
"Lalu, langkah apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ajun.
"Aku ingin mengikutinya, Kak. Aku ingin memantau kegiatan mereka, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang dia lakukan dengan Nyonya Mariene. Setelah itu, baru aku akan memutuskan," jawab Melani.
Hati Ajun merasa sangat iba melihat kepedihan di mata Melani, andai saja dia tahu jika Aldino akan mengecewakan Melani dan menyakitinya sedalam ini, Ajun tidak akan membiarkan Aldino untuk menikahi Melani.
Walaupun pada kenyataannya dia memang tidak bisa menikah dengan Melani, setidaknya jangan ada lelaki yang menyakiti hati Melani.
"Baiklah, terserah pada kamu saja. Aku akan mendukung apa pun yang akan menjadi keputusan kamu, karena walau bagaimanapun juga, ada kedua keponakanku yang tak boleh kehilangan kasih sayang dari keluarganya sendiri," kata Ajun.
"Hubby!"
Ajun langsung memalingkan wajahnya ketika dia mendengar seorang wanita yang memanggilnya dengan sangat lembut.
"Sayang!" Ajun langsung bangun dan menuntun Gadis agar duduk tepat di sampingnya.
Namun, Gadis menolak. Dia malah duduk tepat di samping Melani, lalu Gadis memeluk Melani dan mengelus lembut punggung Melani.
"Yang sabar ya, Kak. Walaupun Kakak perempuan, tapi Kakak tidak boleh lemah. Kalau Kakak nanti bercerai dengan suami kamu, aku akan mengajak Kakak untuk bekerja diperusahaan Daddy," kata Gadis.
"Sayang! Kamu tidak boleh berucap seperti itu, itu sama saja dengan kamu menyuruh Melani untuk bercerai dengan Aldino," kata Ajun.
Mendengar ucapan Ajun, Gadis langsung melerai pelukannya dengan Melani. Lalu, dia menatap wajah Ajun dengan tatapan penuh kesal.
"Lelaki seperti itu tidak pantas untuk dipertahankan, Hubby. Masih banyak lelaki baik di luar sana yang pasti akan mencintai Kak Melani dengan tulus, apa Hubby tidak bisa lihat kalau Kak Melani itu cantik?" ucap Gadis dengan tatapan mata yang tajam.
Ajun dan Gia langsung meringis mendengar ucapan dari Gadis, mereka tidak menyangka jika Gadis akan berkata seperti itu.
Padahal sebenarnya mereka tak menginginkan perpisahan antara Melani dan juga Aldino, menurut mereka yang sudah berpikiran dewasa, masalah itu bisa diselesaikan dengan secara baik-baik bukan secara emosional.
"Jangan marah-marah seperti itu, Sayang. Nanti tidak baik buat calon bayi kita," ucap Ajun berusaha menenangkan Gadis.
"Oke, Hubby! Tapi, bisakah kita segera memesan makanan. Aku sangat lapar!" kata Gadis.
__ADS_1
"Ya ampun, Sayang. Semenjak hamil kamu jadi banyak makan," ucap Ajun.
"Ngga apa-apa, Hubby. Ini anak kita yang mau," ucap Gadis seraya mengelus lembut perutnya.
Ajun, Gia dan juga Melani saling tatap, kemudian mereka pun tertawa, karena menurut mereka tingkah Gadis benar-benar sangat lucu.
"Kalau kalian mau makan, lanjutkan saja. Aku pamit pulang, kasihan Elsa di rumah," ucap Gia.
"Cih! Kasihan pada Elsa, atau takut waktu berduaan dengan istrimu berkurang?" tanya Ajun mencibir.
"Kamu sangat pandai," kata Gia.
Gia lalu melenggang pergi dari Caffe tersebut, tentunya setelah berpamitan kepada Ajun, Gadis dan juga Melani. Sedangkan Gadis, Ajun dan Melani melanjutkan acara makan-makan mereka bertiga.
Pukul 7 malam, Gadis pun mengajak Ajun untuk pulang. Tentu saja Ajun pun menawarkan tumpangan kepada Melanie, awalnya Melani terlihat enggan dia takut mengganggu keintiman antara Ajun dan juga Gadis.
Namun, Gadis berkata jika dia tidak keberatan jika Melani pulang bersama dengan Ajun dan juga Gadis. Justru Gadis akan merasa senang, jika Melani ikut pulang bersama dengan dirinya.
"Baiklah, aku akan ikut pulang dengan kalian. Kamu memang sangat perhatian," ucap Melani.
Melanie sangat senang bisa bertemu dengan Gadis dan juga Ajun, karena menurutnya pasangan suami-istri itu benar-benar sangat baik terhadap dirinya.
" Jangan sungkan, Kak. Jika Kakak merasa membutuhkan bantuan, bisa langsung menghubungi aku atau pun menghubungi suamiku," kata Gadis.
"Iya, terima kasih," jawab Melani.
Mereka bertiga pun akhirnya keluar dari Caffe tersebut dan langsung disambut oleh sopir pribadi Tuan Alfonso.
Melanie langsung duduk di samping pak sopir, sedangkan Gadis dan juga Ajun duduk di bangku penumpang.
Pak sopir pun mulai melajukan mobilnya, Gadis terlihat begitu manja kepada Ajun. Dia memeluk lengan kekar Ajun dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya tersebut.
Melanie sempat memperhatikan keintiman antara Ajun dan juga Gadis lewat pantulan kaca, dia tersenyum dia merasa bahagia melihat hal itu.
__ADS_1
Dia pun jadi mengingat kala dirinya bersama Aldino, pada awal pernikahan mereka Aldino begitu baik dan romantis kepada dirinya.
Namun, semuanya berubah ketika Nyonya Mariane datang di dalam kehidupan mereka. Awalnya Tuan John yang memimpin perusahaan di mana tempat kerja suaminya.
Namun, Tuan John sekarang lebih memilih untuk mengembangkan usahanya di luar negeri. Sehingga perusahaan yang berada di ibu kota pun dipimpin langsung oleh Nyonya Mariane.
Melanie bukan tak menyadari kedekatan Aldino dan nyonya Mariene, dia sangat tahu akan hal itu. Sayangnya dulu dia berpikir jika kedekatan mereka hanyalah sebatas atasan dan juga bawahan.
Dia juga sering melihat Nyonya Mariene mengajak Aldino makan di Restoran mewah, bahkan Nyonya Mariene sering mengajak Aldino untuk pergi ke luar kota dengan alasan ada pekerjaan.
Namun, Melanie bukan wanita yang bodoh. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan saat malam hari tiba, tidak ada klien gila yang mengajak kerjasama di saat malam hari tiba.
Baru saja mereka melakukan perjalanan selama 8 menit, tiba-tiba saja Gadis menyuruh pak sopir untuk memberhentikan mobilnya.
"Berhenti, Pak. Berhenti," ucap Gadis.
Ajun sampai kaget dibuatnya, begitu pula dengan Melani dan pak sopir.
"Ada apa, Yang?" tanya Ajun.
"Lihat itu, Hubby. Di sana ada Aldino sama cewek cantik," ucap Gadis seraya menunjuk kearah sebuah hotel berbintang.
Tatapan Ajun dan juga Melani pun langsung tertuju ke arah yang ditunjuk oleh Gadis, di sana terlihat Nyonya Mariene dan juga Aldino baru saja turun dari mobil mewah milik Nyonya Mariane.
Mereka terlihat bergandengan dengan mesra, tak lama mereka pun terlihat masuk ke dalam hotel berbintang tersebut.
Ajun sampai geleng-geleng kepala dibuatnya, penampilan mereka terlihat sangat rapi. Mungkin saja mereka sedang menghadiri acara di sana.
"Aku harus bagaimana, Kak?" tanya Melani.
"Terserah kamu saja, kamu mau pulang dan langsung menggugat cerai suamimu silakan. Mau mengikuti suamimu dan melihat apa yang dilakukan olehnya, ya silakan. Atau kamu lebih memilih diam dan menerima semuanya serta berpura-pura untuk tidak tahu, ya silakan," ucap Ajun.
"Kalau begitu aku akan mengikuti suamiku, aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang dia lakukan bersama dengan selingkuhannya itu?" ucap Melani.
__ADS_1