Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Suka Minum Susu


__ADS_3

Saat Gadis keluar dari kamar tamu dan menghampiri Ajun di ruang makan, Ajun sempat ingin tertawa melihat penampilan Gadis yang terlihat tenggelam dalam bajunya.


Ternyata Gadis benar-benar bertubuh mungil, pikrnya. Padahal Ajun sudah memberikan kaos yang paling kecil, namun tetap saja terlihat kebesaran untuk Gadis.


"Jangan melihatku seperti itu, aku kan jadi malu," kata Gadis.


Gadis merasa risih saat melihat tatapan Ajun, karena Ajun terkesan menatapnya dengan tatapan meledek, pikirnya.


"Maaf," hanya kata yang keluar dari mulutnya.


Sebenarnya Ajun sangat ingin tertawa, saat melihat penampilan Gadis. Namun dia berusaha keras untuk tidak tertawa, dia takut Gadis akan merasa sedih.


"Duduklah dan makanlah," ucap Ajun penuh perintah.


Gadis pun duduk dan langsung memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Ajun, 1 buah sandwich berisi daging dan keju dan juga berisi sayuran lengkap dengan segelas susu.


Gadis tersenyum kala melihat menu sarapannya, karena ternyata menu sarapan Ajun pun sama sepertinya dirinya.


Gadis merasa lucu karena ternyata Ajun yang sudah dewasa dan juga terlihat sangat gagah, ternyata dia suka minum susu.


"Om suka susu?" tanya Gadis.


Ajun yang sedang mengunyah sarapannya, langsung menghentikannya. Lalu, menatap Gadis dengan lekat.


" Ya, aku menyukainya. Aku tidak pernah melewatkan minuman yang satu ini, setiap pagi dan setiap malam aku pasti meminumnya. Memangnya kenapa?" tanya Ajun.


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Oh iya, Om. Memangnya Om tidak pernah meminum susu yang lain?" tanya Gadis.


Setelah menanyakan hal itu, Gadis langsung mengatupkan mulutnya. Karena saat dia bertanya wajah Ajun terlihat kebingungan, Gadis pun sebisa mungkin menahan tawanya.


"Tidak, aku tidak menyukai susu yang lain. Hanya susu putih saja yang aku suka," kata Ajun.


"Oh, aku kira Om menyukai susu yang bisa Om teguk langsung dari sumbernya," kata Gadis lirih.


"Astaga!" pekik Ajun.


"Habiskan makananmu anak kecil, Setelah itu aku akan berangkat kerja. Kamu juga harus segera pulang," ucap Ajun.


Ajun terlihat mengunyah makanannya dengan cepat, rasanya dia sudah tak sabar ingin segera pergi bekerja dan mengantarkan Gadis untuk segera pulang kerumah orang tuanya.

__ADS_1


Rasanya, baru sebentar saja mengobrol dengan Gadis membuat pikiran Ajun sudah travelling ke mana-mana.


Gadis nampak mencabik tak suka, ternyata pria matang yang ada di depannya itu tidak bisa diajak bercanda, pikirnya. Tapi Gadis juga bersyukur, karena ternyata Ajun bukan tipe lelaki yang slengean sehingga dia bisa merasa aman walaupun hanya berduaan saja dengan Ajun.


Setelah selesai sarapan, Ajun pun langsung mengajak Gadis bersamanya. Tentu saja harus seperti itu, karena rumah Gadis memang tepat berada di seberang perusahaan milik keluarga Pranadtja.


Sepanjang perjalanan, Ajun hanya diam saja. Dia begitu fokus menatap jalanan, sedangkan Gadis beberapa kali terlihat mencuri pandang terhadap Ajun.


"Om, terima kasih ya, untuk yang semalam. Kalau ngga ada Om, aku ngga tahu nasib aku kaya gimana," ucap Gadis tulus.


Untuk sesaat Ajun memalingkan wajahnya, dia menatap Gadis lalu kembali terfokus pada kegiatannya.


"Sama-sama, memangnya kenapa kamu bisa ada di kota B?" tanya Ajun.


Sebenarnya dari semalam Ajun ingin bertanya kenapa Gadis ada di kota B dan sendirian, namun karena malam dia melihat Gadis yang terlihat begitu syok dia pun tidak berani bertanya.


" Itu, Om. Kemarin aku sengaja ke kota B, karena bulan depan fakultas Manajemen akan mengadakan acara perpisahan di sana. Aku sebagai ketua panitianya disuruh oleh Pak Kuskus buat mastiin Villanya," kata Gadis.


"Terus, kamu kenapa sendirian ke sananya?" tanya Ajun.


"Sebenarnya aku nggak sendirian, Om. Aku bertiga dengan temanku, tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba mereka meninggalkan aku di Villa sendirian." Gadis terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.


"Lalu, siapa yang sudah menyakiti kamu?" tanya Ajun.


"Kenapa tidak melakukannya pada polisi?" tanya Ajun.


"Aku takut, Om. Aku hanya orang miskin," ucap Gadis lirih.


Tak ada lagi kata yang diucapkan oleh Ajun, dia hanya menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


Tak lama kemudian, Ajun memberhentikan mobilnya. Saat Gadis mengedarkan pandangannya, ternyata dia sudah sampai di depan kedai es buah milik bapaknya.


" Eh? Sudah sampai ya, Om?" tanya Gadis.


"Hem, turunlah," kata Ajun.


"Iya, Om. Terima kasih atas bantuannya," kata Gadis.


"Ya, sama-sama. Lain kali kamu harus lebih hati-hati lagi," ucap Ajun.

__ADS_1


"Iya, Om," jawab Gadis.


Gadis lalu membuka seat belt'nya, lalu dia turun dari mobil Ajun. Setelah Gadis turun, Ajun langsung pergi meninggalkan Gadis menuju perusahaan Pranadtja, Gadis tersenyum dengan sangat manis lalu melambaikan tangannya sampai mobil Ajun tak terlihat lagi.


Sampai di dalam ruangannya, ternyata Gia sudah sampai di sana. Ajun sempat kaget, karena tak biasanya Gia sudah sampai.


Karena waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi, Ajun pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya.


"Selamat pagi, Tuan." Ajun langsung membungkuk hormat.


"Pagi, Tuan Koyoshi meminta meetingnya dipercepat. Dia akan datang sebentar lagi," ucap Gia.


"Lalu?" tanya Ajun.


"Apa berkasnya sudah disiapkan? Ini project besar, aku tak mau ada cacat sedikitpun." Gia menyalakan ponselnya dan melihat email yang ternyata sudah Ajun kirimkan dari kemarin.


"Semuanya sudah siap, bahkan sudah dari kemarin saya kirimkan emailnya," ucap Ajun.


"Ya, aku baru membacanya." Gia menyimpan ponselnya, lalu merapihkan beberapa berkas yang akan dia bawa ke ruang meeting.


Ajun pun dengan sigap berjalan dan langsung membukakan pintu untuk Gia, "Terima kasih," ucap Gia.


"Sama-sama, Tuan." Ajun langsung mengikuti langkah Gia menuju ruang meeting.


Tiba di ruang meeting, Tuan Kiyosi belum tiba. Gia langsung duduk di kursi kebesarannya, Ajun pun ikut duduk di samping Gia.


"Oh iya, Ajun. Aku ingin makan rujak cingur, nanti selepas meeting tolong kamu belikan." Gia terlihat tersenyum sambil membayangkan enaknya makan rujak cingur.


Melihat tingkah Gia, Ajun jadi bertanya-tanya dalam hatiny. Apakah jika nanti dia mempunyai istri dia juga akan merasakan hal yang sama seperti Gia?


Namun, Ajun segera menepis pikirannya. Untuk apa memikirkan istri pikirnya, untuk berpacaran aja dia merasa enggan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Gia.


" Ah, tidak apa-apa, Tuan," jawab Ajun.


"Jangan lupa nanti setelah meeting belikan aku rujak cingur, ulang Gia memberitahukan keinginannya.


"Iya, Tuan. Nanti aku belikan, Tuan," jawab Ajun.

__ADS_1


Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar permintaan Tuannya, semenjak Elsa hamil Ajun. memang selalu saja minta dibekukan hal yang aneh-aneh.


Kadang Ajun ingin bertanya pada wanita hamil, apakah yang namanya ngidam itu masih berlaku sampai perut si istri terlihat sangat besar dan siap untuk melahirkan?


__ADS_2