
Anita terlihat masih sangat kesal terhadap suaminya, dokter Irawan. Karena saat bibir mereka bertemu, dokter Irawan malah menutup pintu kamar hotel mereka.
Kemudian, dia mengangkat tubuh Anita dan langsung menghempaskannya ke atas ranjang.
Dokter Irawan kembali menautkan bibirnya ke bibir Anita, dalam waktu yang cukup lama. Bahkan bibir Anita kini benar-benar bengkak, saat Anita melayangkan protesnya dokter Irawan pun berkata.
"Ya ampun, istriku sayang. Yang penting aku tidak memaksamu untuk melakukan itu, hanya berciuman saja." Dokter Irawan langsung turun dari tubuh istrinya dan berlari ke kamar mandi.
"Dia kenapa?" tanya Anita heran.
Anita terlihat mencebikkan bibirnya kemudian dia turun dari ranjang dan langsung duduk di depan meje rias, dia langsung menatap bibirnya dari pantulan cermin.
"Astaga! Pantas saja terasa kebas dan sedikit ngilu, bibir aku bengkak. Dasar dokter tua messum!! Nyebelin!" keluh Anita.
"Kenapa, Sayang. Kenapa teriak-teriak seperti itu?" tanya Dokter Irawan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Anita langsung menghampiri dokter Irawan dan memukul dadanya beberapa kali, dokter Irawan pun dengan cepat menangkap kedua tangan Anita.
"Jangan marah, ada apa? Katakan kepadaku!" ucap Dokter Irawan.
Anita terlihat memelototkan matanya, kemudian dia pun menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Lihatlah Pak dokter, bibir aku bengkak. Sakit!" keluhnya.
Dokter Irawan nampak memandang bibir Anita yang bengkak karena ulahnya, dia pun terkekeh. Lalu, dia mengusap bibir Anita dengan lembut.
"Ya sudah, kamu duduk dulu. Biar aku carikan es batu buat ngompres bibir kamu," kata dokter Irawan.
"Lalu, bagaimana dengan sarapannya?" tanya Anita yang sudah merasa sangat lapar.
"Aku akan sekalian memesan makanan untuk kita sarapan, kita sarapan di kamar saja. Kecuali, kalau kamu mau jadi bahan gunjingan... kita makan bersama dengan keluarga besar kita," kata Dokter Irawan.
Mendengar ucapan dokter Irawan, Anita nampak terdiam karena hal yang dikatakan oleh dokter Irawan adalah benar adanya.
Jika dia bergabung untuk sarapan bersama dengan kedua keluarganya, sudah pasti dia akan dijadikan bahan ledekan oleh mereka.
Apa lagi saat mengingat teman-teman dari dokter Irawan yang jahil dan omongannya yang suka nyeleneh, sudah pasti dia akan jadi bahan tertawaan.
"Ya sudah, kita sarapan di dalam kamar saja," jawab Anita pasrah.
"Ya, aku keluar dulu," pamit Dokter Irawan.
"Jangan lama!" kata Anita cepat.
"Kenapa? Pergi saja belum, tapi kamu sudah merasa rindu saja." Dokter Irawan nampak terkekeh.
"Bukan seperti itu, aku sudah lapar." Anita terlihat mencebik.
__ADS_1
"Bilang tak mau jauh juga aku tak akan marah, malah sangat senang." Kecupan hangat Dokter Irawan labuhkan di kening Anita.
Setelah melakukan hal itu kepada Anita, dokter Irawan segera keluar dari dalam kamar tersebut.
Bukannya tak mau berlama-lama dengan Anita, namun dia merasa takut khilaf. Dia merasa takut jika dia akan memperkosa istrinya saat itu juga.
Entah kenapa hanya dengan bersentuhan saja dengan Anita, membuat miliknya cepat terbangun. Tak seperti saat dia berhubungan dengan beberapa mantan pacarnya atau saat dia berhubungan dengan wanita yang memang menginginkan dirinya.
Para wanita cantik itu harus berusaha untuk membuat miliknya bangun, tak jarang mereka rela memimpin permainan agar dokter Irawan bisa cepat bergairah.
Setelah kepergian dokter Irawan, Anita nampak menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang berukuran besar tersebut.
Dia menggerak-gerakkan kedua tangannya dan juga kedua kakinya, perasaannya saat ini terasa campur aduk.
Entah apa yang dia rasa saat ini, dia pun merasa bingung dengan apa yang dia rasakan.
Namun, satu hal yang dia sadari betul. Dia menyukai sentuhan dari dokter Irawan, bahkan dia menyukai cara dokter Irawan yang bermain di bibirnya dengan sangat lembut.
"Kenapa dokter tua messum itu menyebalkan sekali? Kenapa juga aku tidak bisa melawan saat dia menciumku? Kenapa aku malah merasa nyaman dan ingin membalas ciumannya itu? Nyebelin!" keluh Anita.
"Heh!"
Anita terdengar menghela napas berat, kemudian dia turun dari ranjang dan duduk di sofa yang berada di dekat jendela.
Rasanya melihat pemandangan pantai dari balik jendela kamarnya, membuat dirinya merasa semakin tenang.
"Wangi sekali, pengen kesana tapi malu," keluh Anita.
Dia terlihat memperhatikan beberapa orang yang sedang berjalan di tepi pantai, ada beberapa dari mereka yang berjalan sambil bergandengan tangan.
"So sweet, aku jadi pengen." Anita terlihat memegangi kedua pipinya.
"Pengen apa?" tanya Dokter Irawan yang ternyata sudah berada di samping Anita.
"Astaga! Kenapa mengagetkanku seperti itu?" tanya Anita dengan tatapan tajamnya.
"Kamunya saja yang terlalu serius memandangi mereka, sampai aku masuk kamar pun kamu tidak sadar," ucap Dokter Irawan.
Anita yang tak mau berdebat hanya terdiam, namun tangannya dengan cepat mengambil es batu dan sapu tangan dari tangan dokter Irawan.
"Biar aku bantu," kata Dokter Irawan.
"Biar aku saja, aku bisa sendiri. Terus sarapannya mana?" tanya Anita.
"Nanti ada pihak Resto yang mengantar," jawab Dokter Irawan.
"Oh," hanya itu yang Anita katakan.
__ADS_1
Tangan Anita dengan cepat membungkus es batu dengan sapu tangan, lalu dia pun mulai mengompres bibirnya yang terlihat bengkak.
Dokter Irawan hanya bisa memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya tersebut, ingin sekali dia memegang es batu tersebut dan langsung mengompreskannya ke bibir istrinya.
Namun, itu tidak mungkin. Karena dia tahu jika Anita masih kesal terhadap dirinya, mungkin dia harus bisa lebih sabar lagi.
Apa lagi kalau mengingat usia Anita yang memang masih terbilang masih sangat muda, dia harus bisa membujuk istrinya dengan sabar.
'Semoga saja istri kecilku bisa cepat luluh, rugi nanti belalaiku kalau tidak bisa masuk dan menikmati--'
"Hey pak Dokter! Kenapa melamun? Senyum-senyum sendiri lagi, ngga takut kesurupan?" tanya Anita.
"Ish, kamu tuh. Aku hanya sedang mengharapkan sesuatu, bukan sedang melamun," kilah Dokter Irawan.
"Terserah, a--"
Anita tak meneruskan ucapannya, karena terdengar ketukan pintu di luar kamar hotel mereka. Dokter Irawan pun langsung bangun dan segera membuka pintu kamar tersebut.
Karena dia yakin jika itu adalah pihak Resto yang mengantarkan makanan yang dia pesan. Benar saja, saat dia membuka pintunya pihak Resto datang dengan membawa troli di tangannya berisikan berbagai macam makanan yang sudah dia pesan.
"Silakan masuk, tolong simpan makanannya di atas meja," ucap Dokter Irawan.
"Baik, Tuan," ucapnya.
Dia langsung menata makanan yang dia bawa di atas meja, Setelah tersusun dengan rapih. Dia pun segera undur diri.
"Terima kasih," ucap Dokter Irawan seraya memberikan uang tips.
Setelah menutup pintunya, dokter Irawan lalu mengajak Anita untuk sarapan bersama. Tentu saja Anita yang memang tengah kelaparan langsung melahap makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Enak," ucapnya dengan bibir yang penuh dengan makanan.
"Ya ampun, Anita, Sayang. Tidak bisakah pelan-pelan makannya? Aku takut kamu ak--"
Uhuk! Uhuk!
Melihat istrinya yang terbatuk-batuk seraya memukul dadanya, dokter Irawan pun langsung memberikan segelas air putih kepada istrinya.
Anita pun dengan cepat menenggak air putih tersebut.
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama, makannya pelan-pelan. Jangan sampai keselek lagi," ucap Dokter Irawan lembut.
"He'em," jawab Anita yang langsung melahap kembali makanan yang ada di hadapannya.
Dokter Irawan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya tersebut.
__ADS_1
'Begini nih, kalau nikah sama bocah. Harus sering-sering ngelus dada biar ngga darah tinggi,' ucapnya dalam hati.