Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Memutuskan Untuk Berpisah


__ADS_3

"Mel, sudah waktunya makan siang. Elu mau makan bareng gue atau mau makan diluar?" tanya Reni.


"Gue makan di rumah, oiya, Ren. Untuk sementara waktu gue mau tinggal di lantai dua, elu ngga keberatan, kan?" tanya Melani.


Dahi Reni nampak mengernyit heran, kenapa Melani menanyakan hal itu kepadanya. Sedangkan Melani sudah mempunyai suami dan 2 orang anak.


Bahkan dia terlihat akur-akur saja selama ini, lalu untuk apa Melani meminta izin untuk tinggal di ruko yang mereka sewa, pikirnya.


"Apa, rumah tangga elu sedang bermasalah?" tanya Reni.


"Nanti gue ceritain, boleh kan gue tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Melani lagi.


"Tentu Mel, tinggallah di sini. Gue sama sekali nggak keberatan, kalau perlu kamar gue, elu pake aja," kata Reni.


"Tank's," ucap Melani.


Melani terlihat memeluk Reni, tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Dengan cepat dia menyusut air matanya, dia tidak mau jika temannya itu tahu, jika dirinya benar-benar sedang bersedih.


Setelah berpamitan kepada Reni, Melani pun segera melajukan mobilnya menuju kediaman mertuanya.


Sampai di rumah mertuanya, ternyata Nyonya Mesti baru saja datang. Dia baru saja menjemput Merissa, bahkan putra keduanya juga berada di dalam gendongan Nyonya Mesti.


"Buna, pulang?" tanya Fajri.


"Ya, Sayang. Buna mau makan siang bareng kalian," ucap Melani.


"Yey, Buna mau makan ciang baleng aku," ucap Fajri senang.


Nyonya Mesti terlihat tertawa melihat tingkah cucu keduanya, Fajri kemudian merentangkan kedua tangannya.


Dia meminta Bundanya untuk menggendong dirinya, dengan senang hati Melani pun langsung menggendong Fajri dan mengecup setiap inci wajahnya.


Kemudian, Melani pun menghampiri putri pertamanya, Merissa. Lalu, dia pun mengecup kening putri pertamanya dengan lembut.


"Kakak baru pulang sekolah?" tanya Melani.


"Iya, Buna. Baru saja dijemput sama Uti," jawab Merissa.


"Ya sudah, kamu sekarang ganti baju dulu. Kita makan siang bersama, Buna sudah lapar," ucap Melani.


"Ya, Buna," jawab Merissa.


"Tumben, Sayang. Biasanya kamu ngga pulang kalau siang?" tanya Nyonya Mesti.

__ADS_1


"Ada tang harus aku bicarakan, Mah," kata Melani.


"Baiklah, kalau begitu kita bicara di dalam," kata Nyonya Mesti.


Melani dan Nyonya Mesti pun nampak masuk ke dalam rumahnya, kemudian Melani menuntun Fajri untuk turun di arena bermain yang memang sengaja Melani buatkan untuk putranya tersebut.


Fajri pun menurut, dia langsung bermain di sana. Sedangkan Melani langsung menuntun mertuanya untuk duduk di ruang keluarga tersebut.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat serius sekali?" tanya Nyonya Mesti.


Tanpa Nyonya Mesti duga, Melanie langsung memeluk Nyonya Mesti dengan sangat erat. Dia menangis dalam dekapan wanita yang masih menjadi Ibu mertuanya tersebut.


"Mel minta maaf, Mah. Mel ingin bercerai dengan Mas Aldino," ucap Melani seraya terisak.


Mendengar ucapan Melanu, tubuhnya terlihat lemas. Matanya terlibat memanas dan tak lama air matanya pun turun.


Dia terlihat sangat syok mendengar ucapan menantunya tersebut, dia tak menyangka jika Melani akan memutuskan untuk berpisah dengan Aldino.


"Maafkan Mel, Mah. Aku sudah tidak kuat, semakin kesini aku semakin tidak kuat, Mah. Aku tidak kuat kalau harus menyaksikan suamiku sendiri berhubungan badan dengan wanita lain," ucap Melani.


Mendengarkan ucapan menantunya, rasanya jantung Nyonya Mesti seakan hendak keluar dari tempatnya.


Dia tidak menyangka jika putranya ternyata sebejat itu, beraninya dia berselingkuh di belakang istrinya.


"Tapi, Sayang. Mamah sudah menganggap kamu sebagai putri kandung Mamah sendiri, Mamah mohon jangan tinggalkan Mamah," Nyonya Mesti terlihat mengiba.


"Mel akan tinggal di ruko untuk sementara, Mah. Mel tetap menganggap Mamah sebagai orang tua Mel sendiri, Mamah boleh kapan pun berkunjung untuk menemui kedua buah hati Mel." Nyonya mesti tidak bisa berkata apa pun, karena pada dasarnya semua kesalahan berada pada putranya.


"Buna, aku sudah lapar." Melani langsung melerai pelukannya ketika Merrisa menghampirinya.


"Ayo kita makan," ajak Melani.


Melanie langsung menggendong Fajri, kemudian dia menuntun Merissa menuju ruang makan.


Walaupun tubuhnya merasa lemas, Nyonya Mesti tetap berusaha untuk bangun kemudian dia mengikuti langkah menantu dan kedua cucunya.


Tiba di ruang makan, Melani langsung mengendokkan nasi untuk mertuanya dan juga kedua buah harinya.


Dia nampak mendudukkan Fajri di atas pangkuannya, lalu dia menyuapi putranya tersebut. Sedangkan Merrisa, terlihat makan sendiri.


Berbeda dengan Nyonya Mesti yang hanya diam saja, matanya terlihat menatap Merissa, Melani dan Fajri secara bergantian.


Dia benar-benar takut akan kehilangan Ketiga orang yang begitu dia sangat sayang, namun dia tak bisa berkata apa pun.

__ADS_1


Selesai makan siang, Merrisa dan juga Fajri nampak tidur siang. Melani memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membenahi pakaian Merrisa dan juga pakaian Fajri.


Dia hanya membawa seperlunya saja perlengkapan milik Fajri dan juga Merrisa, karena dia sangat sadar jika ruko yang dia tempati tidak mungkin bisa menampung semua barang-barang milik mereka.


Setelah semuanya siap, Melani pun langsung memasukkan barang kedua buh hatinya ke dalam mobil miliknya.


Nyonya Mesti nampak menangis sambil memeluk menantunya tersebut, dia benar-benar merasa takut saat ini.


"Apakah kamu tidak bisa jika tidak pergi dari rumah Mamah, Sayang?" tanya Nyonya Mesti.


"Maaf, Mah. Aku sudah menyerah," ucap Melani.


Kembali Nyonya Mesti memeluk Melani dengan sangat erat, dia peluk dan dia kecup setiap inci wajah menantunya tersebut.


Dia benar-benar sedih karena harus kehilangan sosok menantunya yang begitu baik di matanya.


"Mah Mel minta maaf kalau selama ini belum bisa menjadi menantu yang baik buat Mamah," ucap Melani.


Nyonya Mesti terlihat menggelengkan kepalanya, selama ini Melani benar-benar selalu bersikap baik.


Menurutnya Melani adalah menantu idaman, dia rela satu rumah bersama dengan dirinya karena takut dirinya merasa kesepian.


Dia selalu membantu keuangannya walaupun anaknya sudah bekerja, dia tak pernah membebankan hal yang berat pada suaminya.


Pukul jam 4 sore Melani pun membawa kedua buah hatinya menuju ruko, Nyonya Mesti terlihat sangat sedih.


Berbeda dengan Merrisa dan juga Fajri yang terlihat begitu bahagia, karena pada akhirnya mereka bisa terus bersama dengan Bundanya.


Tiba di ruko, ternyata dia sudah ditunggu oleh Ajun dan juga Gadis, Gadis yang memang menyukai anak kecil langsung menghampiri Fajri.


"Hai tampan, mau Aunty gendong nggak?" tanya Gadis.


Fajri terlihat tersenyum, lalu dia pun merentangkan kedua tangannya. Dengan senang hati, Gadis pun langsung menggendong Fajri.


"Hati-hati, Yang," ucap Ajun mengingatkan.


"Iya, Hubby. Ini juga sudah hati-hati," jawab Gadis.


"Salim sama Aunty, Sayang!" ucap Melani pada Merrisa.


Merrisa langsung mengulurkan tangannya, lalu dia pun mengecup tangan Gadis. Gadis terlihat sangat senang, lalu dia pun mengecup kening Merissa.


"Kamu sangat cantik, Sayang. Mirip seperti princess," puji Gadis.

__ADS_1


"Terima kasih, Aunty," jawab Merissa.


Gadis lalu membawa Fajri untuk duduk bersama dirinya dan juga Ajun, sedangkan Melani terlihat menuntun Merrisa untuk duduk di dekat Gadis.


__ADS_2