Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Elsa Koma


__ADS_3

Gia sedang duduk di bangku tunggu, tangannya menggenggam erat tangan Elsa. Sudah satu minggu Elsa koma, matanya terus terpejam seperti tidak ingin terbuka lagi.


Gia nampak menangis, dia merasa tak tahan dengan situasi seperti ini. Apa lagi jika mengingat keadaan putranya yang begitu lemah.


Karena terlahir prematur, bayi berjenis kelamin lelaki itu harus mendapatkan perawatan khusus. Bahkan di seluruh bagian tubuhnya terdapat alat medis.


Gia bahkan sempat mengira baby boy itu tidak akan bisa bertahan, karena saat dia lahir, bayi itu tidak mengeluarkan suara sama sekali.


Bahkan baby boy itu sempat tak bernapas, beberapa saat setelah dia dilahirkan. Gia sempat panik, dia bingung.


Apakah harus mengikuti Elsa yang langsung dibawa ke ruang perawatan? Atau harus menemani putranya yang sedang dalam penanganan?


Dengan berat hati Gia memutuskan untuk menunggui putranya, bahkan hampir satu jam lamanya putranya itu bisa bernapas dengan normal setelah mendapatkan penanganan.


"Aku sudah bilang, Sayang. Tidak perlu kamu hamil lagi, bukannya aku tidak menginginkan seorang keturunan lagi. Jujur aku takut, saat kamu mengandung Baby Adelia saja kamu harus terkena tusukan di perut kamu." Gia menangis tersedu.


Gia merasa sangat menyesal sudah menyetujui keinginan istrinya, andai saja waktu bisa diulang, pikirnya. Sayangnya semua sudah terjadi, Gia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Dokter berkata keadaan Elsa sangat lemah, dokter bahkan memperkirakan jika sebelum Elsa mengalami kontraksi dia sempat terjatuh.


Karena saat melakukan pemeriksaan, dokter mendaatkan luka lebam di pinggang kanan Elsa. Mungkin karena saat itu Gia sedang sibuk dengan proses pemakaman tuan Dirja, sehingga dia tidak mengetahui jika Elsa telah terjatuh.


Hal itulah yang menyebabkan Elsa harus melahirkan saat usia kehamilannya baru dua puluh delapan minggu.


"Sayang, bangun. Katanya kamu mau punya anak cowok, kamu ngga mau lihat putra kita? Dia tampan, mirirp sepertimu. Tapi dia sangat lemah, dia butuh asi kamu, Sayang." Gia mengecupi punggung tangan istrinya.


Hidup Gia seakan hancur, dikala sang daddy berpulang, disaat itu pula sang istri harus mengalami hal buruk yang membuat hidup Gia merasa tidak tenang.


Dia tatap wajah pucat istrinya dengan penuh cinta, dia kecup keningnya dengan penuh kasih. Lalu, Gia berkata.


"Aku ingin menemui putra kita dulu, aku ingin melihat perkembangannya. Bangunlah, Sayang. Dia membutuhkan kamu," pamit Gia.


Gia mengecup kening Elsa, lalu dia pergi menuju ruang perawatan putranya. Gia terlihat menangis, kala melihat kondisi putranya yang terlihat memperihatinkan.


Beratnya bahkan hanya 1800 gr, panjangnya hanya 25 cm. Benar-benar terlihat mungil, kulitnya terlihat putih bersih. Namun, sangat pucat.

__ADS_1


"Baby Boy, maafkan Ayah. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa," kata Gia.


"Bersabarlah dan berdo'a, kamu pulanglah dulu. Kamu pasti sangat lelah, ingat... masih ada Aurora, Aurelia dan juga Adelia yang membutuhkan kamu. Biar Ibu yang menjaga Elsa di sini," ucap Bu Anira.


Bu Anira memang selalu datang untuk menemui Gia menjaga Elsa dan juga cucunya.


Awalnya dia tidak ingin meninggalkan Elsa beserta putranya di Rumah Sakit dia ingin menunggui kedua orang terkasih di dalam hidupnya tersebut.


Namun, benar kata bu Anira, jika di kediaman Pranadtja masih ada tiga perempuan cantik yang membutuhkan dirinya. Akhirnya dia menyetujui usulan dari bu Anira.


"Baiklah, Bu. Gia pulang terlebih dahulu jika ada apa-apa tolong beritahukan kepada Gia," ucap Gia.


Bibir Gia mengatakan jika dia hendak pulang, namun hatinya terasa berat sekali untuk meninggalkan istri dan juga putranya yang tergolek lemah.


Tatapan matanya terus saja tertuju pada tubuh mungil babynya.


"Iya, pergilah. Elsa dan putramu biar ibu yang jaga," jawab Bu Anira.


Setelah berpamitan kepada bu Anira, Gia langsung pulang menuju kediamannya Pranatdja.


Tak ada raut keceriaan yang selalu ditampilkan di wajah putri kembarnya, Gia langsung menghampiri kedua putrinya dan menarik mereka ke dalam pelukannya.


Mendapat pelukan dari ayahnya, baik Aurora atau pun Aurelia langsung menangis. Mereka seakan tak kuasa menahan rasa sedih karena melihat kondisi bundanya yang tergolek lemah.


Melihat kedua putri kembarnya menangis, Gia pun langsung ikut menangis. Dia benar-benar sedih, dia benar-benar merasa jika hidupnya sedang diuji.


Mulai dari meninggalnya sang daddy, Elsa yang tiba-tiba melahirkan prematur dan langsung koma, bahkan sampai putra mereka kini terlihat begitu memperihatunkan. Benar-benar ujian yang luar biasa, pikirnya.


Mereka bertiga menangis seraya berpelukan, sesekali Gia terlihat mengecup kening Aurora dan Aurelia secara bergantian. Aurora lalu menatap ayahnya dan mengusap air matanya yang terus mengalir.


"Jangan menangis, Ayah. Karena Ayah harus jadi penguat untuk kami," ucap Aurora.


Gia nampak tersenyum, kemudian dia mengacak pelan rambut Aurora.


"Ayah tidak menangis, Ayah hanya kelilipan," ucapnya berkilah.

__ADS_1


Aurelia terkekeh dengan air mata yang terus berurai, lalu dia mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar butuh Gia sebagai penguat hidupnya.


"Tolong sembuhkan bunda, Ayah. Jangan biarkan bunda tidur terlalu lama, kami sudah rindu," ucap Aurelia.


"Ya, Ayah akan berusaha," ucap dia seraya mengeratkan pelukannya kepada kedua putrinya tersebut.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya mereka mengurai pelukannya karena waktu sudah hampir malam.


"Kalian beristirahatlah, ini sudah larut," ucap Gia dengan nada perintah.


"Ya, Ayah," ucap Aurora dan Aurelia secara bersamaan.


Aurora dan Aurelia langsung mengecup pipi kanan dan kiri ayahnya, kemudian mereka pun masuk ke dalam kamarnya.


Selepas kepergian kedua putrinya, Gia langsung masuk ke kamar baby Adelia. Balita berusia dua tahun itu nampak tidur dengan lelap ditemani oleh babysitternya.


Kembali air mata Gia Luruh begitu saja, dia merasa sangat sedih karena di usia baby Adelia yang baru saja berusia dua tahun harus berpisah sementara dengan bundanya.


Gia nampak menghampiri baby Adelia, dia mengecup kening baby Adelia dengan lembut lalu mengusap puncak kepalanya.


"Semoga bunda bisa cepat sembuh, Sayang. Biar kita bisa berkumpul lagi dengan bunda," kata Gia.


Bibirnya terlihat tersenyum, namun air matanya terus saja berurai. Dia benar-benar tidak bisa menahan rasa sedihnya kali ini.


Setelah puas memandang wajah baby Adelia, Gia memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.


Gia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, lalu segera merebahkan tubuhnya. Dia sudah lelah, satu minggu ini dia benar-benar kurang tidur. Dia, ingin istirahat untuk sejenak.


*


*


Selamat sore, kesayangan. Happy weekend, semoga kalian bahagia selalu.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, like, vote, coment, rate, dan juga hadiahnya. Yang banyak ya gengs, i love you ....

__ADS_1


__ADS_2