Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Tetangga Baru


__ADS_3

Tadi malam Melani sudah mencari perumahan khusus untuk menengah ke bawah, karena dia sangat sadar jika uang yang dia miliki tidak banyak.


Dia bahkan sudah melihat-lihat harga dan tipe rumah yang tertera di laman internet tersebut, Melani bahkan sudah mengincar satu rumah sederhana berukuran 40.


Walaupun terlihat sederhan, yang terpenting untuknya adalah kenyamanannya dan keamanannya.


Tiba di perumahan tersebut, Melani langsung memarkirkan mobilnya. Melani pun langsung turun dan menghampiri security yang berjaga di sana.


"Selamat siang, Pak. Saya ingin membeli salah satu rumah di sini, bisa bertemu dengan pengurus perumahan di sini?" tanya Melani sopan.


Security yang sedang berjaga pun langsung tersenyum ramah ke arah Melani, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja boleh, Nyonya. Mari, biar saya antar." Security tersebut terlihat berjalan ke arah suatu bangunan yang terlihat seperti kantor.


Hanya ada 4 lantai, namun di sana banyak para pekerja. Saat security tersebut masuk, dia menyuruh Melani untuk menunggunya di lobby gedung tersebut.


''Tunggu sebentar ya, Nyonya," kata security tersebut.


Melani pun menurut, dia duduk di sofa tunggu dekat meja resepsionis. Tak lama kemudian, security tersebut nampak menghampiri Melani bersama dengan lelaki paruh baya di sampingnya.


Lelaki paruh baya tersebut nampak duduk tepat di depan Melani, sedangkan security yang tadi mengantarkan Melani nampak kembali ke pos jaga untuk bekerja.


"Selamat siang, Nyonya. Saya Ridwan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki paruh baya tersebut.


"Tentu, Tuan. Saya sedang mencari rumah tipe 40. Bisa lihat brosurnya?" ucap Melani.


"Tentu, Nyonya. Tentu saja," kata Pak Ridwan.


Lelaki paruh baya tersebut langsung memberikan brosur kepada Melani, dengan senang hati Melani pun langsung mengambil brosur tersebut.


Lalu, dia melihat-lihat harga dan bentuk bangunan yang tertera di browser tersebut. Dia juga melihat-lihat harga untuk tipe 72, ternyata di sana memang hanya ada type rumah 21, 36, 40, 60, dan 72.


Perumahan tersebut memang khusus untuk kalangan menengah ke bawah, karena memang kebanyakan perumahan yang lainnya menyediakan bangunan megah dan mewah.


Mulai dari kalangan menengah ke atas, pak Ridwan sengaja merangkul orang-orang yang punya uang sedikit, tapi ingin memiliki rumah.


Bahkan, dia menyediakan cicilan murah untuk setiap produk rumah yang dia pasarkan.


"Untuk harga rumah yang tipe 40 ini, harganya berapa Tuan?" tanya melani yang menunjuk satu gambar rumah yang terlihat sederhana namun nampak elegan


Pilihan anda sangat bagus Nyonya, rumah ini terlihat elegan dan berkelas. Walaupun sederhana, harganya 400 juta," kata Pak Ridwan.


untuk sejenak Melani pun nampak. berpikir, dia mempunyai uang 540 juta dari hasil penjualan perhiasan miliknya.

__ADS_1


Dia berpikir jika untuk membeli rumah seharga 400 juta tidak akan mengapa, sisanya yang 140 juta akan dia gunakan untuk modal Caffe yang dikelola bersama dengan Reni.


Untuk biaya sehari-hari dia akan memakai uang hasil dari keuntungan Caffe yang dikelolanya.


"Rumah yang sangat bagus ya, Tuan? Walaupun sederhana tapi saya suka, sepertinya saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan rumah ini," kata Melani.


Tuan Ridwan terlihat terkekeh mendengar penuturan dari Melani, lalu dia pun kembali berkata.


"Memang sangat bagus, apakah anda menyukainya Nyonya?" tanya Tuan Ridwan.


"Tentu, sangat," jawab Melani.


"Kalau begitu, anda jadi kan, mengambil rumah yang ini?" tanya Tuan Ridwan.


"Iya, Tuan," jawab melani.


"Untuk pembayarannya, mau cash atau kredit?" tanya Tuan Ridwan.


"Saya mau beli cash, Tuan," ucap Melani.


"Kalau anda mau membeli cash, ada beberapa keuntungan yang anda dapatkan. Ada potongan harga juga dan surat tanah akan anda dapatkan secara gratis, lalu kami pun akan memberikan beberapa furniture untuk menghiasi rumah baru anda," kata Tuan Ridwan.


"Wah, terima kasih. Anda sangat baik sekali," ucap Melani.


"Anda benar," jawab Melani.


Setelah selesai bercakap-cakap, akhirnya Tuan Ridwan pun mengajak Melani untuk melihat rumahnya secara langsung.


Melani terlihat berkeliling rumah tersebut ditemani Tuan Ridwan, Dia menyisir setiap ruangan yang ada di dalam rumah tersebut.


Melani juga bahkan sudah berencana akan membeli perabotan rumah jika senggang nanti, agar dia bisa lebih cepat pindah ke rumah barunya.


Melani juga bahkan sudah berencana untuk membeli tanaman hias, agar halaman rumahnya terlihat lebih cantik.


Setelah puas berkeliling, dia pun langsung membayar rumah tersebut secara tunai. Tuan Ridwan sangat senang mendapatkan pembeli seperti Melani, Melani tidak rewel dan banyak menawar.


"Rumah yang indah walaupun lebih kecil dari rumah Mamah, tapi aku yakin anak-anak akan suka. Apa lagi sekolahan Merrisa malah lebih dekat, jalan kaki pun hanya sebentar," ucap Melani lirih.


Setelah merasa selesai, Melani pun memutuskan untuk segera pergi dari rumah barunya tersebut.


Karena merasa tak enak hati pada Reni, sudah beberapa kali dia meminta izin. Karena harus mengurusi urusan peribadi.


Melani terlihat berjalan menuju parkiran yang tak jauh letaknya dari pos security, saat Melani tiba di sana, dia melihat Andrew yang sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Eh, Nyonya di sini juga? Sedang apa?" tanya Andrew.


"Emm, ini. Aku habis membeli rumah di sini," kata Melani.


"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Rumah saya juga ada di sini," kata Andrew. "Berarti kita tetanggaan dong!" ucapnya lagi.


Melani nampak tersenyum saat mendengar ucapan dari Andrew, dia tak menyangka jika dia akan bertetangga dengan lelaki yang beberapa kali sudah menolongnya.


"Ah, iya. Saya permisi dulu, masih ada yang perlu aku lakukan," pamit Melani.


"Ya, Nyonya," jawab Andrew.


Setelah berpamitan kepada Andrew, Melani pun segera pergi ke Caffe.


Di lain tempat, Dina yang sudah merasa lebih baik memilih untuk pulang. Karena dia merasa tak betah harus berlama-lama di Rumah Sakit, menurutnya baunya sangat tak enak.


Tiba di rumah, Nyonya Miranda sudah menunggu kedatangan mereka bersama dengan Tuan Alson menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.


"Ya ampun cucu, Kakek. Tampan sekali," kata Tuan Alson.


Tuan Alson langsung menggendong bayi tampan tersebut, dia pun langsung mengecup pipi gembil bayi yang masih berwarna merah tersebut.


"Dia mirip sekali dengan si nakal Vabriella, semoga kelakuannya tidak sekonyol Ayahnya," do'a Tuan Alson.


"Ya ampun Daddy, tega sekali kamu menjelekkan anakmu yang tampan ini!" keluh VB.


"Memang kamu sangat nakal, semoga anak kamu hanya wajahnya saja yang mirip kamu. Semoga sifatnya sama kaya Bundanya," ucap Tuan Alson lagi.


"Ya ampun!" keluh VB.


"Sudah, jangan berdebat terus! Sekarang kasih tahu Mommy, siapa nama putra kamu yang tampan ini?" tanya Nyonya Miranda.


VB langsung tersenyum, kemudian dia memeluk Mom'nya dan mengecupi pipi Mommynya dengan lembut.


"Namanya Axelle Barraq Chairil," ucap VB.


"Ck! Kenapa namanya aneh sekali?" tanya Tuan Alson.


"Bagus, Dad. Namanya bagus, artinya pembawa kedamaian yang selalu bersinar, kalau Daddy susah menyebut namanya, Daddy boleh panggil dia ABC," kata VB.


"Astaga, Vabriella! Kamu niat ngga sih ngasih nama?" kesal Nyonya Miranda.


Mendengar ocehan Mommy'nya, VB hanya nyengir kuda sambil menampilkan deretan gigi putihnya. Sedangkan Dina hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2