
Ajun hanya duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah cantik Gadis, rasanya matanya tak ingin berpaling dari keindahan yang Tuhan ciptakan.
Bibir Gadis yang sedikit terbuka membuat Ajun ingin mengecupnya, namun Ajun sudah bertekad untuk tidak akan mencium Gadis sembarangan.
Dia takut kalau Gadis akan menganggap dirinya bujang tua mesumm yang suka seenak hati mencium bibirnya.
"Belum bangun juga, ya?" tanya Pak Galuh yang ternyata sudah berada di ambang pintu.
"Belum, dia terlihat sangat pulas. Mungkin masih lelah," jawab Ajun.
"Padahal Bapak udah bawain pesenan Neng Gadis, dianya malah ngga bangun-bangun." Pak Galuh terlihat meletakan kesel berisi dua kotak sterofom di atas nakas.
"Itu apa, Pak?" tanya Ajun.
"Kue lapis, Bapak belikan dua sekalian buat Nak Ajun juga." Pak Galuh terlihat duduk di samping Gadis dan menggoyangkan tangannya.
"Bangun atuh Neng, udah jam enam. Katanya entar siang mau ketemu sama Pak Kuskus," ucap Pak Galuh.
Gadis terlihat menggeliatkan tubuhnya, lalu dia pun terlihat bangun dan menyandarkan tubuhnya. Matanya masih saja terpejam, dia menguap dan langsung berkata.
"Bapak beliin pesenan Gadis?" tanya Gadis.
"Beliin atuh, mau dimakan sekarang?" tanya Pak Galuh.
Gadis terlihat menganggukkan kepalanya, Ajun langsung tertawa dibuatnya. Menyadari ada suara yang sangat dia kenal, Gadis pun langsung membuka matanya.
"Om! Ngapain Om di sini?" tanya Gadis seraya menarik selimutnya sampai sebatas leher.
Dia hanya memakai tangtop dan celana pendek, tak memakai pakaian dalamm pula. Malu... itulah yang Gadis rasakan.
"Aku sedang melihat keadaanmu," jawab Ajun.
"Untuk apa melihat keadaanku, Om? Aku baik-baik saja," ucap Gadis.
"Ya, aku yakin sekarang kamu baik-baik saja. Karena kamu sudah terlihat ceria lagi," ucap Ajun.
"Ya sudah, sekarang kamu sarapan dulu. Biar aku tunggu di luar," ucap Ajun.
"Ya, Om," kata Gadis.
Ajun sengaja keluar dari kamar Gadis karena dia tahu jika Gadis merasa tak nyaman dengan kehadirannya, apalagi dengan baju yang dia pakai yang terlihat sangat minim bahan.
__ADS_1
Setelah Ajun keluar, Gadis pun bisa bernafas dengan lega. Dia bukannya mengambil kue yang dia pesan, tapi dia malah berlari ke kamar mandi.
Tujuan utamanya adalah untuk mandi terlebih dahulu, agar dia terlihat lebih segar. Dia merasa malu saat harus berhadapan dengan Ajun, tetapi keadaannya malah dalam keadaan belum mandi.
Lima belas menit kemudian, Gadis pun menghampiri Ajun di ruang tamu. Dia sudah terlihat cantik dengan memakai kemeja berwarna biru dongker dan celana jeans berwarna hitam.
Tak lupa kue lupisnya pun dia bawa dan dia pun menyodorkan kue lupis tersebut kepada Ajun.
"Dimakan, Om. Ini enak," ucap Gadis.
"Ya, terima kasih," ucap Ajun.
Ajun memang menyukai kue lupis, karena di saat dia kecil, ibunya adalah penjual kue tradisional. Ibunya begitu gigih membesarkan Ajun sendirian dengan bermodalkan tenaganya, dia berkeliling menawarkan kue-kue buatannya.
Saat dia hendak memakan kue tersebut, rasanya tenggorokan terasa tercekat. Dia teringat akan ibunya yang selalu terlihat kelelahan setelah pulang berdagang, Gadis yang memperhatikan Ajun pun merasa heran dengan reaksi dari wajah Ajun.
"Om kenapa? Apa Om tidak menyukai kue lupis tersebut?" tanya Gadis.
"Tiidak, bukannya tidak suka. Tapi aku sangat menyukainya, hanya saja... Ah sudahlah. Sekarang kita makan saja," ucap Ajun.
Ajun pun mulai memakan kue lupis tersebut, baru saja dua suapan masuk ke dalam mulutnya, ponselnya terdengar berbunyi.
Ajun pun dengan cepat merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, ternyata ada panggilan dari Gia, dengan cepat dia pun menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel tepat di samping telinganya.
"Ajun, aku minta maaf. Karena hari ini aku tidak bisa datang ke kantor, ternyata hari ini aku harus ke sekolahan Twins A. Karena ada acara yang tidak bisa diwakilkan," ucap Gia.
"Tidak bisa seperti itu, apa kau lupa kalau hari ini kita ada pertemuan dengan Tuan Alfonso di Caffe M tentang pembahasan kerjasama yang kemaren," ucap Ajun.
"Maaf, tapi ini tidak bisa aku tinggalkan. Kamu tahu kan anak dan istriku lebih penting dari segalanya," ucap Gia.
Ajun terlihat menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menghandlenya sendiri," ucap Ajun pasrah.
"Terima kasih," ucap Gia.
"Hem," jawab Ajun.
Ajun pun langsung menutup panggilan teleponnya, kemudian dia terlihat mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Kenapa, Om?" tanya Gadis.
__ADS_1
"Hari ini ada pertemuan besar dengan klien, namun Gia malah tidak bisa menemaniku. Padahal kalau aku yang mempresentasikannya, aku butuh seseorang untuk mencatat poin penting dari setiap pembahasan yang kami lakukan." Ajun menunduk lesu.
"Memangnya tidak ada sekretaris di kantor, Om?" tanya Gadis.
"Tidak ada, dia tidak pernah mempekerjakan yang namanya sekretaris setelah Elsa dulu. Kami mengerjakannya semuanya berdua," ucap Ajun.
"Kalau begitu, bagaimana kalau Gadis aja yang ikut? Gadis akan membantu, Om," ucap Gadis.
"Kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" tanya Ajun.
"Ya," jawab Gadis.
"Oke, kalau begitu setelah sarapan kita langsung ke Cafge M. Soalnya Tuan Alfonso ingin bertemu dengan kita pukul 8.30 pagi," jelas Ajun.
"Siap, Om," jawab Gadis.
Setelah menemui kesepakatan, Ajun dan Gadis pun terlihat memakan kue lupisnya. Setelah selesai mereka pun berpamitan kepada Pak Galuh karena mereka harus segera berangkat ke Cafge M.
Sampai di Caffe M, ternyata Tuan Alfonso beserta orang kepercayaannya sudah duduk di salah satu meja di Caffe tersebut.
Melihat Tuan Alfonso, Ajun pun langsung menghampiri Tuan Alfonso bersama Gadis.
"Selamat pagi, Mister," siapa Ajun.
"Pagi," Balas sapa Tuan Alfonso.
Lalu pandangan Tuan Alfonso pun beralih kepada Gadis, saat melihat Gadis. Tatapan Tuan Alfonso langsung terpaku, dia bahkan seperti patung. mendadak beku dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, Ajun jadi heran dibuatnya.
"Mister, Sorry," ucap Ajun menyadarkan.
"Ah... maaf-maaf. Siapa gadis ini?" tanya Tuan Alfonso.
"Namanya Gadis, Mister. Dia yang akan membantu saya," ucap Ajun.
"Oh, silahkan duduk," ucap Tuan Alfonso mempersilahkan.
Akhirnya setelah berbasa-basi, meeting pun dimulai. Selama meeting berjalan, Tuan Alfonso terus saja menatap wajah Gadis. Gadis merasa bingung dibuatnya, karena menurutnya Tuan Alfonso terlihat aneh.
Tuan Alfonso menatap Gadis dengan lekat dan dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan, bahkan Ajun dan Gadis pun tak bisa mengartikan apa arti dari tatapan mata Tuan Alfonso.
Gadis bahkan sempat ketakutan, dia langsung menautkan tangannya ke tangan Ajun. Lalu merematnya dengan sedikit kencang.
__ADS_1
Ajun langsung menatap Gadis dan mengelus lembut punggung Gadis, dia mencoba untuk menenangkan wanita yang sudah menggetarkan hatinya itu.