Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Resmi


__ADS_3

Acara yang sangat di nantikan pun telah terlaksana, Gia dan Elsa sudah mengucapkan janji suci pernikahan. Semua orang yang hadir di sana merasa ikut bahagia, apa lagi dengan Gia.


Gia merasa sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa bersatu dengan Elsa dalam ikatan pernikahan.


Tetapi, dalam lubuk hatinya yang terdalam. Lelaki itu seolah masih tak percaya, jika Elsa mau menerimanya. Mau memberikan kesempatan kedua untuknya dan mau menjadikan Gia sebagai pendamping hidupnya.


Setelah mengucapkan janji suci, mereka pun langsung bertukar cincin. Dengan tangan gemetar, Elsa memakaikan cincin penikahan mereka ke jari manis Gia.


Berbeda dengan Gia, yang memakaikan cincin'nya sambil tersenyum manis, karena kebahagiaan tiada tara yang dia rasakan.


Bahkan setelah cincin'nya terpasang di jari Elsa, tanpa ragu Gia langsung mencium bibir perempuan yang sudah menjadi istrinya dengan mesra. Elsa sempat ingin menghindar, tapi, tangan kanan Gia dengan cepat meraih pinggang Elsa dan tangan kirinya menahan tengkuk leher Elsa.


Semua tamu yang hadir langsung bersorak sorai, kecuali VB. Dia merasa kecewa, karena wanita yang dia sukai kini sudah bersetatus sebagai istri orang.


Lalu, bagaimana dengan twins A?


Tuan Dirja dengan sigap langsung menutup kedua mata cucunya itu, karena Gia mencium Elsa dengan sangat mesra. Dia bahkan seolah lupa sedang di mana, tangan kanannya bahkan sudah merambat naik ke atas untuk mengelus punggung Elsa yang terlihat terekspos.


Beruntung suara pemandu acara seolah menyadarkan Gia, dia langsung memperingati Gia, dengan suara khasnya menggunakan microphone yang dia pegang.


"Mohon bersabar ya Pak CEO, inget, di sini masih banyak para jomblo yang makin meringis dan seakan hendak menangis melihat anda yang terlihat sangat romantis." Gia pun dengan cepat melepaskan tautan bibirnya, sedangkan Elsa terlihat mendelik sebal.


Elsa segera berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke cuping telinga Gia.


"Bener-bener ya, Kamu. Awas saja nanti, kamu tuh selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Kesal Elsa, sedangkan Gia hanya tersenyum.


Suara MC tersebut tiba-tiba kembali terdengar, dia meminta Gia dan Elsa untuk melempar buket bunga ke arah para tamu yang hadir.


Sesuai arahan MC, Gia dan Elsa pun langsung melemparkan buket bunga ke arah para tamu yang hadir. Tanpa mereka duga, dua tangan menggapai buket bunga yang terlempar.


Elsa langsung tersenyum kala melihat, Dina dan VB yang sedang memegang buket bunga itu.


"Ehm, buat kamu saja." Dina melepas tangannya, dari buket bunga tersebut.


VB kembali menyodorkan buket bunga itu kepada Dina, sebagai lelaki, dia merasa tak enak hati kalau harus menerima buket bunga itu dari tangan seorang perempuan.

__ADS_1


"Buat kamu saja," ucap VB.


Dina pun langsung menerima buket bunga dari VB, lalu, dia Dina pun tersenyum ke arah VB.


"Terima kasih," ucap Dina.


Dina seakan senang saat melihat aktor yang sedang naik daun itu, rela memberikan buket bunga pada'nya.


"Sama-sa--" ucapan VB tiba-tiba saja terhenti, karena Aurora dan Aurelia datang dan langsung menyenggol VB.


"Cieee,,, Om VB sama Aunty Dina terlihat malu-malu." Aurora seakan sengaja menggoda kedua orang itu.


"Roman-romannya, bakalan ada yang nyusul Bunda, ke pelaminan." Aurelia pun seakan tak mau kalah.


Wajah Dina terlihat memerah, dia merasa sangat malu saat mendengar ucapan dari Aurora dan Aurelia.


Sedangkan VB, hanya bisa menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


*/*


Para artis ibu kota pun bernyanyi dengan suara ciri khas mereka masing-masing, mereka berlomba untuk menyenangkan para tamu undangan.


Bahkan, tak jarang dari beberapa kolega Tuan Dirja, ada yang naik ke panggung untuk memberikan uang saweran.


Do'a terbaik mereka panjatkan, berharap pasangan pengantin baru tersebut bisa saling setia sampai maut memisahkan.


Hingga pukul sembilan malam, acara resepsi pernikahan telah selesai. Dina dan Bu Anira langsung menghampiri Elsa, mereka berpamitan untuk pulang.


Begitupun dengan Tuan Dirja, dia pun berpamitan untuk pulang. Sedangkan, Elsa dan Gia, masih harus tetap di sana. Karena Tuan Dirja, sudah mempersiapkan kamar pengantin super mewah untuk mereka.


"Sa, tadinya gue pengen pulang langsung ke kota B. Tapi, nyokap elu nahan gue. Jadi, gue nginep di rumah elu selama tiga hari. Elu ngga keberatan kan?" Dina, langsung memeluk tangan kanan Bu Anira.


Elsa langsung tersenyum, justru dia sangat senang. Karena Ibunya ada yang menemani.


"Dengan senang hati, gue izinin." Dina yang merasa senang pun, langsung melepaskan tangan Bu Anira dan memeluk Elsa dengan erat.

__ADS_1


"Selamat sekali lagi buat pernikahan elu, gue harap ini yang pertama dan terakhir." Dina melerai pelukannya, kemudian menatap Gia dengan Intens.


"Elu tenang aja, Elsa aman sama gue." Gia seolah tahu dengan apa yang akan di ucapkan oleh Dina.


"Hem, gue percaya sama elu. Jangan sakiti Elsa lagi, gue nyaksiin banget penderitaan dia waktu--" Dina tak meneruskan ucapannya, dia tahu itu semua sudah berakhir.


"Elu tenang saja, gue janji bakal lakuin yang terbaik buat keluarga kecil gue." Gia menepuk pundak Dina seolah meyakinkan.


Dina pun langsung tersenyum mendengar jawaban dari Gia.


"Ibu juga, titip anak ibu." Bu Anira berucap dengan penuh harap.


Kini, Bu Anira menggantungkan kebahagiaan putrinya dan kedua cucunya pada Gia.


"Siap, Bu." Jawab Gia pasti.


Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk membahagiakan Elsa dan kedua putrinya. Gia juga tak akan membiarkan Elsa dan kedua putrinya sampai menderita.


"Jangan melakukan kesalahan lagi! Dad, tak mau menantu dan kedua cucu Dad sampai kabur karena ulah kamu!" Tegas Tuan Dirja.


Tuan Dirja tak mau, jika sampai Gia menyakiti Elsa lagi.


"Iya, Dad." Gia langsung memeluk Daddynya.


Setelah semuanya berpamitan, Gia mengajak Elsa untuk pergi ke lantai sepuluh. Di mana, kamar pengantin mereka sudah di siapkan oleh Tuan Dirja.


Kamar mewah, dengan pasilitas yang sangat lengkap. Sepanjang perjalanan menuju kamar pengantin mereka, Elsa terlihat sangat gugup.


Dia sangat takut, jika Gia akan meminta haknya sebagai suami sekarang juga. Sedangkan Elsa, masih takut jika mengingat kejadian yang pernah Gia lakukan padanya.


Dulu, Gia melakukannya dengan sangat kasar. Bahkan, saat Elsa menangis menahan sakit pun, Gia seolah tak perduli.


Dia seolah menganggap tangisan Elsa sebagai cambuk hasratnya, yang membuatnya ingin meledak saat itu juga.


Sedangkan Gia, terlihat sangat senang. Karena pada akhirnya, dia bisa menebus semua rasa bersalahnya kepada Elsa dan kedua putrinya dengan berusaha untuk membahagiakan mereka.

__ADS_1


Sampai di depan kamar hotel, Elsa terlihat ingin berlari saja dari sana. Apa lagi, saat pintu kamar hotel di buka. Keringat langsung bercucuran dari dahi Elsa.


__ADS_2