Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Diantar Pulang


__ADS_3

Merissa terlihat sangat bahagia sekali, dia bahkan benar benar memesan makanan apa pun yang dia inginkan.


Awalnya Melani terlihat tidak memperbolehkan Merissa unruk makan banyak, karena rasanya tidak sopan mengiyakan ucapan dokter Irawan.


Walaupun Melani sangat tahu jika dokter Irawan melakukan hal itu karena merasa senang, mempunyai hari lahir yang sama dengan Merissa. Sehingga dokter Irawan mentraktir semua makanan yang diinginkan oleh Merissa.


Merissa bahkan terlihat sangat akrab dengan dokter Irawan, mereka mengobrol dan bercanda bersama.


Bahkan dokter Irawan pun mengajak Fajri untuk mengobrol bersama, mereka bertiga sudah seperti ayah dan juga anak.


Mata Melani terlihat berair kala melihat pemandangan seperti itu, andai saja Aldino yang berada di posisi seperti itu, pasti dia akan sangat senang.


Walaupun pada kenyataannya mereka tidak lagi bersama dalam membina rumah tangga, dokter Irawan sempat melirik ke arah Melani, lalu dia pun memberikan selembar tisu.


Melanie tersenyum dan menerima tisu tersebut, dia menyeka air matanya yang sudah mulai jatuh.


Dokter Irawan malah terlihat asyik dengan kedua buah hati Melani, berbeda dengan Gia terlihat lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Elsa.


Dia seperti sengaja memanfaatkan waktu yang ada untuk bisa berduaan dengan istrinya tersebut, begitu pun dengan Ajun dan juga Gadis.


Mereka sibuk dengan kegiatan mereka berdua, dokter Irawan sempat mendengus sebal ketika melihat kedua sahabatnya malah asyik bercengkerama bersama dengan istrinya.


Padahal merekalah yang mengajak dokter Irawan untuk janjian di Resto tersebut, dengan alasan untuk merayakan hari jadi dokter Irawan yang ke tiga puluh lima tahun.


Beruntung ada Melani dan kedua buah hatinya, hal itu membuat dokter Irawan sangat senang karena akhirnya dia di sana tidak menjadi obat nyamuk.


Namun, dia bisa merasakan kebahagiaan bersama dengan kedua buah hati Melani. Dokter Irawan memang sangat menyukai anak kecil, maka dari itu dia bisa langsung mengakrabkan diri bersama dengan Merissa dan juga Fajri.


Di saat sedang asyik bercengkerama, Gia memanggil pelayan untuk membawakan kue pesanannya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan pun datang dengan membawa kue ulang tahun di tangannya.


Kue yang terlihat sangat cantik dengan lelehan coklat dan taburan kacang almond di atasnya.


Di atas kuenya bahkan terdapat lilin angka 35, dokter Irawan memang senang mendapatkan kejutan tersebut. Namun, dia juga terlihat kesal karena tertera usianya di sana.


"Ck! Tidak bisakah kalau lilinnya berbentuk lilin panjang saja?" tanya Dokter Irawan.


"No!" jawab Gia dan Ajun secara bersamaan.


"Masih mending angka usianya bener, tahun lalu elu ngasih lilin angkan 40 di kue ulang tahun gue," kata Gia.


"Yayaya, terserah," ucap Dokter Irawan pada akhirnya.


Melihat angka usia dokter Irawan di atas kue ulang tahunnya, membuat Melani bertanya-tanya.


Pasalnya saat mengobrol tadi dokter Irawan sempat berbicara, jika dia seangkatan dengan Ajun. Sedangkan Ajun saja berusia 33 tahun, kenapa dokter Irawan bisa lebih tua 2 tahun dari Ajun.


Ajun seakan paham dengan raut wajah Melani, dia seakan tahu jika Melani merasa aneh dengan usia dokter Irawan. Ajun pun lalu berkata.

__ADS_1


"Kamu pasti aneh kan, Mel, saat tahu jika usia Irawan yang lebih tua 2 tahun dariku?" tanya Ajun.


"Iya, Kak," jawab Melani.


"Itu karena dia bodoh, makanya tidak naik kelas selama dua tahun," jawab Gia.


Setelah mengatakan hal itu, Gia terlihat tertawa dengan terbahak, sedangkan dokter Irawan langsung memukul pundak Gia.


"Sialan!" kata Dokter Irawan. Tatapan mata dokter Irawan lalu beralih pada Melani. "Aku pindahan dari Australia, saat pulang tak membawa berkas yang lengkap. Makanya harus mengulang dari kelas satu, padahal saat itu aku sudah kelas tiga," jawab Dokter Irawan.


"Makanya ngga usah kabur-kaburan," kata Gia.


"Gi, elu tahu kan, alasan gue kabur?" tanya Dokter Irawan.


"Sorry," kata Gia.


Setelah sempat terjadi perdebatan antara Gia dan juga dokter Irawan, akhirnya Ajun, Elsa, Gadis, Melani dan juga ke dua buah hatinya menghentikan perdebatan itu dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk dokter Irawan.


Dokter Irawan nampak terharu mendengar semua orang yang ada di ruangan tersebut bernyanyi untuknya.


Bahkan yang membuat dokter Irawan terharu, ternyata Gia dan juga Ajun memberikan kado spesial untuk dirinya.


Tentu saja yang lebih spesial lagi adalah do'a dari kedua sahabatnya tersebut.


"Selamat ulang tahun, semoga tahun ini elu dapet jodoh." Gia terlihat memeluk Dokter Irawan.


Ajun kemudian menghampiri doktor Irawan dan memeluknya seraya menepuk pundaknya dengan pelan.


"Selamat ulang tahun, semoga Tuhan mengirimkan wanita yang baik sebagai jodoh elu. Jangan bermain-main lagi dengan kehidupan, segeralah berumah tangga. Karena, berumah tangga itu enak," ucap Ajun seraya tergalak.


"Ck!" hanya ada decakan yang keluar dari mulut Dokter Irawan.


"Aminkan, Dok. Siapa tahu do'anya mujarab," kata Melani.


"Aamiin," kata Dokter Irawan seraya senyum yang dipaksakan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dokter Irawan merasa kasihan saat melihat Merissa yang sudah tertidur di atas sofa.


Begitu pun dengan Fajri yang terlihat tertidur dengan lelap di atas pangkuan Melani, sepertinya Melani sudah sangat ingin pulang. Namun dia merasa tak enak hati, karena acaranya belum juga selesai.


Akhirnya, dokter Irawan pun berinisiatif untuk menyudahi pertemuan mereka.


"Sepertinya kita harus segera pulang, karena hari sudah semakin malam," ucap dokter Irawan.


"Iya, elu bener. Gadis juga tak boleh terlalu lama di luaran, karena dia sedang mengandung," ucap Ajun seraya mengelus perut Gadis yang sudah mulai menonjol.


"Kalau begitu kita pulang saja," ucap Gia.


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang, Gia terlebih dahulu pulang dengan Elsa. Lalu, disusul oleh Ajun dan juga Gadis.

__ADS_1


Dokter Irawan merasa kasihan kepada Melani, karena kedua buah hatinya tengah tertidur dengan lelap.


Lalu, dia pun berinisiatif untuk mengajak Melani pulang bersama dengan dirinya.


"Kamu pulang bareng aku saja, tidak mungkin bukan kalau kamu pulang dengan membawa kedua buah hati kamu yang tertidur," usul Dokter Irawan.


"Tapi, Dok. Aku membawa mobil," kata Melani.


"Kalau begitu biar aku saja yang membawa mobil kamu," kata Dokter Irawan.


"Lalu, bagaimana dengan mobil Dokter?" tanya Melani.


"Gampang, nanti biar aku akan menyuruh orangku untuk membawa mobil aku pulang," kata Dokter Irawan.


Awalnya Melani terlihat enggan, namun karena dia memang benar-benar kerepotan akhirnya dia pun mengiyakan.


Dokter Irawan pun dengan sigap langsung menggendong tubuh jangkung Merissa, sedangkan Melani terlihat menggendong Fajri.


Tiba di parkiran, Melani pun langsung membukakan pintu mobilnya. Dengan cepat dokter Irawan pun menidurkan tubuh Merissa di kursi penumpang.


Lalu, dokter Irawan pun masuk ke dalam mobil Melani dan duduk di balik kemudi. Disusul oleh Melani yang duduk tepat di samping dokter Irawan sambil menggendong Fajri.


Setelah melihat Melani memasang sabuk pengamannya dengan benar, dokter Irawan pun langsung melajukan mobil milik Melani menuju perumahan yang di tempati oleh Melani.


Tentu saja setelah dokter Irawan menanyakan terlebih dahulu alamat rumah Melani, sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam.


Sesekali dokter Irawan memperhatikan raut wajah Melani, dokter Irawan bisa melihat luka yang begitu dalam di mata Melani.


Dia merasa iba dengan perempuan rapuh yang berusaha tegar tersebut, namun dia pun tak berani untuk bertanya atau pun mengeluarkan kata-kata apa pun dari mulutnya.


Tak lama kemudian, mobil yang dia kendarai pun berhenti tepat di depan rumahnya Melani. Melani langsung turun dan segera membuka pintu rumahnya, dengan cepat dokter Irawan pun turun lalu menggendong Merissa dan membawanya ke dalam rumah Melani.


Setelah menidurkan Merisa di dalam kamarnya, dokter Irawan pun langsung berpamitan untuk pulang.


Tentu saja Melani pun langsung mengantarkan dokter Irawan sampai depan rumahnya.


"Saya pamit pulang," kata Dokter Irawan.


"Ehm, itu pulangnya Dokter pake apa?" tanya Melani tak enak hati.


"Jalan kaki saja, kan deket," jawab Dokter Irawan.


"Maaf, karena saya anda jadi repot, Dok," ucap Melani tak enak hati.


"Tidak apa-apa, saya senang bisa mengantarkan kalian pulang. Lagian pulang dengan berjalan kaki, kan, sehat," kata Dokter Irawan seraya terkekeh.


Setelah berpamitan, dokter Irawan nampak pergi dari rumah Melani. Saat Melani hendak masuk ke dalam rumahnya, tanpa sengaja dia melihat Andrew yang berada di halaman rumahnya.


Dia nampak memandang Melani dengan tatapan mata yang begitu sulit untuk diartikan.

__ADS_1


__ADS_2