
Gia langsung tersenyum, saat melihat wajah Elsa yang terlihat serba salah saat melihat dirinya yang hanya menggunakan handuk kecil yang hanya menutupi area pribadinya.
Gia melangkahkan kakinya dan Elsa langsung memundurkan langkahnya, setiap kali Gia melangkahkan kakinya. Hingga akhirnya, tubuh Elsa terpentok ke dinding.
Gia pun tersenyum saat melihat kepanikan dii wajah Elsa, Gia sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah Elsa.
Tujuannya hanya satu, ingin menggoda Elsa. Saat wajah Gia semakin mendekat, Elsa langsung menutup matanya dengan kuat. Gia langsung terkekeh, melihat wajah Elsa yang terlihat sangat menggemaskan baginya.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa merem-merem begitu? Mau aku cium?" tanya Gia.
Elsa langsung membuka matanya, kemudian dia menatap wajah Gia yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Mas, ngerjain aku ya? kamu tega deh, Mas. Aku udah takut tahu!" rajuk Elsa.
"Mas, sudah bilang kalau kamu ngga ngasih, Mas, Ngha bakal maksa. Mulai sekarang, Mas, pasti minta izin dulu sama kamu." Gia menggenggam tangan Elsa dan mengecupinya secara bergantian.
"Terima kasih, Elsa jadi sayang sama, Mas." Ucap Elsa lirih.
Gia langsung membulatkan matanya, dia tak menyangka jika Elsa akan berkata demikian.
"Coba katakan lagi, Mas mau denger." Gia mendekatkan kupingnya ke bibir Elsa.
Elsa langsung mendorong pelan wajah Gia," Elsa malu." Kata Elsa," Elsa ke dapur dulu, mau siapin makan malam," setelah bicara Elsa lalu beralri keluar dari kamar mereka.
Gia hanya tersenyum, saat melihat tingkah istrinya yang pemalu itu. Lalu, Gia pun langsung mengambil baju yang sudah disiapkan oleh Elsa di atas tempat tidurnya.
Selesai berpakaian, Gia langsung keluar dari dalam kamarnya. Kakinya langsung melangkah menuju ruang makan, karena Gia mendengar suara keributan dari sana.
Saat Gia sampai di ruang makan, ternyata semua yang ada di sana nampak sedang menggoda Dina dan VB. Dina terlihat malu-malu, sedangkan VB terlihat sangat agresif dalam mendekati wanita yang telah menggetarkan hatinya itu.
Gia hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka jika di brondong tengil yang menyebalkan itu, begitu sering datang ke rumahnya karena mengejar wanita yang tak lain adalah sahabat istrinya sendiri.
"Ehm," Gia berdehem lalu duduk di dekat Elsa.
Semua yang ada di sana nampak terdiam dengan kedatangan Gia, mereka seolah enggan untuk bersuara. Bahkan Aurora dan Aurelia pun, langsung duduk tenang sambil memilih makanan yang mereka suka.
Gia langsung menatap kursi tempat Tuan Dirja duduk, dia tak ada di sana. Gia pun, langsung bertanya pada istrinya.
__ADS_1
"Daddy mana, Yang?" tanya Gia.
"Daddy lagi ke Dokter, katanya pinggangnya sakit. Ibu juga sekalian ikut, takut Daddy kenapa-kenapa." Kata Elsa.
"Emmp, pantas tak terlihat." Gia mulai mengendok nasi, Elsa membantu mengambilkan lauknya.
Pandangan Gia, beralih pada VB.
"Kalau kamu serius, bawa keluarga kamu datang kemari. Lamar Dina, secara resmi." Kata Gia.
VB terlihat sangat bahagia mendengar ucapan dari Gia, sedangkan Dina nampak memberenggut kesal.
"Beneran, Kak? Gue mau banget, kalau perlu lusa gue langsung kemari buat lamar Ayang Dina." VB langsung mengusap lembut tangan Dina.
Dengan cepat, Dina menepis tangan VB. VB memang tampan, terbukti dengan banyaknya fans yang selalu mengerumuni dirinya. Tapi, Dina justru merasa takut jika harus menikah dengan VB.
Dia muda, berbakat, banyak penggemarnya dan yang pasti dia merasa kurang pantas jika harus bersanding dengan VB.
"Sinting!" umpat Dina.
"Kak, elu lagi dukung gue, apa jatuhin gue sih?!" kesal VB.
Semua yang ada di sana nampak tertawa, mereka merasa lucu dengan apa yang diobrolkan oleh Gia dan VB.
Jauh di dalam lubuk hatinya Dina, dia juga ingin menikah dengan VB beberapa hari bersama dengan VB membuat dia merasa nyaman.
Bahkan, walaupun usia mereka terpaut jauh. Tapi, VB sangat pengertian. Dia bahkan selalu berusaha untuk membuat Dina nyaman, baik dalam berperilaku ataupun berbicara.
"Bagaimana, Yang? kamu mau kan nikah sama aku? Kalau mau, lusa aku kemari sama Mommy sama Daddy." VB berucap dengan penuh harap.
Dina terlihat menghela napas panjang, kemudian Dina pun berucap.
"Besok bawa gue ketemu sama kedua orang tua elu, kalau mereka setuju, gue mau nikah sama elu." Akhirnya Dina pun mengambil keputusan yang menurutnya sangat berat.
Padahal mereka belum ada satu minggu bertemu, tapi, dia VB merasa begitu yakin jika Dina adalah wanita yang di ciptakan tuhan untuknya.
VB yang sangat bahagia dengan apa yang diucapkan oleh Dina pun, langsung menghampiri Dina dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Terima kasih, Yang. Besok aku jemput kamu, Mommy sama Daddy bukan pemilih. Kamu ngga usah takut saat ketemu mereka nanti." VB langsung melerai pelukannya.
VB langsung mendekatkan wajahnya, dia hendak mencium wajah Dina karena senang. Tapi, Gia langsung bangun dan menoyor wajah VB.
"Dasar brondong tengil, elu ngga lihat ada anak-anak gue!?" Gia mendengus, lalu kembali duduk di kursinya.
VB langsung menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal, sambil memamerkan deretan gigi putihnya. Karena merasa malu, VB pun langsung duduk dan melanjutkan makannya.
Acara makan malam pun berlanjut dengan hidmat, tak ada obrolan lagi di antara mereka. Semua yang ada di sana, hanya fokus menikmati makan malam mereka.
Setelah selesai makan malam, Elsa langsung mengajak kedua putrinya menuju ruang keluarga. Gia pun langsung mengikuti istrinya.
Mereka duduk bersamanya di ruang keluarga, sesekali mereka terlihat bercanda dan tertawa. Mereka sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.
Lain Elsa lain pula dengan Dina, Dina langsung mengantarkan VB ke depan rumah. Karena hari sudah malam, VB pun harus segera pulang.
Sebelum masuk ke dalam mobilnya, VB nampak menggenggam tangan Dia kemudian mengecupinya secara bergantian.
"Tangan kamu bau terasi, Yang." VB berucap sambil mengendus tangan Dina.
Dengan cepat Dina langsung menarik tangannya, dari genggaman tangan Gia.
"Issh, kamu tuh! kamu kan tahu, tadi aku makannya pake sambel terasi." Dina langsung mencebik kesal, dengan cepat Dia memunggungi VB.
VB langsung memeluk Dina dari belakang, lalu mengecupi pipi Dina dengan lembut.
"Jangan marah, aku hanya bercanda. Besok aku ke sini lagi, dandan yang cantik." VB kembali mengecup pipi Dina.
"Hem, udah sana pulang." Titah Dina.
VB memutarkan tubuh Dina, hingga mereka pun kini saling berhadapan.
"Kiss dulu, Yang. Baru aku pulang," pinta VB dengan bibir yang sudah maju dua senti.
"Lambe mu! ngga lihat noh, pak satpam lihatin kita terus!" ketus Dina.
VB pun melihat ke arah security yang sedang menatapnya dengan tajam, VB pun langsung bergidig.
__ADS_1