turunkan alisnya.


"No!" terang Elsa.


"Iish, tega kamu tuh. Udah ngga dapet jatah, ngga boleh cium pula." Gia langsung mencebikan bibirnya, Elsa langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa.


"Sudah, mandi sana." Gia pun langsung melepaskan tangannya, dengan langkah gontai dia masuk ke dalam kamar mandi.


"Lihat saja nanti, setidaknya aku harus dapet Morning kiss. Masa jatah ngga dapet, cium ngga boleh. Malang kali nasib ku, awas kamu Elsa."


Gia pun langsung melakukan ritual mandinya, setelah selesai mandi, Gia langsung membuka sedikit pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya.


"Suuut, Elsa, Sayang.. " Panggil Gia pada Elsa yang baru saja selesai mencuci bekas dia memasak.


Elsa langsung menoleh ke arah Gia," apa sih?"


"Di sini ngga ada handuk, tolong ambilkan handuk dong." Gia sengaja mencari alasan untuk bisa bersama dengan Elsa.


Elsa memutar bola matanya," Iya, tunggu sebentar."


Elsa langsung masuk ke dalam kamar, dan mengambil handuk dari dalam lemari.

__ADS_1


Gia langsung tersenyum, kala Elsa semakin mendekat. Saat Elsa sudah berada di depan kamar mandi, Gia langsung menarik Elsa ke dalam kamar mandi dan mengunci kamar mandinya.


Elsa langsung kaget, badannya terlihat gemeteran. Keringatnya mulai bercucuran, dia sangat takut jika Gia akan melakukan hal yang tidak-tidak.


"Ma--mau apa, kamu?" tanya Elsa terbata.


Elsa memperhatikan Gia dari atas sampai bawah, dan Elsa pun langsung menjerit saat melihat belalai milik Gia yang sudah berdiri tegak.


"Aaaaaaa,, apa itu?" teriak Elsa sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.


"Jangan teriak, nanti twins A bangun." Gia langsung mendekat Elsa, mencoba menenangkan Elsa yang terlihat sangat ketakutan.


"Ka--kamu nya jangan begitu, aku takut." Elsa masih menutup wajahnya, dia tak sanggup melihat Gia yang masih telanjang bulat.


"Sa, tolong kasih aku kesempatan. Kalau kamunya takut terus sama aku, aku gimana nyentuh kamunya?" tanya Gia prustasi.


"Itu salah kamu sendiri, kenapa dulu kamu kasar sama aku? Aku jadinya takut terus, kalau deket-deket sama kamu." Elsa pun memeberikan alasan atas sikapnya terhadap Gia.


"Aku tahu, aku minta maaf. Tapi tolong, kasih aku kesempatan." Pinta Gia tulus.


"Iya, iya. Aku akan kasih kamu kesempatan, tapi pakai handuknya dulu. Aku geli lihat itu," tunjuk Elsa pada milik Gia.


"Sudah," ucap Gia.


Elsa pun langsung membuka matanya dengan perlahan, perasaan Elsa pun langsung tenang, saat melihat Gia yang sudah memakai handuk.


"Jadi, sudah boleh cium?" tanya Gia.


Dengan ragu Elsa pun menganggukan kepalanya," boleh, tapi sebentar sa--"


Belum selesai Elsa berucap, Gia sudah menautkan bibirnya. Dia menautkan bibirnya dengan lembut, membuat Elsa nyaman dibuatnya.


Bahkan, tanpa sadar Elsa mengeluarkan nyanyian merdu dari bibirnya. Membuat Gia makin bersemangat, Gia pun mencoba mencari keberuntungannya.


Tangan Gia mulai meremat dua benda yang membuat Gia penasaran, Elsa langsung melenguh. Dia menikmati sentuhan Gia, tanpa dia sadari, dia suka.


Gia pun mulai berani menundukan kepalanya, dia ingin melihat dengan jelas dua benda yang sudah dia remat.


"Ayah, Bunda! Kalian di mana?" panggil Aurora.


"Ayah, Bunda! Aku pengen pipis," ucap Aurelia.

__ADS_1


Elsa langsung menjauhkan tubuhnya dari Gia, sedangkan Gia terlihat sangat frustrasi.


"Ayo keluar, nanti anak-anak pasti tambah berisik." Ajak Elsa.


"Yang, bagaiamana dengan ku?" tanya Gia dengan raut wajah yang menyedihkan.


Elsa hanya menggedikan kedua bahunya," Jangan lupa buat nutupin belalainya."


Elsa langsung keluar dari kamar mandi, sedangkan Gia nampak melihat ke arah belalainya yang walaupun sudah tertutup handuk, tapi tetap saja masih terlihat mengembang.


Gia pun mengambil kaos yang sudah dia simpan di keranjang kotor, lalu menutupkannya ke area pribadinya.


Gia pun setengah berlari keluar dari kamar mandi, dengan cepat dia mengambil baju dan memakainya.


Sedangkan Aurora dan Aurelia, langsung mandi. Karena mereka harus segera sarapan, sesuai titah Bundanya.


Selsai sarapan, Gia langsung memboyong istri dan kedua putrinya ke rumah Daddynya. Sebenarnya, Gia ingin membawa mereka ke rumah pribadinya.


Tapi, dia tak tega jika harus membiarkan Tuan Dirja sendirian di rumah utama.


Sampai di kediaman Pranadtja, Gia langsung mengajak Elsa ke dalam kamar mereka. Sedangkan Tuan Dirja, langsung mengajak Aurora dan Aurelia untuk melihat kamar baru mereka.


Kamar yang sudah di persiapkan khusus untuk mereka berdua, bahkan, Tuan Dirja mengundang desain interior untuk mempersiapkan kamar untuk kedua cucunya.


Agar mereka merasa nyaman, dengan kamar baru mereka.


Sampai di dalam kamar, Gia langsung menggendong Elsa dan merebahkannya di atas kasur. Dengan tak sabar, Gia langsung mengurung pergerakan istrinya.


"Ma--mau apa?" tanya Elsa.


Elsa merasa takut, karena Gia benar-benar dekat dengannya. Kalau boleh memilih, Elsa ingin kabur saja dari sana.


"Aku mau kamu, boleh?" tanya Gia.


Gia menatap Elsa dengan penuh damba, dia seakan sudah sulit untuk mengendalikan dirinya.


"Tu-tunggu dulu, aku belum siap." ucap Elsa dengan wajah yang sudah memucat.


Gia terlihat kecewa, tapi dia masih saja berusaha. Siapa tahu, dia akan beruntung, pikirnya.


"Kita coba dulu, kalau kamu merasa sakit atau tak nyaman. Kamu bisa minta berhenti," bujuk Gia.

__ADS_1


__ADS_2