Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Perawatan


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, Gia sudah berada di rumah Elsa. Padahal, besok adalah hari pernikahannya bersama dengan Elsa.


Tapi, tidak ada kata di pingit atau apa pun itu. Gia tetap saja, tak bisa menahan diri untuk bertemu dengan Elsa.


Padahal, Tuan Dirja sudah mengatakan jika Elsa akan di antar jemput oleh supir peribadi'nya. Tapi, Gia seakan tak rela.


"Sudah siap?" tanya Gia, saat melihat Elsa yang baru saja keluar dari kamarnya.


Elsa langsung menatap Gia, yang sedang duduk anteng di ruang tengah.


"Sudah," jawab Elsa singkat.


Gia langsung bangun dan menghampiri Elsa," berangkat sekarang aja ya?"


"Terserah, aku manut. Nolak juga ngga bakal bisa," jawab Elsa.


Gia langsung terkekeh mendengar jawaban dari Elsa, memang benar adanya. Keinginan Gia seakan titah mutlak, bukan sebuah pertanyaan belaka.


"Bunda pinter banget, aku jadi makin cinta." Gia langsung mencuil dagu Elsa, sedangkan Elsa terlihat mencebik kesal.


Gia langsung merangkul pundak Elsa, dia hendak keluar dari rumah Elsa, untuk pergi ke salon.


Melihat Ayah dan bundanya hendak pergi, Aurora dan Aurelia langsung menghampiri mereka.


"Aku ngga di ajak, Bun?" tanya Aurora.


"Aku juga ngga di ajak ke salon?" tanya Aurelia.


Gia, langsung berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan kedua putrinya.


"Kalian di rumah saja, Ok!? Bunda ke salon, karena mau melakukan perawatan khusus calon pengantin." Gia, mengelus lembut puncak kepala twins A secara bergantian.


Aurora dan Aurelia nampak mencebik, mereka sebenarnya ingin selalu bersama dengan kedua orang tuanya kemana pun mereka pergi.


Rasanya, mempunyai Ayah itu, sangatlah menyenangkan untuk mereka. Apa lagi mereka baru tahu sekarang, jika mereka mempunyai orang tua utuh.


Rasanya, bahagia tiada terkira.


"Jangan sedih, Sayang. Setelah selesai, Bunda, langsung pulang. Kalian mau di beliin apa?" Elsa sengaja merayu kedua putrinya, agar mereka tak merajuk lagi.


Aurora dan Aurelia nampak berpikir, kemudian mereka pun berkata.


"Coklat," ucap Aurora.

__ADS_1


Aurelia terlihat membayangkan, coklat yang manis dan lumer saat di ****.


"Ice cream," ucap Aurelia.


Aurelia langsung menirukan gaya kedinginan, saat menyebut kata makanan yang dingin itu.


"Ok, nanti Ayah belikan. Sekarang, kalian anteng-anteng di rumah." Gia langsung mengecup kening kedua putrinya secara bergantian.


Aurora dan Aurelia pun terlihat senang, karena mereka akan di belikan makanan kesukaan mereka.


"Hati-hati Bunda, Ayah." Aurora langsung melambaikan tangannya.


"Jangan lupa pesanannya," ucap Aurelia.


Gia dan Elsa pun langsung tersenyum, belum berangkat saja mereka terus di ingatkan. Mereka berharap, semoga saja tak lupa akan pesanan kedua putrinya.


Setelah berpamitan kepada kedua putrinya, Gia dan Elsa pun langsung pergi menuju salon terbaik yang ada di kota tersebut.


Tentunya, sebelum pergi. Mereka tak lupa untuk menitipkan kedua putrinya kepada Ibu Anira, karena memang hanya dia lah yang selalu bersama dengan twins A di rumah.


Sampai di salon, Elsa dan Gia langsung di sambut oleh pemilik salon tersebut. Wanita Cantik bernama Arzety, sudah berdiri di depan pintu.


"Selamat datang Tuan Gia, Nyonya Elsa. Suatu kehormatan untuk kami, karena kalian sudah berkenan datang ke salon kami." Arzety langsung membungkuk hormat kepada mereka berdua.


"Jadi, apa yang harus di lakukan terlebih dahulu oleh calon istri saya?" Gia menuntun Elsa untuk duduk di sofa tunggu, Elsa pun menurut.


"Kita melakukan pijat full body dulu, perawatan badan, lalu di lanjut dengan perawatan wajah." Arzety menjelaskan dengan gamblang, agar Gia bisa paham.


Gia pun terlihat manggut-manggut, tanda mengerti.


"Lalu, berapa lama waktu yang di perlukan?" tanya Gia lagi.


Arzety pun tersenyum," sekitar lima jam, Tuan."


"Lumayan lama.. Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan, pukul tiga sore aku jemput." Gia lalu mengecup bibir Elsa sekilas, membuat Elsa langsung melotot ke arah Gia.


Sedangkan Arzety, nampak menunduk malu karena melihat ulah Gia. Karena Arzety, memang belum menikah.


Setelah berpamitan kepada Elsa, Gia langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Sedangkan. Elsa, langsung di ajak ke sebuah ruangan untuk memulai acara perawatan tubuhnya.


Hari itu, Elsa benar-benar merasa di manjakan. Dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, benar-benar mendapatkan perawatan.


Badan Elsa pun menjadi rileks, perasaannya terasa lebih tenang dan tentunya terlihat lebih segar dan cantik.

__ADS_1


Berbeda dengan Elsa, berbeda juga dengan Gia. Gia langsung menuju kantornya, karena masih ada beberapa berkas yang harus dia tandatangani.


Sampai di kantor, Ajun pun langsung menghampirinya. Melihat Ajun datang, lidah Gia pun terasa gatal untuk bertanya.


"Bagaiaman dengan persiapan pernikahan ku, beaok?" tanya Gia.


"Sudah seratus persen siap, tinggal menunggu janji suci yang akan di ucapkan oleh kedua mempelai." Ajun menjelaskan seperti laporan yang dia terima, dari anak buahnya.


"Bagus, saya selalu suka cara kerja kamu." Gia mengambil berkas dan mulai memeriksanya.


"Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan." Pamit Ajun.


Ajun pun segera berlalu dari ruangan Gia, karena memang, Ajun masih haris mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Karena Gia, jarang masuk karena sibuk dengan urusan peribadinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi, Gia belum datang. Elsa pun memutuskan untuk menghubungi teman lamanya Dina.


Walaupun mereka tak pernah bertemu lagi, tapi, mereka masih berkomunikasi dengan baik.


"Halo, Sa." Terdengar sapaan dari sebrang telpon, saat telponnya tersambung.


"Na, elu jadi kan ke acara pernikahan gue Besok?" tanya Elsa.


"Jadi, jadi. Jam sepuluh kan? Gue dari sini nya pagi-pagi banget, sampe hotel gue langsung nyamperin ke ruangan tempat di mana elu make-up." Dina bukannya tak mau datang dari sekarang, hanya saja dia merasa malu. Karena sampai saat ini, dia belum mempunyai pasangan.


"Terserah elu, aja. Yang penting, pas acara sakral gue, elu udah harus hadir." Elsa seolah tak mau tahu, dia hanya ingin temannya itu datang di acara pernikahannya.


"Iya, bawel! Gue lagi gawe, nanti di sambung lagi." tanpa menunggu jawaban dari Elsa, Dina langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Ck, kebiasaan." Kesal Elsa.


Tepat di saat Elsa memasukan ponselnya, Gia datang untuk menjemput Elsa.


"Bunda'nya anak-anak cantik banget, Ayah Gia jadi makin Cinta." Elsa langsung memutar bola matanya, dia seolah mual mendengar rayuan garing dari calon suaminya.


"Pulang yu?" ajak Elsa.


"Iya, kita pulang. Tapi, di Mart kita mampir dulu ya?" ajak Gia.


"Mau apa?" tanya Elsa.


"Mau beliin pesanan kedua putri kita, Bunda. Jangan bilang Bunda lupa?" todong Gia.


Elsa hanya menampilkan deretan gigi putih' nya, karena pada kenyataannya, Elsa memanglah lupa.

__ADS_1


Karena gemas, Gia langsung mencubit gemas hidung Elsa. Sedangkan Elsa, langsung memonyongkan bibirnya tak terima.


__ADS_2