
Elsa menurut, dia langsung mengikuti langkah kedua putrinya ke ruang tengah. Mata Elsa langsung membulat dengan sempurna, kala melihat banyaknya mainan yang berada di dalam ruang tengah.
"Astaga!" Elsa memekik kaget seraya menepuk jidatnya.
Dia tak menyangka jika kedua putrinya akan membelikan banyak mainan untuk calon adik mereka. Mainan dengan aneka bentuk dan model teronggok begitu saja di lantai ruang keluarga.
Ruang keluarga terlihat begitu penuh dengan mainan Babby, ada banyak boneka, mainan khas anak kecil, baju Babby, bahkan kereta dorong pun mereka sudah beli.
Elsa bahkan sangat kaget saat melihat struk belanja yang diserahkan Bu Anira padanya, memang benar kedua putrinya berbelanja dengan uang hasil mereka bekerja.
Akan tetapi, rasanya ini belum perlu. Masih banyak hal yang harus dilakukan sebelum membeli perlengkapan Babby atau pun mainannya.
Elsa ingin sekali marah, namun takut mereka kecewa. Elsa pun mengelus dadanya berkali-kali lalu mulai mengeluarkan suaranya.
"Terima kasih, Sayang. Atas semua perhatian kalian untuk Babby, nanti barang-barangnya kita pindahkan ke dalam kamar yang akan dijadikan kamar Dede." Ucap Elsa dengan susah payah menahan rasa dongkolnya.
"Sama-sama, Bunda. Kita akan jadi Kakak yang siaga, kami juga akan membelikan apa pun yang dibutuhkan oleh Dede." Ucap Aurora.
Kedua putrinya langsung memeluk Elsa dengan erat, mereka merasa senang. Karena Bundanya tak marah, tapi malah mengucapkan terima kasih.
Padahal, Bu Anira sempat berkata 'jika Bunda mereka akan marah kalau terlalu banyak membeli banyak mainan, apa lagi Dede mereka belum lahir'.
"Hem, kita juga akan selalu membantu Bunda." Ucap Aurelia menimpali.
"Ya, terserah. Sekarang kalian mandi, Bunda pengen tiduran. Capek," Elsa langsung mengecup kening Aurelia dan Aurora secara bergantian.
Kemudian, dia pun pergi ke dalam kamarnya. Dia tak menyangka, jika kedua putrinya menjadi sangat perhatian. Sayangnya, belum tepat waktunya.
Sampai di dalam kamar, Elsa langsung masuk kedalam kamar mandi. Dia merasa jika dia sangat lelah, dia capek.
Akan tetapi, badannya juga terasa sangat lengket. Setelah mengantar Dina ke Rumah Sakit, Elsa juga pergi ke swalayan untuk membeli berbagai keperluan dapur.
__ADS_1
Akhirnya Elsa pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, barulah dia akan tidur siang. Memejamkan matanya, sebelum nanti sore dia menyambut kedatangan suaminya.
Jika Elsa sedang dongkol karena ulah kedua putrinya, lain halnya dengan VB. Dia merasa dongkol karena tak bisa menjamah istrinya selama satu bulan.
Saat ini, VB sedang memeluk Dina yang sedang tidur siang. Sama halnya dengan Elsa, Dina pun telihat sangat cape. Dia bahkan tertidur dengan pulas, sedangkan VB menatap sendu ke arah Dina.
Dia merasa nasib baik seakan tak berpihak padanya, masih juga pengantin baru. Dua bulan merasakan nikmatnya bergumul di mana saja dan kapan saja, membuat VB merasa tersiksa.
Karena kini senjata laras panjangnya sudah berdiri tegak, tapi dia bisa masuk ke dalam sarangnya. Hanya bisa menatap wajah Dina dengan wajah pasrah.
"Aku merana, Yang. Kalau sebulan harus nahan kaya gini, belum juga satu hari tapi aku sudah merasa tak tahan. Padahal dulu sebelum menikah, aku belum pernah kaya gini. Giliran udah nikah, malah kesukaan banget rasanya." Keluh VB.
VB berusaha memejamkan matanya, memelum erat Dina dan menyembunyikan wajahnya di dada istrinya. Bukannya tidur, hasrat kelelakiannya malah semakin menggebu.
VB pun akhirnya memutuskan untuk bangun, dia segera berlari ke ruang Gym. Di sana, VB langsung memacu tubuhnya untuk berolah raga.
Dia berharap dengan seperti itu bisa melupakan keinginannya untuk bercinta, VB juga harus mulai bisa mengontrol hasratnya.
Kalau misalkan Dina sudah sembuh, tidak mungkin bukan jika dia akan menyerang Dina tanpa ampun. Dia sudah bertekad, jika dia tak boleh terlalu sering mengajak istrinya untuk bercinta.
"Ah... seger." VB mendaratkan bokongnya di kursi.
"VB," panggil Nyonya Miranda.
"Eh... Mom, ada apa?" tanya VB.
Nyonya Miranda nampak duduk di samping VB, kemudian dia menatap wajah putranya dengan intens.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada Dina, Sayang?" tanya Nyonya Miranda dengan raut wajah penasaran.
VB terlihat salah tingkah, dia bingung harus menceritakan seperti apa ke pada Mom'nya. Apakah dia harus bercerita tentang kebenarannya? Atau dia harus berbohong?
__ADS_1
Rasanya, dia sangat malu jika Mom'nya mengetahui jika Dina sakit ternyata karena ulahnya. Melihat anaknya yang hanya diam saja, Nyonya Miranda langsung bertanya kembali.
"VB, Mom sedang bertanya kepadamu. Kenapa kamu malah terdiam seperti itu?" tanya Nyonya Miranda.
VB terlihat sangat kaget, lalu dia pun menatap Mom'nya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sebenarnya, Dina sakit karena ulahku Mom." Jawab VB jujur pada akhirnya, karena tak mungkin dia berbohong kepada Mom'nya sendiri.
Nyonya Miranda terlihat berkerut kening, Kenapa putranya berkata jika Dina sakit karena ulahnya? Lalu, dia pun kembali bertanya kepada putranya tersebut.
"Memangnya, ada apa dengan istrimu? Kenapa dia bisa sakit seperti itu?" tanya Nyonya Miranda penasaran.
"Itu Mom, anu..." Jawab VB sambil menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa sangat gatal, lalu dengan penuh keraguan VB pun menceritakan hal yang sebenarnya.
Tentunya dia merasa menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, tak ada satu pun yang dia tutupi. Setelah mendengar cerita dari VB, Nyonya Miranda langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
diqa tidak menyangka jika gairah bercinta VB benar-benar luar biasa, dia juga sangat menyesalkan di dalam hatinya karena menantunya bisa sakit karena ulah dari anaknya sendiri.
"Kenapa kamu keterlaluan sekali? Mengikuti naluri kelelakian kamu tak apa, tapi tak begitu juga." Kesal Nyonya Miranda pada putranya.
"Sorry, Mom. Habisnya enak," jawab VB seraya mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Jujur saat VB tahu rasanya enak banget, pikiran liar VB langsung berputar-putar dengan sempurna. Dia ingin merasakan sensasi bercinta dengan berbagai macam gaya, dia ingin memuaskan senjata laras panjangnya kapan pun dia ingin.
Dia tak pernah berpikir, jika Dina akan merasa kesakitan atau malah sampai melukai liang kelembutan milik istrinya.
Karena dia pernah melihat adegan film biru, di mana di sana satu perempuan saja bisa melayani lima pria sekaligus. Makanya VB berpikir, jika Dina yang hanya melayaninya saja. pasti akan. kuat dan tak akan terjadi apa-apa dengan liang kelembutan milik istrinya itu.
Nyonya Miranda langsung memukul pundak VB dengan keras, dia kesal terhadap putranya itu.
"Dasar anak nakal! mulai nanti malam, kalian harus tidur terpisah!" Nyonya Miranda pun akhirnya memutuskan.
__ADS_1
Jeder !
VB langsung terkulai lemas.