Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Merrisa Ulang Tahun


__ADS_3

Sudah satu minggu Melani tidak pergi ke Caffe, hari-hari dia habiskan untuk menemani kedua buah hatinya. Dia benar-benar menjadi ibu rumah tangga saat ini.


Bahkan Nyonya Mesti pun jarang datang, dia sengaja memberikan waktu untuk Melani agar bisa menikmati harinya bersama dengan kedua buah hatinya.


Sesekali Aldino juga datang, dia berkata jika dia rindu terhadap kedua buah hatinya. Namun, dia malah berusaha untuk merayu Melani agar mau rujuk dengan'nya.


Sayangnya rasa sakit hati dan rasa kecewa yang Melani rasakan sangat dalam, sehingga sangat sulit untuk dirinya membuka hati untuk Aldino.


Sore ini Merissa meminta untuk makan malam di Resto, karena hari ini dia sedang berulang tahun.


Melani pun menuruti keinginan putrinya, lagi pula Fajri pun sudah sehat. Wajahnya sudah lebih ceria kembali, bahkan Fajri sudah kembali berceloteh.


"Buna, Kakak sudah siap." Merissa terlihat memutarkan tubuhnya.


Dia memperlihatkan gaun indah hadiah dari Nyonya Mesti, terlihat sangat cantik dan pas sekali saat dipakai di tubuh jangkung Merissa.


"Kamu cantik banget, Buna juga sudah siap." Melani langsung menggendong Fajri dan menuntun Merissa agar segera berangkat, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Sepanjang perjalanan menuju Resto, Merissa terlihat menceritakan hal-hal yang dia alami di sekolah hari ini. Dari mulai A-Z, dia seolah tak bisa menceritakan semuanya.


Dia terlihat begitu senang dan juga riang, karena banyak temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.


Bahkan, ada juga beberapa temannya yang memberikan kado kepada Merissa. Melani pun dengan begitu sabar mendengarkan celotehan putrinya tersebut.


Tiba di Resto, kembali Melani menggendong Fajri dan menuntun Merissa. Dia mengajak kedua buah hatinya untuk segara masuk kedalam Resto tersebut.


"Mau pesan apa?" tanya Melani pada Merissa setelah mereka memilih tempat duduk.


Untuk sesaat Merissa nampak berpikir, namun tak lama kemudian dia pun mengutarakan keinginannya.


"Mau pesan ayam goreng, kentang crispy, cake strawberry dengan taburan kacang almond, sama jus mangga juga," kata Merissa.


Mendengar penuturan putrinya, Melanie nampak tertawa. Sedangkan Fajri, hanya bisa memperhatikan wajah Merissa dan juga Melani secara bergantian.


"Ya ampun, Sayang. Kalau cuma mau makan itu, kenapa harus ke Resto? Kita bisa makan di rumah saja, Buna bisa buatkan kalau cuma makanan seperti itu," ucap Melani.


"Beda, Buna. Beda sensasinya," jawab Merissa seraya tersipu.


Melani langsung tertawa, kemudian mengacak pelan rambut Merrisa. Dia merasa gemas dengan tingkah putri pertamanya itu.


"Wah, kalian sepertinya sedang asik. Boleh gabung ngga?"

__ADS_1


Mendengar ada yang bertanya, Melani pun langsung mendongakkan kepalanya. Dia melihat Gadis yang sedang memeluk lengan Ajun dengan sangat manja.


Di sebelah Gadis ada Gia yang sedang merangkul Elsa dengan posesif dan tak jauh dari Gia ada seorang lelaki yang 1 minggu yang lalu menyelamatkan putranya, Fajri.


"Eh, kok kalian ada di sini?" tanya Melani.


"Iya nih, kita sengaja ngumpul karena si bujang lapuk lagi ulang tahun," ucap Gia.


Lelaki yang disebut bujang lapuk oleh Gia yang tak lain adalah dokter Irawan, langsung memukul pundak Gia dengan cukup keras.


Hal itu membuat Gia nampak meringis kesakitan, Elsa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang sahabat itu.


"Sudah jangan berdebat!" kata Ajun.


Ajun yang selalu berwajah datar itu langsung menengahi perdebatan antara Gia dan juga dokter Irawan.


"Ck! Gue kesel saja sama dia, selalu saja mulutnya ngga bisa direm," kata Dokter Irawan.


Walaupun dokter Irawan adalah orang yang paling tua di antara Ajun dan juga Gia, namun dia terlihat lebih manja.


"Dari pada elu, itunya yang ngga bisa direm," kata Gia seraya menunjuk milik dokter Irawan dengan ekor matanya.


"Sinting!" kata Dokter Irawan.


Karena pada dasarnya, dia pun hanya lelaki biasa yang akan langsung tergoda jika melihat wanita cantik dan seksi dan datang untuk merayunya.


Namun, miliknya juga tak akan bangun begitu saja jika dia tidak menyukai lawan jenis yang datang untuk merayunya.


"Sudah-sudah, mending kita ke tempat yang sudah kita pesan saja. Kak Mel juga ikut kita saja," ajak Gadis.


"Tapi, kita di sini saja," tolak Melani.


Melanie rasanya merasa tak enak hati, jika dia harus berkumpul dengan kumpulan orang kaya tersebut.


"Ngga apa-apa, kita bareng saja." Gadis terlihat melepas pelukannya, dari suaminya.


Lalu, dia pun merangkul pundak Merrisa dan menuntunnya untuk segera masuk ke ruang privat yang sudah dipesan oleh Gadis bersama dengan Ajun.


Mereka akan makan malam bersama untuk merayakan hari ulang tahun si dokter mesumm yang selalu bergonta-ganti wanita.


Tiba di ruang private tersebut, Merissa dan juga Fajri terlihat begitu ceria karena di sana tersedia banyak makanan dan juga camilan.

__ADS_1


Gadis dan juga Elsa terlihat begitu senang melihat reaksi kedua buah hati dari Melani, mereka terlihat sangat menggemaskan.


"Oh... melihat kalian aku jadi rindu kepada Baby Adelia dan juga kedua putriku," kata Elsa.


"Tenang, Sayang. Mereka anteng di rumah," kata Gia.


"Mas sih, nggak bolehin aku buat bawa ketiga putri kita," kata Elsa seraya mencebikkan bibirnya.


"Bukan begitu, Sayang. Masalahnya yang ulang tahun itu si bujang lapuk yang kamu tahu kalau ngomong nggak pernah bener, aku takut ketiga putri kita akan terkontaminasi bahasanya yang tidak benar itu," kata Gia.


Mendengar ucapan Gia, dokter Irawan langsung mengambil satu kotak tisu dan melemparnya ke arah Gia.


"Kampret!" umpat Gia.


"Elu juga ngomongnya sembarangan," kata Dokter Irawan.


Melihat perdebatan antara dokter Irawan dan juga Gia, Fajri nampak tertawa dengan terbahak.


Melanie merasa senang saat melihat hal itu, karena Fajri memang sudah jarang terlihat tertawa dengan lepas seperti itu.


Dokter Irawan bahkan langsung menatap Fajri dan menghampirinya.


"Wah! Anak ganteng rupanya sudah sembuh ya, ketawanya sampai lepas seperti itu," kata dokter Irawan.


"Om doktel lucu, Aju suka," kata Fajri.


"Ish! Om kan, Dokter. Bukan pelawak, masa lucu?" kata Dokter Irawan dengan wajah cemberut, Fajri kembali tertawa.


Fajri terlihat tertawa dengan sangat lepas, namun di sela tawanya dokter Irawan bisa melihat luka yang sangat besar di matanya.


Anak itu terasa terabaikan dan merasa kurang kasih sayang, begitu pun saat melihat Merissa.


Matanya menyiratkan banyak luka dan wajahnya pun terlihat tertekan, namun anak itu berusaha tegar, mungkin demi ibunya.


Pandangan dokter Irawan kini beralih kepada Merissa, kemudian dia pun bertanya kepadanya.


"Oh ya, cantik. Kamu terlihat sangat cantik malam ini, baju yang kamu pakai juga terlihat sangat bagus. Apakah kamu yang mempunyai acara malam ini?" tanya dokter Irawan.


"Iya, Om Dokter. Hari ini aku ulang tahun, aku meminta Bunda untuk makan di Resto. Karena aku ingin makan ayam goreng, kentang goreng, cake strawberry bertabur kacang almond dan juga jus mangga." Merissa terlihat menceritakan hal tersebut dengan wajah berbinar.


Dokter Irawan tertawa, Merissa memang terlihat seperti anak remaja. Karena tubuhnya yang lebih tinggi daei anak seusianya, namun tetap saja dia masih terlihat sangat polos. Bahkan, ucapannya pun benar-benar khas anak-anak.

__ADS_1


"Sama dong, Sayang. Om pun hari ini ulang tahun, ternyata kita samaan ya hari ulang tahunnya. Kalau begitu... karena kamu ulang tahun, kamu boleh memesan makanan apa pun yang kamu inginkan. Nanti, Om yang traktir," ucap Dokter Irawan.


__ADS_2