Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Waktu Terus Berputar


__ADS_3

Waktu terus berlalu, detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hingga hari berubah menjadi minggu, bulan dan tahun.


Satu tahun telah berlalu, Baby Adelia kini sudah berusia satu tahun delapan bulan. Dia tumbuh dengan baik dan sudah sangat pandai berjalan dan berbicara.


Dia terlihat sangat menggemaskan, dia selalu pandai mencuri perhatian dari seluruh keluarga besar Dinata.


Namun, sudah satu minggu ini dia tak mendapatkan perhatian dari bundanya, Elsa. Karena sudah satu minggu ini dia merasa pusing dan badannya terasa lemah.


Hingga pada akhirnya Elsa hanya mampu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Elsa pada akhirnya dengan terpaksa harus menyapih putrinya Adelia.


Beruntung baby Adelia tidak rewel sama sekali, dia begitu anteng dengan baby sitternya. Aurora dan Aurelia pun terlihat begitu perhatian kepada bundanya, mereka terkesan lebih mandiri di usianya yang sudah masuk sepuluh tahun.


"Sayang, sudah satu minggu loh kamu sakit. Kita kedokter ya? Aku sudah tidak tahana melihat kamu seperti ini," kata Gia.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat." Elsa terlihat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ya ampun, selalu saja," keluh Gia.


Gia yang merasa kesabarannya sudah habis, langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya.


Kemudian, Gia mengangkat tubuh Elsa dan segera keluar dari kamarnya menuju halaman depan. Tiba di halaman depan, Gia langsung mendudukan istrinya di kursi samping kemudi.


Tak lama kemudian, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.


"Mas, sudah aku katakan kalau aku baik-baik saja. Tidak usah ke Rumah Sakit," ucap Elsa.


Wajah Gia terlihat kesal sekali, jika dia mengajak istrinya untuk berobat. Selalu saja ada alasan yang membuat Gia kesal.


"Diam dan menurutlah, aku sudah tidak tahan melihat kamu selemah ini," ucap Gia.


Elsa terdiam, dia tahu jika suaminya sangat menghawatirkan dirinya.


Melihat istrinya terdiam, Gia langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Hanya memerlukan waktu lima belas menit saja mereka sudah sampai di Rumah Sakit ternama di pusat kota.


Gia terlihat memarkirkan mobilnya, lalu dengan sigap dia menggendong Elsa dan membawanya ke ruang pemeriksaan.


Karena ternyata, Gia sudah melakukan janji temu dengan dokter yang ada di sana. Tiba di ruang pemeriksaan, dia langsung merebahkan tubuh lemah Elsa di atas bad pasien.


"Tolong periksa istri saya, Dok," pinta Gia.


Seorang dokter wanita nampak dengan sigap memeriksa kondisi Elsa, Gia nampak anteng memperhatikan.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Gia.


Dokter wanita itu nampak tersenyum, lalu dia pun berkata.


"Sepertinya istri anda sedang mengandung, untuk mengetahui hasil pastinya. Anda harus melakukan pemeriksaan lanjutan pada dokter Obgyn," ucap Dokter.


"Hamil, Dok?" tanya Gia.

__ADS_1


"Sepertinya begitu, saya telepon dokter Obgyn dulu. Biar Ibu Elsa bisa langsung diperiksa," kata Dokter.


"Iya, Dok," jawab Gia.


Dokter nampak mengambil ponselnya lalu menelpon dokter Obgyn. Sedangkan Gia nampak menghampiri Elsa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu dengar, kamh hamil. Apa kamu senang?" tanya Gia.


Elsa langsung menganggukkan kepalanya, senyum di bibirnya nampak mengembang. Walaupun wajahnya terlihat pucat, namun Elsa tak bisa menyembunyikan rona bahagianya.


Setelah selesai menelpon dokter Obgyn, akhirnya Gia pun menggendong Elsa dan membawanya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.


Benar saja, setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Elsa dinyatakan positif hamil dan masa kehamilannya sudah masuk minggu ke 8.


Elsa dan Gia terlihat sangat bahagia sekali, karena akhirnya Elsa bisa mengandung kembali.


Dalam hati yang paling dalam, Elsa berharap jika dia bisa mempersembahkan seorang bayi laki-laki untuk suaminya.


Namun, jika Tuhan berkehendak lain, Elsa akan menerimanya. Karena baginya anak tetaplah anugrah.


"Kita pulang," kata Gia setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan.


"Iya, Mas," jawab Elsa.


Gia langsung menggendong istrinya dengan penuh kasih, lalu dia membawa Elsa untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Bagaimana?" tanya Ibu Anira ketika melihat Gia kembali merebahkan tubuh Elsa di atas tempat tidur.


"Elsa hamil," kata Gia.


"Ah, syukurlah." Bu Anira nampak memeluk Elsa dan melabuhkan kecupan hangat di kening putrinya.


"Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu bisa hamil lagi, anak-anak pasti senang," ucap Ibu Anira.


"Iya, Bu. Tapi, baby Adelia--"


"Kamu tidak usah khawatir, ada babysitter, ada Ibu, ada daddy Dirja," kata Ibu Anira.


"Iya, Bu," jawab Elsa lemah.


Elsa tidak tahu kenapa di kehamilannya kali ini tubuhnya terasa sangat lemas, bahkan untuk duduk saja dia memerlukan bantuan.


"Bunda!"


Aurora dan Aurelia nampak masuk ke dalam kamar Elsa, menghampiri Elsa dan duduk tepat di samping Elsa.


"Bunda sakit apa?" tanya Aurora.


"Bunda kenapa lemes terus?" tanya Aurelia.

__ADS_1


"Kalian tahu, Bunda hamil. Di perut Bunda ada Dede bayi lagi," kata Elsa.


"Benarkah?" tanya Aurora dan Aurelia secara bersamaan.


Mereka terlihat antusias sekali saat mendengar jika Elsa tengah kembali mengandung.


"Iya, itu benar," jawab Gia.


"Dede'nya cewek apa cowok, Bunda?" tanya Aurelia.


Mendengar pertanyaan dari Aurelia, Aurora langsung menepuk pundak adiknya tersebut.


"Mana bisa tahu adiknya cewek atau cowok, Bunda baru hamil. Perutnya saja masih rata," kata Aurora penuh protes.


"Ish! Jangan marah-marah, aku hanya bertanya. Mana aku tahu kalau jenis kelaminnya belum terlihat," ucap Aurelia dengan bibir yang sudah mengkrucut tajam.


"Sudah jangan berantem, sekarang mending bikinin Bunda teh hangat. Bunda haus," ucap Elsa.


"Siap, Nyonya!" Aurora langsung berlari menuju dapur, Aurelia pun nampak menyusul.


Melihat kelakuan kedua putrinya, Elsa hanya bisa tersenyum. Gia langsung menghampiri Elsa dan duduk tepat di samping istrinya.


"Mereka sangat bahagia, kamu senang?" tanya Gia.


"Iya, Mas. Sangat senang," kata Elsa.


Gia nampak mengecup kening istrinya dengan lembut, Ibu Anira nampak tak enak hati melihat kemesraan kedua insan tersebut.


Takutnya keberadaannya malah menjadi pengganggu untuk kemesraan Gia dan juga Elsa.


"Sepertinya Ibu keluar saja," kata Ibu Anira.


"Kenapa?" tanya Elsa.


"Takut ganggu," kata Ibu Anira seraya tersenyum.


"Baiklah, silakan saja," kata Elsa.


Setelah berpamitan kepada Elsa bu Anira nampak keluar dari kamar putrinya tersebut, tak lama setelah kepergian bu Anira Tuan Dirja nampak masuk ke dalam kamar Gia.


Wajahnya terlihat berseri, dia langsung duduk di tepian ranjang dan mengusap kening Elsa dengan lembut.


"Kamu hamil lagi, Sayang?" tanya Tuan Dirja.


"Yes, dad," jawab Elsa.


"Selamat ya, Sayang. Dad turut senang, akhirnya rumah ini benar-benar terasa ramai. Semua karena kamu, Sayang," ucap Tuan Dirja tulus.


"Terima kasih, Dad," jawab Elsa.

__ADS_1


__ADS_2