
Benar saja apa yang dikatakan oleh Kiandra, dia datang tepat disaat Aurora dan Aurelia keluar dari kelas.
Dia sudah menunggu sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil, Aurora terlihat memutar bola matanya saat melihat Kiandra.
Berbeda dengan Aurelia yang ingin diperlakukan istimewa seperti kakak kembarnya tersebut.
Menurut Aurelia sikap Kiandra itu begitu manis, dia begitu perhatian dan pengertian. Berbeda dengan Cristian, dia berusaha untuk mendekatinya.
Namun, sikap Cristian sangat kaku dan kurang bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan.
"Kenapa repot-repot datang kemari? Aku sudah bilang kalau aku bisa berangkat ke sanggar sendiri, memangnya kamu tidak sibuk?" tanya Aurora.
"Tidak, dong. Ayo kita berangkat!" ajak Kiandra.
Mendengar ajakkan dari Kiandra, Aurora nampak memalingkan wajahnya ke arah Aurelia, kemudian dia pun berkata.
"Mau bareng atau mau berangkat sama pak sopir?" tanya Aurora.
"Kakak berangkat berdua saja, aku takut mengganggu. Aku mau berangkat bareng pak sopir saja ke kantor ayahnya," jawab Aurelia.
"Baiklah, aku pergi dulu." Aurora nampak memeluk Aurelia, kemudian melerai pelukannya dan segera masuk ke dalam mobil.
Karena memang, Kiandra sudah membukakan pintu untuk Aurora.
"Terima kasih," ucap Aurora.
"Sama-sama," jawab Kiandra seraya menutup pintu mobilnya.
Setelah menutup pintu mobilnya, Kiandra nampak menghampiri Aurelia. Kemudian dia berkata.
"Kamu memang calon adik ipar yang pengertian," kata Kiandra seraya mengacak pelan puncak kepala Aurelia.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan manis dari Kiandra, Aurelia nampak tersenyum. Tak lama kemudian dia nampak mengusap puncak rambutnya.
"Kak Rara pasti sangat bahagia bisa hidup bersama pria semanis Tuan Kiandra," kata Aurelia.
Setelah mengatakan hal itu, dia nampak tersenyum kemudian dia menghampiri pak sopir yang sedang menunggu dirinya.
"Silakan masuk, Nona," ucap Pak sopir yang sudah membukakan pintu untuk Aurelia.
"Terima kasih, Pak," jawab Aurelia seraya masuk ke dalam mobil tersebut.
Tak lama kemudian pak sopir nampak masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju perusahaan milik keluarga Pranadtja.
Aurelia hanya terdiam selama perjalanan menuju perusahaan milik ayahnya tersebut, dia begitu asyik dengan lamunannya.
Berbeda dengan Aurelia, dia nampak terus tersenyum. Karena selama perjalanan menuju sanggar, Kiandra terus saja menggodanya.
Bahkan, sesekali dia melemparkan candaan. Sehingga Aurora begitu menikmati kebersamaannya dengan Kiandra.
"Aku tahu," jawab Aurelia.
Setelah turun dari mobil, Kiandra dan juga Aurora nampak berjalan beriringan. Kiandra yang terlihat tampan dan juga berwibawa terlihat sedang membawa adik kecilnya saat mereka beriringan.
Wajah Aurora yang begitu imut membuat semua orang menyangka jika Aurora adalah adik dari Kiandra.
Bahkan saat Aurora hendak mulai melukis, ada seorang pemuda tampan yang sudah beberapa lama belajar melukis di sana terlihat menghampiri Aurora.
"Ehm, maaf Tuan Kiandra. Adik anda sangat cantik sekali, bolehkah saya berkenalan dengannya?" tanya pria tampan tersebut.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria tampan tersebut, mata Kiandra langsung melotot tidak suka.
"Dia pacar saya, lebih tepatnya calon istri saya. Jangan macam-macam kamu!" seru Kiandra.
__ADS_1
Pria tampan tersebut nampak memperhatikan wajah Kiandra dan juga Aurora secara bergantian, wajah mereka terlihat tidak ada mirip-miripnya.
Namun, tetap saja Aurora lebih pantas menjadi adik dari kiandra daripada menjadi calon istrinya.
Berbeda dengan Aurora, saat mendengar pernyataan dari Kiandra, dia nampak memelototkan matanya ke arah Kiandra.
Padahal dia tidak mengatakan apa pun tentang hubungan mereka, tapi tetap saja Kiandra bersikukuh jika dirinya adalah calon istrinya.
"Benarkah? Tapi gadis cantik ini terlalu imut untuk menjadi calon istri anda, Tuan," kata pria tampan tersebut.
Melihat wajah pria tampan di hadapannya yang seakan tidak percaya akan perkataannya, Kiandra langsung duduk tepat di samping Aurora.
Dia merangkul pundak Aurora dan menarik lembut Aurora ke dalam dekapannya, tak lupa sebuah kecupan lembut dia daratkan di kening wanita yang dia sukai itu.
Aurora terlihat hendak memberontak, namun Kiandra dengan cepat mengunci pergerakan kedua tangan Aurora. Kemudian Kiandra berkata kepada pria tampan tersebut.
"Pergilah sebelum aku marah, satu hal lagi. Jangan pernah menggoda calon istriku," ketus Kiandra.
"Ah, iya. Maaf," kata pria tampan itu tak enak hati.
Selepas kepergian pria tampan itu, Kiandra nampak melepaskan Aurora.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kamu digoda oleh pria lain selain aku," kata Kiandra.
Aurora yang tidak mau berdebat hanya diam, kemudian dia mengambil peralatan melukisnya dan mulai menorehkan kuas yang sudah dia celupkan ke dalam pewarna.
BERSAMBUNG....
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu, murah rejeki dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak di karya raceh Othor ini.
See you next episode....
__ADS_1