
Percakapan antara Tuan Dirja, Disty dan Elsa pun sudah selsai. Hasilnya, Elsa hanya mengizinkan kedua putrinya untuk fokus menjalani rekaman, membuat video clip dan tour keliling Asia saat liburan semester tiba.
Elsa, sangat tahu jika kedua putrinya memanglah berbakat. Mereka juga pasti tidak akan keberatan untuk mengambil semua tawaran yang begitu menggiurkan, apa lagi mereka memang sangat suka akan hal itu.
Tapi, Elsa hanya tidak mau, jika waktu bermain kedua putrinya tersisa oleh pekerjaan. Bagaimana pun juga, mereka masih anak-anak.
Mereka butuh bermain dan menikmati hari-harinya layaknya anak pada usianya, bukan hanya membicarakan tentang uang dan pencapaian.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Elsa pun memutuskan untuk pulang. Ini sudah sore, saatnya kedua putrinya untuk mandi dan bersantai.
"Tuan, saya dan kedua putri saya, pamit pulang." kata Elsa," Ini sudah sore, mereka harus segera mandi dan beristirahat." Pamitnya, pada Tuan Dirja.
"Ya, kalian pulanglah. Supir akan mengantar kalian pulang," ucap Tuan Dirja.
"Saya juga pamit, Tuan." ucap Disty, Tuan Dirja langsung mengangguk setuju.
Tak lupa, sebelum pergi Disty juga berpamitan kepada Elsa dan kedua putrinya, Disty juga memberikan kecupan hangat di kening kedua Putri Elsa.
Disty sangat menyukai Aurora dan Aurelia, bahkan Disty merasa jika Aurora dan Aurelia sudah seperti keponakannya sendiri.
Disty langsung pergi meninggalkan kediaman Tuan Dirja, sedangkan Elsa dan kedua putrinya diantar oleh Tuan Dirja menuju mobil yang sudah disiapkan nya.
Tapi, baru saja seorang sopir membukakan pintu agar Elsa bisa masuk bersama kedua putrinya. Tiba-tiba saja, ponsel Tuan Dirja berdering. Tuan Dirja pun, segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hallo,," sapa Tuan Dirja.
(.............)
"Apa?! Kecelakaan?! Butuh Donor darah?" kaget Tuan Dirja.
(...............)
"Baik, saya akan segera ke sana." Tuan Dirja, mengakhiri percakapannya.
Elsa merasa penasaran, Elsa pun bertanya kepada Tuan Dirja.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
"Gia kecelakaan, kondisinya parah. Dia kehilangan banyak darah, dia butuh donor darah. Tapi... Di rumah sakit sedang tidak ada stok, bagaimana ini, Elsa?"
Tuan Dirja terlihat begitu panik, keringat tiba-tiba saja membanjiri wajahnya.
"Memangnya apa golongan darahnya?" tanya Aurora.
"O negatif, dia mempunyai golongan darah yang sama dengan almarhum Mommynya. Ya, Tuhan. Aku harus bagaimana?"
Tuan Dirja terlihat sangat panik, dia bahkan lupa harus melakukan apa. Dia bahkan hanya mondar-mandir saja di depan rumahnya, tanpa memerintahkan supirnya untuk segera mengantarkannya ke rumah sakit tempat Gia dirawat.
Elsa terlihat memandang Aurora, dia tahu jika Aurora memiliki golongan darah yang sama dengan Ayahnya Tapi, Elsa hanya diam saja. Karena, jika Elsa berkata jika Aurora memiliki golongan darah yang sama dengan Gia, dia takut Tuan Dirja akan curiga.
"Bagaimana, kalau kita pergi ke rumah sakit saja? Kita harus segera melihat keadaan Om Gia, terlebih dahulu." usul Aurelia, dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Tuan Dirja.
Akhirnya Tuan Dirja, Elsa dan kedua putrinya langsung masuk ke dalam mobil. Tuan Dirja pun, memerintahkan Pak sopir untuk segera ke rumah sakit tempat Gia dirawat.
Selang 15 menit, mereka pun sampai di rumah sakit. Tuan Dirja, langsung menanyakan kepada suster di mana letak ruang perawatan Gia. Setelah mengetahui ruang perawatan Gia, dengan langkah tergesa Tuan Dirja pun langsung masuk ke dalam ruangan Gia, di ikuti oleh Elsa dan kedua putrinya.
Saat mereka masuk ke dalam ruang perawatan Gia, kondisinya Gia sangat memprihatinkan. Elsa, bahkan merasa kasihan pada lelaki yang pernah menghancurkan hidupnya itu.
Rasanya Tuan Dirja begitu takut jika Gia, akan meninggalkannya.
"Jangan tinggalkan, Daddy. Bangun Gia, Sayang. Daddy takut, di masa tua, Daddy, kamu akan meninggalkan Daddy sendirian." ucap Tuan Dirja.
Aurora memandang wajah Bundanya, dia seakan minta dukungan tentang apa yang harus dia lakukan saat ini.
Elsa yang seakan tahu akan kegundahan hati putrinya, Elsa pun menghampiri Aurora. Dia mengelus lembut puncak kepala putrinya itu, lalu mencium keningnya.
" Lakukanlah apa yang menurut kamu baik, Sayang. Bunda tahu, kamu memanglah anak yang baik." ucap Elsa.
Aurora pun menganggukkan kepalanya, kemudian Aurora menghampiri Tuan Dirja. Aurora memeluk lengan Tuan Dirja, lalu Aurora pun berkata.
"Aku, akan mendonorkan darah untuk Om Gia. Apakah Kakek senang?" ucap Aurora.
__ADS_1
Tuan Dirja seakan mendapatkan Oase di Padang tandus, dia langsung memalingkan wajahnya ke arah Aurelia, lalu mengangkat tubuh anak itu dan memangkunya.
"Apa kamu serius, Sayang? Kamu benar-benar memiliki golongan darah yang sama dengan Gia?" tanya Tuan Dirja.
Aurora pun menganggukkan kepalanya, Tuan Dirja terlihat senang bukan kepalang. Lalu dia pun menatap Elsa, Elsa pun terlihat menganggukkan kepalanya.
Dengan raut wajah senang, tuan Dirja langsung menggendong Aurora dan mengajaknya untuk bertemu dengan Dokter.
Setelah bertemu dengan Dokter, Aurora ternyata tak diperbolehkan untuk melakukan donor darah. Krena usianya yang baru lima tahun, itu akan membahayakan keselamatannya.
Usia pendonor harus 17-65 tahun, tapi, Aurora memaksa. Aurora berdalih jika dia tak segera mendonorkan darahnya, nyawa Gia dalam bahaya.
Akhirnya, dengan berat hati, Dokter pun mengizinkan. Awalnya Tuan Dirja juga tak mau membahayakan keselamatan Aurora, tapi ternyata, Aurora benar-benar ingin membantu kesembuhan Gia.
Setelah bernegosiasi, Aurora pun diajak oleh suster untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu. Dan ternyata setelah dilakukan pengecekan, golongan darahnya benar-benar sama dan juga sangat cocok.
Aurora pun langsung mendonorkan darahnya untuk Gia, anak itu terlihat sangat kuat dan berani. Dia sama sekali tak takut dengan jarum suntik yang menancap di tangannya.
Awalnya Elsa merasa ragu untuk mendonorkan darah Aurora untuk Gia, tetapi mau bagaimanapun juga Aurora tetaplah anak kandung Gia.
Walaupun lelaki itu pernah menjahati'nya, merebut paksa kesuciannya. Tapi, Gia juga berhak mendapatkan pertolongan dari putrinya sendiri.
Setelah mendapatkan donor darah, keadaan Gia berangsur stabil. Tapi, Dokter mengatakan jika Gia mengalami koma. Karena benturan keras pada kepalanya, Dokter juga mengatakan jika kemungkinan kaki Gia akan mengalami kelumpuhan sementara.
Tuan Dirja hanya bisa pasrah, dia hanya bisa berdo'a pada Tuhan untuk kesembuhan putranya. Elsa yang awalnya terlihat membenci Gia, kini berubah iba.
Apa lagi, saat melihat Tuan Dirja yang menangisi keadaan putranya. Membuat hati Elsa, terenyuh. Sungguh pemandangan yang luar biasa pikirnya, seorang Ayah begitu menyayangi putranya.
Begitupun, dengan Aurora dan Aurelia. Awalnya mereka merasa sangat benci pada Gia, apalagi saat mengetahui Dia pernah memperkosa Bunda mereka.
Tetapi saat melihat kondisi Gia yang begitu mengenaskan, mereka pun menjadi kasihan, mereka iba, rasanya mereka ingin sekali menghiburnya.
"Terimakasih, Sayang." ucap Tuan Dirja.
"Sama-sama, Kakek. " ucap Aurora.
__ADS_1
"Sekarang, kalian pulanglah. Kalian pasti capek, apalagi kamu Aurora, pasti kamu sangat lelah karena sudah mendonorkan darah untuk putra kakek. Terima kasih sekali lagi," ucap Tuan Dirja.
Elsa dan kedua putrinya pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat, biarkan Gia ditemani oleh Ayahnya, pikir Elsa.