
Pesta telah usai, balroom hotel yang tadinya penuh dengan lautan manusia kini terlihat sepi. Hanya beberapa orang pekerja saja yang terlihat berlalu lalang merapikan sisa-sisa pesta.
Semua tamu yang hadir tentu sudah pulang ke rumah masing-masing, para sahabat dan juga kerabat sudah berpamitan untuk pulang.
Hanya keluatga Pranadtja saja yang masih berada di hotel tersebut, tentunya tuan Danu pun ikut menginap di hotel tersebut.
Gia tentu saja memesan kamar terbaik untuk kedua pasangan pengantin baru, Aurora dan juga Aurelia.
Dia juga tidak mau kalah, memesan kamar terbaik untuk dirinya dan juga Elsa. Bahkan untuk kamar bu Anira saja dia memesan kamar yang tebaik karena Alex dan juga Adelia ingin tidur bersama dengan neneknya tersebut.
Keduanya memang begitu dekat dengan neneknya, setiap kamanapun mereka pergi pasti ingin bersama dengan bu Anira.
"Sayang, sekarang sudah boleh, kan?" tanya Kiandra.
Kini Kiandra dan juga Aurora terlihat sedang merebahkan tubuhnya di ranjang pengantin, ranjang berukuran besar yang dihiasi oleh banyaknya kelopak bunga mawar.
Aurora nampak memiringkan wajahnya, dia menyangga kepalnya dengan tangan kanannya. Dia tatap wajah suaminya yang begitu tampan.
Aurora merasa sangat salut, karena selama dua minggu mereka tidur bersama, Kiandra bisa menahan hasratnya untuk tidak menyentuh dirinya.
Dengan seperti itu, dia bisa datang ke dokter untuk berkonsultasi tentang alat kontrasepsi yang aman yang akan digunakan oleh dirinya.
Dokter menyarankan untuk memasang implan saja, karena pil atau suntik kurang bagus untuk wanita yang baru saja menikah.
Aurora menurut, yang terpenting dia tidak hamil, pikirnya. Sesuai dengan keinginan dari Gia, dia masih belum cukup umur untuk melahirkan.
Aurora memasang implan dengan tempo dua tahun, rasanya sudah cukup untuk menunda masa kehamilannya dalam waktu itu.
"Memangnya mau banget?" tanya Aurora.
Kindra terlihat berdecak, dia kemudian dia bangun dan langsung mengungkung tubuh istrinya.
"Pengen banget, Yang. Malahan punya aku tuh udah tegang mulu, dua minggu disuruh nahan ampe pusing pala atas bawah, Yang. Kamu tega, Yang!" keluh Kiandra.
Aurora nampak terkekeh, dia mendongakkan kepalanya lalu mencium bibir suaminya dengan mesra.
Kiandra tersenyum lalu dia membalas tautan bibir istrinya dengan penuh gairah, tangannya yang selama dua minggu hanya diam saja, langsung aktif karena mendapatkan sinyal lampu hijau dari istrinya.
Aurora nampak menggeliat dan menggelinjang karena sentuhan nakal suaminya, Kiandra bahkan rela menonton film biru hanya untuk mencari tahu cara membuat wanita merasa nyaman saat dimasuki untuk pertama kalinya.
Kiandra teris saja mencumbu dan merangsang istrinya, Aurora bahkan sampai tidak sadar jika kini. mereka sudah berada dal keadaan sama-sama polos.
"Sekarang ya, Sayang?" pinta Kiandra.
__ADS_1
"He'em," jawab Aurora malu-malu.
Kiandra tersenyum senang, dengan perlahan dai mengarahkan miliknya menuju liang kelembutan milik istrinya. Tak lupa dia juga mencumbui bibir istrinya, agar istrinya tidak merasakan sakit kala dia menyatukan tubuhnya.
"Emph!"
Tangan Aurora terlihat mencengkram kuat lengan Kiandra, dia merasa sakit namun dengan lihainya Kiandra langsung memberikan sentuhan lembut penuh cinta.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara khas percintaan yang menggema di seluruh ruangan tersebut.
Kiandra dan juga Aurora terlihat berlomba untuk mendapatkan rasa nikmat yang baru saja mereka rasakan.
Peluh terlihat mengalir dari tubuh mereka, walaupun air conditioner sudah menyala, tetap saja rasa panas ya mereka rasa.
After a while later.
Kiandra terlihat memperdalam miliknya, lalu dia muntahkan semua bibit penerusnya yang sudah pasti tidak akan busa tumbuh dan berkembang.
Untuk sesaat Kiandra terdiam menikmati sempitnya milik istrinya yang terasa masih berkedut dan menjepit miliknya.
Namun, tidak lama kemudian dia nampak menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya.
"Enak, Yang. Tahu begini kita nikih siri aja dulu, kan soal kehamilan bisa di cegah!" celetuk Kiandra.
Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kiandra, bisa-bisanya suaminya itu berkata seperti itu.
Padahal, dulu saat Kiandra melamarnya usianya baru enam belas tahun. Apakah dia tidak merasa kasihan menggauli dirinya yang masih berumur enam belas tahun, pikirnya.
"Jangan ngaco ih!" keluh Aurora.
"Maaf, Sayang. Habisnya punya kamu enak banget, aku jadi ketagihan. Jadi--"
Kiandra bangun dan kembali mengurung pergerakan istrinya, dia mulai mencumbui istrinya lagi.
Awalnya Aurora terlihat memberontak, namun tubuhnya tidak bisa menahan sentuhan tangan nakal istrinya.
Jika Aurora dan Kiandra kini tengah bertempur dengan sengit dan penuh cinta, berbeda dengan Aurelia dan juga Cristian.
Setelah pertempuran panas mereka berakhir, kini Cristian dan Aurelia terlihat saling diam. Mereka duduk di atas tempat tidur dengan wajah cemas.
Cristian lupa untuk memakai pengaman, begitu juga dengan Aurelia. Dia lupa untuk memakai alat kontrasepsi.
"Gimana ini, Yang?" tanya Cristian.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, aku cuma berharap semoga bibit kecebong yang tadi kamu tumpahkan tidak bagus. Jadinya tidak akan membuahi sel telurku," kata Aurelia.
"Astaga, Sayang! Kamu tega sekali berkata seperti itu," keluh Cristian.
"Abisnya aku bingung, kalau aku hamil bagaimana? Ini semua karena kamu yang ngga ngerti minta itu terus," gerutu Aurelia.
"Abisnya aku ngga tahan, Sayang. Kita sudah jadi pasangan halal, masa aku ngga boleh nyelup. Kan, aneh! Lagi pula kamu ngga usah takut, kalau kamu hamil aku akan bertanggung jawab," kata Cristian.
"Ya ampun, Kakak! Tentu saja kamu harus bertanggung jawab, karena kamu adalah suamiku. Kamu aneh!" keluh Aurelia.
"Iya maaf, udah sih. Lagian sudah terjadi, kalau kamu hamil ya biarin aja." Cristian menarik lembut Aurelia ke dalam pelukannya.
"Kita tidur saja, biar besok bisa lebih seger lagi," timpalnya lagi.
"He'em," jawab Aurelia.
Akhirnya setelah terjadi perdebatan antara Aurelia dan Cristian, mereka nampak tertidur dengan lelap.
Keesokan harinya.
Kini semua orang nampak berkumpul di Resto yang ada di hotel tersebut, mereka sedang melaksanakan sarapan paginya.
Sesekali Gia meledek kedua putrinya yang terlihat duduk dengan tidak nyaman, sudah tentu semuanya tahu apa yang terjadi kepada Aurora dan juga Aurelia.
Setelah beberapa saat kemudian, Elsa baru menyadari jika bu Anira tidak ikut berkumpul untuk sarapan pagi. Lalu, dia pun bertanya kepada Adelia dan juga Alex.
"Hey Boy, Girl. Di mana nenek Anira?" tanya Elsa.
"Katanya nenek sangat lelah, mau tidur saja," jawab Adelia.
"Hem, kata nenek sarapan saja dengan tenang. Nenek mau bobo cantik aja," kata Alex.
Mendengar ucapan dari kedua putra dan putrinya Elsa merasa tidak tenang, dia pun meminta izin kepada Gia untuk melihat keadaan ibu Anira.
Elsa berjalan dengan tergesa karena merasa begitu khawatir, setelah sampai di depan kamar milik ibunya, dia langsung mengetuk pintunya.
Seorang perawat nampak membukakan pintunya, dia terlihat begitu cemas dan wajahnya terlihat sangat pucat.
"Ada apa? Kenapa wajah Mbak seperti itu?" tanya Elsa.
"Itu, Nyonya. Anu, Ibu--"
"Kenapa? Ada apa sama Ibu?" tanya Elsa seraya masuk dan memperhatikan wajah Ibunya.
__ADS_1
Ibunya terlihat sedang tidur dengan damai, bibirnya bahkan terlihat tersenyum dengan sangat manis.