Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kekonyolan Gia


__ADS_3

Gia terlihat duduk di atas sofa, tangan kanannya memegang ponsel. Namun matanya tetap saja melihat dada istrinya yang terlihat sangat menggoda.


Padahal Gia baru beberapa hari saja tak menyentuh dada istrinya, tapi rasanya sudah terasa sangat lama.


Sesekali dia memperhatikan mulut Baby Adelia yang terlihat begitu lahap menghisap sumber makanannya, membuat hati sang Ayah menjadi iri dibuatnya.


"Kenapa harus ada masa nifas sih? Kenapa juga itu yang harus jadi sumber makanannya Baby Adelia? Aku kan jadi ngga bisa mainin lagi," gerutu Gia dalam hati.


Berbeda dengan Gia, Elsa terlihat begitu menikmati perannya sebagai seorang ibu. Dia merasa bahagia karena bisa melahirkan dengan normal, dia juga bahagia karena bisa memberikan Asi kepada putri ketiganya itu.


Karena di luar sana, banyak wanita yang Asinya tidak bisa keluar dengan lancar. Bahkan sampai ada wanita yang menangis, karena Asinya tidak keluar sama sekali.


"Lahap banget mimi cucunya, haus banget, ya?" kata Elsa.


Elsa mengusap-usap Baby Adelia, sambil mengajaknya terus berbicara. Haingga beberapa menit kemudian, Baby Adelia nampak tertidur dengan pulas.


Melihat putrinya yang tertidur, Gia pun langsung menyeringai. Karena sesuatu yang dia incar sedari tadi, kini sebentar lagi bisa dia cicipi.


"Sebentar lagi giliran aku, akhirnya bisa dapet jatah juga." Gia langsung menghampiri Elsa dan duduk di sampingnya.


Malihat Gia yang datang seraya tersenyum-senyum, membuat Elsa merasa curiga. Elsa memandang Gia dengan tatapan penuh selidik.


Gia menjadi salah tingkah dibuatnya, Elsa pun makin terlihat waspada. Dia takut jika Gia akan melakukan hal yang tak terduga.


"Mas mau apa? Mana senyumnya aneh begitu lagi, Mas bikin aku curiga," kata Elsa.


Gia terlihat menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal, dia bingung harus menjawab apa. Dia hanya bisa mesem-mesem sambil menatap istrinya.


"Jangan macem-macem ya, Mas!" ucap Elsa.


Gia yang merasa tersudut pun langsung membuka suaranya.


"Ngga macem-macem, Yang. Cuma satu macem aja," jawab Gia.


Elsa semakin curiga mendengar ucapan Gia, dia hanya bisa berharap semoga suaminya itu tak akan melakukan hal yang aneh-aneh.


"Mas aneh," ucap Elsa.


Elsa melihat wajah putrinya yang telah terlelap, lalu dia pun turun dari kasur dan menidurkan Baby Adelia di box bayi yang sudah Gia siapkan untuk putrinya.


Melihat Elsa yang sudah selesai dengan tugasnya, Gia pun langsung bangun dan menghampiri istrinya.

__ADS_1


Dia memeluk Elsa dari belakang, lalu Gia langsung mengecupi setiap inci wajah istrinya.


"Mas kenapa sih?" tanya Elsa.


Bukannya menjawab, Gia malah menautkan bibirnya. Hal itu membuat Elsa lebih waspada, dia mendorong dada bidang suaminya.


"Mas mau apa sebenarnya?" tanya Elsa.


"Ngga mau apa-apa, Yang. Mas cuma kangen," kata Gia.


"Mas!" pekik Elsa.


Elsa merasa sangat kaget, karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa melayang. Tentu saja itu karena ulah Gia, dia tiba-tiba saja menggendong tubuh istrinya.


Elsa yang takut jatuh pun langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya, Gia langsung tersenyum dan membawa istrinya ke atas kasur.


Gia merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan, tentu saja karena takut menyakiti jika terlalu terburu-buru.


Untuk sesaat dia memandang wajah istrinya, lalu pandangannya beralih pada dada istrinya yang terlihat sangat besar.


Gia pun dengan cepat membuka tiga kancing baju yang Elsa kenakan, dia sudah tak sabar ingin bermain dengan benda pavoritnya.


"Waw!" Gia terlihat tersenyum senang kala melihat benda pavoritnya langsung terlihat menyembul dari tempat perlindungannya.


Elsa hanya diam saja, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang bersetatus sebagai suaminya itu.


Gia yang sudah tak sabar pun langsung meraup dada istrinya dengan serakah, dan alangkah kagetnya dia saat air susunya keluar dan lengasung membasahi wajahnya.


Tentu saja terasa lengket, dan terasa bau amis. Gia terlihat mengernyit saat mencium baunya itu.


"Sayang!" kesal Gia.


Elsa langsung berusaha untuk menahan tawanya saat melihat wajah Gia, kalau saja tak kasihan rasanya dia ingin sekali menertawakan Gia dengan kencang.


Gia langsung bangun dan mengambil tisu basah dari atas nakas, dengan perlahan dia mengusap wajahnya.


"Ya ampun, Sayang. Air susunya ampe muncrat, aku ngga bisa enen lagi ini?" tanya Gia dengan wajah yang terlihat sangat memperihatinkan.


Tawa yang sedari tadi di tahan, akhirnya pecah juga. Dia tertawa dengan tertahan, karena takut membangunkan putrinya.


"Lagian Mas itu aneh, aku ini sedang menyusui, sudah pasti air susunya akan keluar." Elsa bangun lalu mengambil tisu dan membantu suaminya mengelap wajahnya.

__ADS_1


"Mas kan ngga tahu, Yang. Kirain kalau dipegang sama aku ngga bakal keluar," keluh Gia.


Gia terlihat menekuk wajahnya, dia merasa kesal sekali.


"Sabar ya, Mas. Aku ingin menyusui Baby Adelia sampai dua tahun, sama seperti menyusui twins A," kata Elsa.


Mendengar ucapan Elsa, mata Gia langsung membulat dengan sempurna.


"Ya Tuhan, jadi aku liburnya sampai dua tahun?" tanya Gia kaget.


Melihat ekpresi wajah Gia, ingin sekali dia menertawakan tingkah suaminya itu. Namun, dia juga merasa kasihan pada Gia.


Elsa langsung memeluk suaminya, lalu dia pun berbisik tepat di telinga Gia.


"Enennya libur dua tahun ya, tapi yang ini setelah masa nifas habis kamu boleh minta." Elsa meraih tangan suaminya dan menuntunnya untuk mengusap miliknya.


Senyum di wajah Gia langsung mengembang, tak apa pikirnya ngga dapet mainannya. Yang penting miliknya masih bisa beraktifitas dengan lancar.


"Serius, Yang?" tanya Gia dengan binar bahagianya.


"Iya, Mas Gia, Sayang." Elsa langsung mencubit gemas kedua pipi suaminya.


"Sakit, Yang," ucap Gia manja.


"Sekarang Mas bobo aja, Mas selama di Klinik kan kurang istirahat," ucap Elsa.


Gia tersenyum, lalu dia mengaitkan kancing baju Elsa kembali. Dia merasa kasihan takut Elsa akan merasa kedinginan.


"Baiklah, Mas tidur dulu. Mata Mas juga kayaknya udah sepet banget ini," ucap Gia.


Elsa lalu melepaskan pelukannya, Gia pun langsung mengecup keningnya lalu merebahkan tubuh lelahnya.


Tak lama kemudian, Gia pun langsung terlelap dalam tidurnya. Bahkan dia terlihat mendengkur halus, menandakan jika dia sangat kelelahan.


Setelah melihat suaminya terlelap, Elsa pun lalu keluar dari dalam kamarnya. Dia ingin mengecek kamar kedua putrinya, melihat nilai-nilai sekolahnya.


Senyum Elsa pun terlihat mengembang sempurna, karena nilai kedua putrinya terlihat sangat bagus.


Elsa benar-benar merasa sangat beruntung, mempunyai tiga putri yang sangat cantik-cantik. Tentunya dia juga merasa bangga, karena kedua putri kembarnya yang selalu membuatnya bangga.


Elsa juga berharap, semoga putri ketiganya pun bisa menjadi putri yang membanggakan seperti kedua kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2