
Pagi ini Gadis sudah terlihat ceria seperti biasanya, dia bahkan menawarkan diri kepada Pak Galuh agar dirinya saja yang pergi ke pasar untuk membeli bahan untuk memasak hari ini dan juga membeli buah-buahan.
"Pak, biar Gadis aja yang ke pasar," ucap Gadis memelas.
Pak Galuh menatap anak gadisnya, lalu dia pun tersenyum hangat.
"Biar Bapak saja, Nak. Ini sudah tugas Bapak setiap harinya," ucap Pak Galuh.
Ya, walaupun dia seorang lelaki, namun pak Galuh selalu dengan cekatan membeli apapun kebutuhan rumah tangga dan juga bahan-bahan untuk menjual sop buah.
"Tapi, Pak. Gadis kan pengen sekali-sekali pergi ke pasar untuk membeli bahan untuk memasak dan juga menawar harga saat berbelanja," ucap Gadis membalas.
Pak Galuh tersenyum saat mendengar penuturan putrinya, dia memang tak pernah mengizinkan Gadis untuk pergi ke tempat ramai.
Karena, dia tak mau putrinya itu bertemu kembali dengan pria brengsek yang sudah merenggut kesuciannya.
Namun, dia pun jadi teringat akan Ajun yang sudah membereskan akan masalah itu. Tak apa pikirnya mengizinkan, toh semuanya sudah aman.
"Baiklah, Sayang. Lakukanlah apa yang kamu inginkan, putriku sayang." Pa Galuh berucap seraya mengacak pelan rambut putrinya.
Gadis terlihat begitu senang, dia langsung menghambur kepelukan pak Galuh.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Gadis dengan riang.
"Sama-sama, Sayang." Pak Galuh segera melerai pelukannya.
"Gadis pergi dulu," pamit Gadis yang sudah tak perawan itu.
Setelah berpamitan, dia langsung menaiki motor matic kesayangannya. Dia menstarter motornya dan langsung melajukan motornya menuju pasar tradisional.
Sampai di sana, Gadis langsung membeli buah-buahan dan juga bahan makanan untuk dia masak hari ini.
Gadis terlihat begitu riang, apalagi saat tawar-menawar dengan para pedagang yang ada di sana.
Selama ini Gadis memang sering memasak di rumah, namun dia tak pernah diperbolehkan untuk ke pasar oleh pak Galuh.
Dengan perginya Gadis hari ini, dia merasa bebas dan merasa dipercaya oleh bapaknya.
Padahal biasanya pak Galuh selalu beralasan jika Gadis tak akan betah kalau pergi ke pasar, di pasar bau dan juga desek-desekan, katanya.
__ADS_1
Setelah semua keperluan terbeli, Gadis pun segera pulang kembali ke rumah sederhana yang dia tinggali bersama pak Galuh.
"Gadis pulang," ucap Gadis lantang.
Saat Gadis masuk ke dalam rumahnya, wajah ceria Gadis langsung berubah kala melihat Tuan Alfonso kini sedang duduk di ruang tamu bersama dengan pak Galuh.
Dia merasa heran dengan pria paruh baya itu, kemarin saat bertemu selalu menatapnya dengan tataan sendu, penasaran, bingung dan juga senang.
Lalu, kenapa sekarang dia malah ada di dalam rumahnya, tanyanya.
"Eh, anak perawan Bapak sudah pulang. Sini nak duduk, Bapak lagi ada tamu." Pak Galuh menepuk tempat duduk kosong di sampingnya.
Gadis terlihat tersenyum kaku, lalu di pun menolak ajkan bapaknya dengan halus.
"Nggak usah, Pak. Bapak kalau mau ngobrol-ngobrol aja, Gadis mau ke belakang aja." Gadis langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sebelum dia pergi, Gadis sempat melirik ke arah Tuan Alfonso. Namun, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Tuan Alfonso hanya tersenyum kecut menanggapi tingkah Gadis, padahal dia tak bersikap aneh, pikirnya.
Namun saat Gadis melihatnya, dia sudah seperti dipandang sebagai lelaki genit pengincar anak perawan.
" Ya, dia sangat cantik dan dia selalu membuat saya bangga," ucap pak Galuh. "Oh ya, apa tujuan Tuan datang kemari?" tanya Pak Galuh.
Dia merasa bingung, karena tiba-tiba saja ada pria bule yang bertamu sangat pagi ke rumahnya.
"Sebenarnya saya ingin menanyakan hal yang pribadi, namun tidak di sini. Bisakah nanti siang kita bertemu di suatu tempat?" tanya Tuan Alfonso.
"Untuk apa kita ketemuan di suatu tempat? Bukankah bicara sekarang juga bisa? Lagian, kita tidak saling mengenal. Saya juga harus berjualan," ucap Pak Galuh.
"Kita memang tidak saling mengenal, namun ada sesuatu hal yang harus saya tanyakan. Bagaimana kalau selepas makan siang nanti kita bertemu? Bapak bisa minta tolong Gadis untuk menunggu kedai es buah Bapak," ucap Tuan Alfonso mencoba memberi solusi.
Pak Galuh terlihat berpikir dengan keras, dia tidak mengenal lelaki yang mengenalkan dirinya sebagai Than Alfonso itu.
Namun, jika melihat sorot matanya dia bisa tahu jika Tuan Alfonso bukankah orang jahat. Tapi, tetap saja dia merasa harus waspada, bukan.
Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya pak Galuh pun menyetujui permintaan dari Tuan Alfonso.
Mungkin saja lelaki yang seumuran dengannya itu sangat membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan. Mau mengajak saya bertemu di mana?" tanya Pak Galuh.
"Bagaimana kalau kita bertemu di kantor saya saja, biar lebih leluasa untuk mengobrol." Ajak Tuan Alfonso, karena menurutnya kantor merupakan tempat yang aman.
Pak Galuh terlihat menarik nafas panjang, lalu dia mengeluarkannya secara perlahan.
"Baiklah, nanti saya akan menemui, Tuan. Silakan Tuan tinggalkan alamatnya," ucapa Pak Galuh.
Tuan Alfonso pun langsung tersenyum senang, lalu dia memberikan kartu namanya kepada pak Galuh.
"Ini kartu nama saya, di situ sudah tertera nama, nomor telepon dan juga alamat kantor saya. Nanti Bapak bisa langsung menemui saya di kantor," jelas Tuan Alfonso.
"Ya, saya akan usahakan," kata Pak Galuh.
"Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih untuk waktunya dan maaf karena saya sudah mengganggu," ucap Tuan Alfonso.
"Ya, sama-sama," ucap Pak Galuh.
Setelah berpamitan, Tuan Alfonso pun nampak pergi dari rumah sederhana tersebut. Tentu saja pak Galuh pun mengantarkan kepergian Tuhan Alfonso sampai di depan rumahnya.
Setelah kepergian Tuan Alfonso, Gadis langsung menghampiri bapaknya. Dengan tak sabar Gadis langsung menarik tangan bapaknya agar duduk dengan segera.
"Apa sih, Neng? Kenapa Bapaknya digeret-geret kaya kambing mau disembelih?" tanya Pak Galuh.
"Ih, Bapak mah kalau ngomong suka sembarangan. Gadis cuma mau nanya aja, kenapa Tuan Alfonso nemuin Bapak?" tanya Gadis penasaran.
"Kamu kenal sama Tuan Alfonso?" tanya Pak Galuh.
"Kenal, kemarin kan ikut Om Ajun. Dia salah satu rekan bisnis perusahaan Pranatdja," jelas Gadis.
"Oh," ucap Pak Galuh.
"Tuh kan cuma 'Oh' doang, Gadis pan nanya, Pak." Gadis terlihat mencubit gemas tangan Pak Galuh.
"Kamu teh udah KDRT sama Bapak, tapi Bapak tetep sayang. Tuan Alfonso cuma ngajak ketemuan, katanya ada hak yang ingin ditanyakan. Booleh kan ya, Bapak ketwmuan sama dia?" tanya Pak Galuh.
"Tapi kan, Pak. Dia orang asing," ucap Gadis.
"Apa salahnya membantu walaupun dia orang asing? Jangan suka salah menilai orang, Bapak tahu kalau kamu punya prasangka buruk sama dia," ucap Pak Galuh.
__ADS_1