
Ucapan dad Julian benar-benar terjadi, tiga hari kemudian Clarista dinikahkan dengan Steven.
Walaupun awalnya Clarista nampak tak suka, namun pada akhirnya Steven bisa meyakinkan wanita yang sudah lama dia sukai itu.
Tentu saja Steven berjanji akan berusaha untuk membahagiakan Clarista dan berjanji akan berusaha untuk menjaga wanitanya dengan baik.
Banyak yang hadir pada pernikahan Clarista dan juga Steven, dari mulai keluarga, sahabat dan juga para kolega bisnis dan Julian.
Dokter Irawan dan Anita begitu antusias saat mengucapkan selamat, begituan dengan mom Clara.
Dia turut bahagia dengan pernikahan keponakan cantiknya itu, dia juga berdo'a semoga itu adalah yang terbaik untuk Clarista.
Acara pernikahan telah selesai, pasangan pengantin baru itu telah masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah disiapkan dengan indah.
Clarista nampak dibantu oleh dua orang pelayan untuk membuka gaun pengantinnya, setleah semuanya terlepas. Clarista langsung ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Sepuluh menit kemudian, dia keluar dengan hanya menggunakan kimono mandi saja. Dia tersenyum kala melihat Steven yang sedang duduk di tepian tempat tidur.
Menyadari kedatangan Clarista, Steven langsung bangun dan menghampiri wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Steven langsung memeluk Clarista dari belakang, lalu dia menyandarkan dagunya pada pundak istrinya.
"Terima kasih, karena kamu sudah mau menjadi istriku," kata Steven.
Dia mengusap perut rata milik istrinya, Clarista tersenyum lalu dia berkata.
"Hem, semoga kamu mau bersabar menghadapi aku," kata Clarista.
Dia sangat sadar jika dirinya mempunyai emosi yang tidak stabil, dia gampang marah, gampang sedih dan gampang merasa bahagia.
"Ya, aku akan bersabar. Tapi, untuk yang satu ini aku tidak mau bersabar," kata Steven seraya mengusap bagian inti tubuh Clarista.
"Stev!" seru Clarista
"Hem, bersiaplah untuk menahan serangan dariku," ucap Steven.
Steven terlihat membalikkan tubuh Clarista, lalu dia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas tempat tidur.
Dia merebahkan tubuh Clarista dengan perlahan, lalu dia menarik tali kimono mandi milik Clarista dengan satu kali tarikan.
"Mau aku buka, atau kamu buka sendiri?" tanya Steven.
__ADS_1
"Bukalah dan lakukan apa pun yang kamu mau, karena aku adalah istrimu," kata Clarista.
Mendengar ucapan istrinya, steven merasa sangat bahagia. Karena sebentar lagi dia akan menjadikan Clarista sebagai miliknya seutuhnya.
"Baiklah kalau begitu, biar aku yang buka," ucap Steven.
Steven langsung melepaskan kimono mandi yang dipakai oleh Clarista dan melemparnya secara serampangan.
Setelah itu, Steven membuka kancing kemeja yang dia pakai satu-persatu. Hingga otot-otot kekarnya nampak terlihat dengan indah di mata Clarista.
Kemudian, dia pun melempar kemejanya ke sembarang arah. Clarista hanya terdiam sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Steven, suaminya.
Steven tersenyum, lalu kemudian dia membuka kain penutup bagian bawahnya hingga menyisakan boxer yang menutupi area intinya.
"Bersiaplah, Sayang. Aku tidak akan menghentikannya walaupun kamu berkata sakit," ucap Steven seraya terkekeh.
"Aku menunggu," ucap Clarista.
Steven terlihat menunduk, lalu dia mulai mengecupi setiap inci wajah Clarista. Setelah itu dia terlihat menautkan bibirnya dengan bibir istrinya.
Bibir yang selama ini terlihat begitu menggoda di matanya, bibir yang selama ini membuat dia penasaran untuk segera mencicipinya, akhirnya pada malam ini dia bisa merasakan manisnya bibir tersebut.
Steven terlihat begitu menikmati setiap cecapan yang dia lakukan, bahkan Clarista pun terlihat membalas tautan bibir dari Steven .
"He'em, boleh." Clarista tersenyum malu.
Tanpa mengulur waktu lagi, Steven terlihat meraup dada istrinya dengan sangat rakus. Bahkan bibirnya dengan cepat bermain di area puncak dada istrinya.
Hal itu refleks membuat Clarista menjambak rambut Steven, Steven tidak marah. Justru dia merasa suka, bahkan gairahnya semakin memuncak dengan apa yang telah dilakukan oleh Clarista.
Cukup lama dia bermain di area dada istrinya, setelah melihat wajah Clarista yang memerah seperti menginginkan hal yang lebih, Steven pun tersenyum.
Lalu dia terlihat melebarkan kedua kaki istrinya dan bermain dengan area inti terkecil dari tubuh istrinya tersebut.
Hal itu membuat Clarista kelabakan, ini yang pertama untuknya. Rasanya sangat aneh dan membuat dirinya menginginkan untuk segera dimasuki.
"Stev!"
Terdengar rengek manja dari bibir Clarista, Steven tersenyum. Dia menghentikan aksinya dan membuka kain penghalang yang menutupi area intinya.
"Mau sekarang?" tawar Steven.
__ADS_1
Clarista terlihat malu-malu, lalu dia nampak menganggukkan kepalanya. Steven langsung membuka boxer yang masih menempel untuk melindungi area intinya.
Kemudia Steven tersenyum, lalu dia pun mengarahkan miliknya yang sudah terlihat begitu tegang ke area inti istrinya.
Saat miliknya mulai masuk ke dalam liang kelembutan milik istrinya, Steven langsung tersenyum bahagia.
Karena ternyata, Clarista masih bisa menjaga kehormatannya. Berbeda dengan Clarista yang terlihat memekik kesakitan, bahkan tangannya terlihat mencengkeram kuat punggung suaminya.
"Sakit, Stev!" kata Clarista.
Dia terlihat memejamkan matanya, dia berusaha untuk mengusir rasa sakit yang kian mendera. Area intinya kini terasa penuh dan sesak dengan milik suaminya.
"Shuut, sabar, Sayang. Hanya sebentar," ucap Steven.
Awalnya Clarista terlihat enggan untuk melanjutkan kegiatan panas mereka, namun setelah Steven meyakinkan, akhirnya Clarista pun mau melanjutkan kegiatan tersebut.
Awalnya memang terasa menyakitkan untuk Clarista, namun semakin lama Clarista merasakan sesuatu yang berbeda yang tak pernah dia rasakan.
Bahkan ,kalau boleh meminta. Rasanya dia tidak ingin berhenti menikmati suguhan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya tersebut.
Hingga setelah lebih dari satu jam, Steven nampak menyembuhkan bibit-bibit unggulnya ke dalam rahim istrinya.
Dia tersenyum bahagia, karena pada akhirnya dia bisa memiliki wanita yang sangat dia cintai seutuhnya. Walaupun dia tahu jika Clarista belum sepenuhnya menerima cantanya, setidaknya Clarista tidak menolak saat dia sentuh dan dia jamah.
"Terima kasih, Sayang." Satu kecupan lembut dia daratkan di kening istrinya.
Clarista nampak tersenyum malu, dia merasa lucu karena kini malah menikah dengan Steven. Lelaki yang dipercaya untuk mengelola perusahaan milik Daddynya yang ada di Indonesia.
"Sama-sama, Steven," jawab Clarista.
Steven merengkuh tubuh Clarista dan membawanya kedalam dekap hangatnya.
"Aku mencintaimu," kata Steven tulus.
"Aku tahu," jawab Clarista.
*
*
**Bersambung....
__ADS_1
Selamat sore kesayangan, semoga kalian tidak ada bosannya membaca karya Othor yang satu ini. Terima kasih buat kalian yang selalu memberikan like, comment, vote dan juga hadiahnya.
Tanpa kalian apalah aku, kalian luar biasa pokoknya**.