
Setelah terjadi drama pagi, akhirnya semuanya terselesaikan. Gia dan juga Elsa terlihat sudah siap dan rapi setelah lima belas menit kemudian.
Saat Elsa dan juga Gia keluar dari kediaman Pranatdja, Ajun, dokter Irawan dan juga VB langsung mengolok-ngolok Gia.
"Cie yang abis buka puasa," kata Ajun saat melihat rambut Gia yang masih basah.
"Ehm, ampe kalap," timpal VB seraya memperhatikan mata Gia yang menghitam karena kurang tidur.
"Ampe lupa segalanya," kata Dokter Irawan seraya terkekeh.
Wajah Elsa nampak mamerah kala mendengar ucapan dari ketiga sahabat dari suaminya tersebut, berbeda dengan Gia yang nampak biasa saja.
Apa lagi ketiga sahabatnya pun sudah merasakan bagaimana tersiksanya puasa selama empat puluh hari, mereka tak berani berdekatan dengan sang istri karena takut khilaf.
Dia juga sangat tahu jika ketiga temannya pasti merasakan bagaimana nikmatnya buka puasa setelah empat puluh hari berpuasa, benar-benar seperti menemukan oase di gurun pasir.
Gia yang tidak ingin mendengarkan ucapan ketiga pria tampan yang merupakan sahabatnya, langsung berkata.
"Sudah jangan berisik, ayo kita berangkat!" kata Gia.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Gia, baik Ajun, VB ataupun dokter Irawan terlihat mencebikkan bibirnya ke arah Gia.
"Untung bos kita yang telat, coba kalau salah satu diantara kita, pasti bos kita ini akan marah-marah," kata Dokter Irawan.
Itulah Gia, selalu tidak suka terhadap orang yang telat. Namun sendirinya bahkan sering lupa kalau tidak diingatkan.
"Mas!" kata Anita seraya menggelengkan kepalanya.
Anita merasa bingung, karena setiap bertemu dengan para sahabatnya, mereka seperti saling menjatuhkan. Namun, pada kenyataannya mereka begitu saling menyayangi.
"Apa sih, Yang? Mas cuma mengatakan yang sebenarnya," ucap Dokter Irawan seraya merangkul pundak istrinya, lalu dia melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibir istrinya tersebut.
"Pamer!" seru VB.
Mendengar ucapan VB, pria termuda yang ada di antara mereka, dokter Irawan tampak terkekeh.
"Sudah jangan ngiri, ayo kita berangkat," ucap Ajun saya mendorong pundak VB.
Akhirnya mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan segera pergi menuju Bandara, karena sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan segera berangkat.
*/*
Setelah melakukan penerbangan selama hampir dua jam, akhirnya mereka pun tiba di Bandar Udara Ngurah Rai Bali.
"Akhirnya," ucap Gadis seraya merentangkan kedua tangannya.
"Sampai juga di pulu dewata," kata Dina seraya memeluk pinggang VB.
__ADS_1
"Ehm, kita bisa sekalian bikin dede buat adiknya baby ABC," bisik VB.
"Ish, kamu tuh!" kata Dina seraya mencubit tangan VB.
"Sakit, Yang," ringis VB.
"Sudah jangan berdebat, kita nikmati hari ini. Ayo?" ajak Elsa.
Pada akhirnya keempat pasangan pengantin basi itu pun nampak asik berjalan menuju keluar dari Bandara, sedangkan para babysitter nampak sibuk menggendong baby dan balita mungil dalam gendongannya.
Aurora dan Aurelia nampak berjalan santai diiringi bu Anira, mereka terlihat berjalan seraya bersenandung ria.
Saat mereka keluar dari Bandara, 4 buah mobil mewah sudah menunggu kedatangan Gia beserta para sahabatnya.
Dengan semangat mereka pun langsung menaiki mobil tersebut dan segera pergi ke Villa yang sudah di sewa oleh Gia.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di Villa. Semua orang yang datang nampak berdecak kagum saat melihat keindahan yang begitu sedap dipandang mata.
"Indah ya, Mas." Elsa memeluk lengan kekar suaminya.
Dia sangat senang karena suaminya mengajak Elsa untuk berlibur, bahkan dia juga sengaja mengajak semua teman dan anak istrinya untuk menikmati liburan bersama.
"Ya, tapi sekarang kamu harus istirahat dulu. Kasihan baby Al, dia perlu asi," kata Gia.
Mengingat selama di pesawat baby Al selalu bersama pengasuh, Elsa merasa rindu ingin menyusuinya sambil merebahkan tubuhnya.
Gia tersenyum, lalu dia mengacak pelan rambut istrinya.
"Iya, Sayang. Apa pun yang membuat kamu bahagia, lakukanlah!" kata Gia.
"Yes!" kata Elsa.
Elsa langsung melompat ke dalam pelukan Gia, dengan sigap Gia menangkap tubuh istrinya yang kini mulai terisi kembali setelah mengalami koma.
"Turunlah, malu sama keempat anak kita," kata Gia.
"Iya, Mas," jawab Elsa seraya turun dari tubuh suaminya.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gia, Elsa langsung membawa baby Al masuk ke dalam kamarnya dan menyusuinya. Sedangkan Gia nampak langsung berkumpul di balkon sambil menikmati secangkir kopi dan juga camilan.
Para pria terlihat berkumpul, sesekali mereka tertawa dan melemparkan candaan konyol.
Berbeda dengan Dina, Gadis dan juga Anita. Mereka terlihat mengajak putra-putri mereka untuk bermain di ruang tengah.
Padahal mereka merasa lelah, namun tidak dengan putra-putri mereka yang seakan menuntut untuk terus bermain.
*/*
__ADS_1
"Ayah!"
Aurora dan Aurelia nampak menghampirinya, mereka langsung memeluk Gia dari samping kanan dan kirinya, kemudian mereka menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya tersebut.
Gia sudah sangat hafal jika kedua putrinya bertingkah seperti itu, hal itu menandakan jika kedua putrinya sedang menginginkan sesuatu.
"Ada apa, hem? Katakan saja! Ayah tahu kalian pasti sedang merayu Ayah," kata Gia.
Mendengar pertanyaan dari Gia, Aurora dan Aurelia nampak menampilkan deretan gigi putihnya.
"Ayah memang hebat," kata Aurora.
"He'em, selalu saja bisa menebak apa yang aku inginkan," kata Aurelia.
Gia terlihat menggelengkan kepalanya, tentu saja dia sangat tahu apa yang diinginkan oleh kedua putrinya tersebut.
Karena memang Gia selalu berusaha untuk mendekatkan diri dengan istri dan juga anak-anaknya.
Hal itu dia lakukan agar dia tidak kesulitan dalam menebak keinginan dari orang-orang tersayang yang ada di sekitarnya.
"Tentu saja Ayah tahu apa yang sedang kalian inginkan, karena kalian adalah putri-putri kesayangan Ayah. Kalau sudah seperti ini, kedua putri Ayah pasti sangat menginginkan sesuatu," kata Gia.
"Kami ingin main di pantai, boleh enggak, Yah?" tanya Aurora.
Gia kembali menggelengkan kepalanya, dia sudah bisa menebak jika keinginan kedua putrinya adalah bermain air dan juga bermain istana pasir.
"Ini masih siang, tidak bisakah kalian beristirahat terlebih dahulu?" tanya Gia.
Gia bukannya tidak memperbolehkan kedua putrinya untuk bermain di pantai, hanya saja hari sedang terik. Gia takut kedua putrinya itu merasa kepanasan dan akan sakit.
"Engga apa-apa Yah, please," pinta Aurora.
Awalnya Gia tidak ingin mengizinkan keinginan kedua putrinya, karena tidak tega, akhirnya Gia pun mengizinkan kedua putrinya untuk bermain di pantai.
Aurora dan Aurelia begitu kegirangan, bahkan mereka sampai melompat-lompat sambil meninjukan tangan kanannya ke udara.
Ketiga teman Gia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari Aurora dan juga Aurelia.
Mereka jadi membayangkan, jika anak-anak mereka sudah sebesar Aurora dan Aurelia. Pasti akan sangat menyenangkan, pikirnya.
*
*
*
Bersambung....
__ADS_1
Selamat pagi selamat beraktivitas semoga kalian sehat selalu dan selamat menjalankan ibadah puasa untuk yang menjalankan.