
Satu minggu sudah Gia bersama keluarga kecilnya dan juga para sahabatnya berlibur di pulau Dewata, mereka terlihat begitu menikmati masa liburannya.
Auroran pun sama, dia begitu menikmati suasana liburannya. Walaupun kedua balita genit putra dari Ajun dan juga VB selalu saja mengikuti kemanapun dia pergi.
Mungkin kalau Axelle mempunyai rasa ketertarikan terhadap wanita yang jauh lebih tua dari usianya, kerana keturunan dari VB.
Justru yang Ajun herankan, kenapa Kenzie lebih tertarik pada wanita yang lebih tua dari umurnya. Padahal dia menikahi Gadis yang usianya sangat jauh lebih muda dari dirinya.
"Jangan deket-deket!" Aurora menoyor kepala Kenzie yang terus saja bersandar di pundaknya.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Aurora, Kenzie langsung mengelus jidatnya dengan lembut dengan bibir mencebik.
Tentu saja jidatnya tidak sakit, karena Aurora menoyornya dengan pelan. Hanya saja dia seakan mendramatisir keadaan
"Kaka cantik nda boleh nakal!" kata Kenzie seraya menggoyang-goyangkan jari terlunjuknya.
Aurora merasa geli saat melihat kelakuan dari Kenzie, jika saja anak itu tidak berusaha untuk mendekati Aurora, mungkin dia akan merasa lucu melihat tingkah dari balita berusia tiga tahun tersebut.
Namun, karena anak itu begitu sibuk mencari perhatian Aurora, hal itu membuat Aurora menjadi sebal.
"Oh, God!" keluh Aurora seraya memutar bola matanya.
"Ish! Kamu nakal, pelgi canah. Kakak Cantik maunya sama aku," kata Axelle yang langsung saja duduk di pangkuannya Aurora.
Aurora sangat kaget saat mendapat perlakuan seperti itu dari Axelle, sungguh dia tidak menyangka dengan kelakuan absurd dari anak VB tersebut.
"Bunda!" teriak Aurora dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Elsa, Gadis dan juga Anita hanya bisa tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
*/*
Keesokan paginya, mereka memutuskan untuk pulang. Karena masih banyak pekerjaan yang menunggu di Ibu kota.
Namun, pada saat Dina hendak masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bandara, tiba-tiba saja badannya melemah.
Dia terlihat memegangi kepalanya yang terasa berat, tak lama kemudian dia terlihat jatuh tersungkur ke atas tanah.
"Buna!" teriak Axelle saat melihat tubuh Dina yang ambruk.
__ADS_1
Semua orang nampak kage, lalu dengan sigap VB mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam gendongannya.
"Yang, bangun. Jangan buat aku takut," kata VB seraya membawa Dina kembali ke dalam Villa.
Semua orang yang awalnya bersiap untuk masuk ke dalam mobil, kini menghampiri Dina. Mereka ingin mengetahui bagaimana keadaan Dina.
Mereka ingin tahu, kenapa Ibu dari Axelle itu tiba-tiba saja jatuh pingsan?
Padahal setahu mereka, Dina awalnya terlihat baik-baik sajam Bahkan dia terlihat tertawa begitu riang bersama dengan Elsa, sahabatnya.
"Tolong ambilkan minyak angin!" teriak VB.
Mendengar teriakan dari VB, Elsa langsung mengambil tas milik baby Adelia. Dia mengambil minyak telon dan memberikannya kepada VB.
Dengan telaten VB memborehkan minyak telon tersebut ke leher, tangan dan kaki dari Dina.
Dia benar-benar merasa khawatir terhadap istrinya tersebut, apalagi saat melihat wajah Dina yang kini terlihat memucat, VB semakin khawatir.
Dia jadi merasa bersalah terhadap istrinya tersebut, mungkinkah karena tadi malam VB terus saja menggempur Dina sampai hampir pagi?
"Yang, bangun. Jangan bikin aku khawatir!" pinta VB.
"Tentu saja boleh, cepatlah, Dok!" pinta VB.
"Ya, menyingkirlah! Agar aku bisa dengan tenang memeriksa keadaan istrimu," kata Dokter Irawan.
VB menurut, dia langsung menggeser tubuhnya agar dokter Irawan bisa memeriksa Dina dengan leluasa.
Melihat VB yang memberikan dirinya ruang, dokter Irawan langsung menghampiri Dina. Dia segera memeriksa keadaan dari Dina, beruntung dia selalu membawa peralatan medisnya saat dia pergi kemanapun.
Bukannya dia mengharapkan hal yang buruk, namun dia selalu berusaha untuk bersiaga.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya VB tidak sabar.
Mendengar pertanyaan dari VB, dokter Irawan nampak mencabik kesal. Dia baru saja memulai untuk memeriksakan Dina, namun VB terlihat begitu tidak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi terhadap istrinya tersebut.
"Dia kelelahan, kemungkinan dia juga sedang mengandung. Untuk lebih jelasnya, nanti kamu bawa dia untuk periksa ke dokter Obgyn," jelas Dokter Irawan.
Mendengar apa yang diutarakan oleh dokter Irawan, VB terlihat sangat senang sekali, Jika benar-benar Dina hamil, itu artinya dia dan juga Dina akan mendapatkan keturunan lagi.
__ADS_1
Namun, satu hal yang VB sangat takutkan. Bagaimana jika dia tidak bisa menemani Dina disaat melahirkan nanti?
VB mulai berpikir jika dirinya harus berusaha untuk mengalahkan traumanya, dia ingin menemani istrinya melahirkan. Dia ingin mendampingi istrinya saat berjuang dalam melahirkan keturunannya.
"Kalau begitu kita tunggu Dina sadar, nanti kalau sudah sadar kita langsung periksa saja ke Rumah Sakit. Biar tidak penasaran," kata Ajun.
"Ya, aku setuju," kata Elsa.
Setelah menunggu lima belas menit, akhirnya Dina sadar juga. Dengan sigap VB menghampirinya dan menanyakan keadaannya.
"Bagaimana keadaan kamu, Sayang? Apakah sudah lebih baik?" tanya VB lembut.
Dina terlihat berusaha untuk bangun, VB dengan sigap membantu Dina untuk duduk. Dia masih terlihat memegangi kepalanya yang terasa berat.
Matanya juga masih terasa berkunang-kunang, tangannya menggapai tangan VB lalu mencengkeramnya dengan kuat.
"Aku kenapa?" tanya Dina. "Bukankah kita seharusnya pulang? Kenapa kalian malah mengerumuni aku," tanya Dina.
"Tentu saja kami mengerumunimu, karena kamu tiba-tiba saja pingsan dan tidak sadarkan diri," jawab Gadis.
"Maaf," kata Dina setelah mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.
"Sudahlah! Jangan banyak pikiran, lebih baik sekarang kita ke Rumah Sakit saja, agar bisa mengetahui kondisi kamu yang sebenarnya," kata Gia.
"Ya, aku setuju," kata Elsa.
Setelah terjadi perdebatan, akhirnya VB membawa Dina ke Rumah Sakit terdekat. Dia langsung mendaftarkan istrinya keruang obgyn agar bisa secepatnya diperiksa.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya VB dan Dina pun dipanggil oleh dokter. Benar saja, saat mereka melakukan pemeriksaan ternyata Dina kini tengah berbadan dua.
Bahkan janin yang bertumbuh kembang di perut Dina sudah berusia dua belas minggu. Mendengar akan kenyataan yang ada, baik Dina ataupun VB terlihat sangat bahagia sekali. Karena sebentar lagi Tuhan akan memberikannya satu keturunan lagi.
"Terima kasih, Sayang. Karena kanu sudah mau kembali mengandung anakku," kata VB.
"Sama-sama," jawab Dina yang juga begitu senang.
'
'
__ADS_1
Selamat malam, selamat beristirahat. Semoga kalian selalu menjalani ibadah puasa dengan penuh semangat.