
Tuan Dirja mengajak Aurora dan Aurelia ke Mall terbesar yang ada di pusat kota, Tuan Dirja terlihat kewalahan dalam menuruti keinginan kedua cucunya itu.
Ternyata mengajak bermain dua anak genius itu sangatlah berat dan membuatnya sangat lelah, Tuan Dirja sampai terlihat kecapean dibuatnya.
Padahal, dia sudah membawa dua asisten rumah tangga dan juga beberapa bodyguard. Tapi, karena kemauan mereka yang banyak, membuat Tuan Dirja terlihat kelelahan.
Twins A, awalnya hanya minta bermain. Menikmati semua permainan yang ada di sana, kemudian berlanjut dengan berbelanja.
Twins A, juga mengajak Tuan Dirja untuk masuk ke sebuah kedai ice cream dan yang terakhir mereka meminta Tuan Dirja untuk mengajak mereka makan di Resto cepat saji.
Hal itu membuat Tuan Dirja benar-benar merasa tenaganya telah terkuras, apa lagi usianya yang tak lagi muda.
Lagi-lagi Tuan Dirja harus kerepotan saat para fans datang mengerumuni mereka, kepala Tuan Dirja langsung terasa sakit. Karena harus mengikuti semua kemauan dari para fans, kedua cucunya itu.
Para bodyguard yang dia bawa pun sampai kewalahan karena harus menertibkan para fans, yang selalu bertingkah semaunya.
Pukul lima sore, mereka baru bisa pulang. Tuan Dirja, benar-benar bisa bernapas dengan lega. Dia langsung menuju kamarnya, karena ingin meluruskan pinggang dan kakinya yang terasa sangat pegal.
"Sepertinya, aku harus meminum obat encok." Tuan Dirja langsung merebahkan tubuhnya sambil mengelus pinggangnya.
Lalu, bagaimana dengan Aurora dan Aurelia?
Mereka langsung berlari menuju kamar kedua orang tua nya, sedangkan barang belanjaannya di bawa oleh asisten dan para bodyguard yang mengikuti mereka.
"Ayah!"
"Bunda! "
Aurora dan Aurelia langsung menggedor pintu kamar kedua orang tuanya dengan kencang, Elsa dan Gia yang sedang tertidur pun langsung terlonjak kaget.
Mereka terlihat kebingungan, karena mereka masih dalam keadaan polos. Setelah mereguk manis madu cinta, mereka langsung tertidur denga pulas.
Bahkan mereka sampai melewatkan jam makan siang mereka, karena Gia melakukannya tak hanya sekali.
Elsa segera menarik selimut dan berlari ke dalam kamar mandi, sedangkan Gia, dia langsung mengambil kimono mandi dan memakainya dengan cepat.
Mereka berdua, benar-benar seperti maling yang sedang tertangkap basah.
Dengan mata yang belum terbuka sempurna, dengan kesadaran yang belum terkumpul, Gia langsung berlari ke arah pintu.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, kedua putrinya langsung menubruk badan Gia dengan penuh semangat. Mereka rindu dengan Ayah dan Bundanya, yang setengah hari ini mereka tinggalkan.
Gia yang kesadarannya belum terkumpul, hampir saja terjatuh. Beruntung, Gia yang bertubuh tinggi dan berotot, bisa dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya.
"Astaga.. Anak Ayah semangat banget," ucap Gia yang langsung mengusap puncak kepala kedua putrinya.
"Aku rindu, Ayah." Kata Aurora.
"Aku juga," ucap Aurelia menimpali
Aurora dan Aurelia langsung mengedarkan pandangan mereka, mereka mencari sosok Bunda yang sudah sangat mereka rindukan.
"Bunda, mana?" tanya Aurora.
"Aku udah kangen banget sama, Bunda." Aurelia langsung berjalan dan mencari Bundanya.
"Bunda lagi mandi, Sayang." Kata Gia.
"Ayah,," panggil Aurelia.
"Ya, Sayang." Jawab Gia.
Gia baru tersadar, saat akan melakukan penyatuan dengan Elsa. Gia melemparkan semua kain yang melekat di tubuh mereka ke sembarang arah.
Dengan cepat, Gia memunguti semua pakaian dia dan pakaian Elsa. Kemudian, dia berlari dan menyimpan baju kotor mereka di keranjang baju kotor.
Dengan cepat, Gia memutar otaknya. Dia tak bisa membiarkan kedua putrinya berlama-lama di dalam sana.
"Kalian pasti cape, bagaimana kalau kalian langsung mandi saja? Ayah juga mau mandi soalnya," Gia segera mencari alasan, dia takut jika kedua putrinya akan bertanya hal yang tidak-tidak.
Apa lagi, mereka mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Pasti, mereka akan cepat mengerti dan Gia tidak mau kalau sampai itu terjadi.
"Ayah bener, aku mau berendem pake air hangat." Aurora langsung mengecup pipi Gia lalu meninggalkan kamar Gia dengan cepat.
Satu helaan napas, terdengar dari bibir tipis milik Gia.
"Kakak, aku ikut." Aurelia pun langsung mengecup kening Gia dan langsung menyusul Kakak kembarnya.
Kedua putrinya pun sudah pergi dari kamar, Gia. Gia pun kini bisa bernapas dengan lega.
__ADS_1
"Fiiiiuuuh.... "Gia pun bisa menghembuskan napas lega, setelah kepergian kedua putrinya.
Tepat di saat kedua putrinya keluar dari kamar Gia, di saat itu pula Elsa keluar dari kamar mandi.
Elsa terlihat hanya menggunakan handuk sebatas dada, rambutnya terurai dan masih terlihat basah.
Mata Gia tak bisa berkedip, Gia begitu betah melihat pemandangan yang sangat menggoda untuknya. Apa lagi saat melihat tanda kepemilikan yang Gia buat di dada Elsa, membuat dirinya ingin menambahkan kembali tanda-tanda Cintanya.
Kalau saja tak ingat akan trauma yang Elsa alami, rasanya, Gia ingin membalikan badan Elsa agar menghadap ke tembok dan dia akan menyuntiknya dari belakang.
Sayangnya, itu hanya angan-angan Gia saja. Karena sudah dapat di pastikan, Elsa tak akan mau. Perlu waktu yang lama, untuk merayu dan meyakinkan wanita yang pernah mengalami trauma seperti Elsa.
"Mas!" panggil Elsa.
"Apa?" tanya Gia dengan tatapan mata yang tak sedikit pun teralihkan dari tubuh Elsa.
"Itu, Mas. Itunya," tunjuk Elsa pada milik Gia yang sudah bangun dengan sempurna.
Gia yang hanya memakai kimono mandi saja, bisa melihat dengan jelas, jika belalainya sudah bangun dan tengah berdiri dengan sempurna.
Gia melihat ke arah yang di tunjuk oleh Elsa, saat menyadari belalainya sudah siap mencari sumber kenikmatannya, Gia pun langsung menutup miliknya dan berlari ke kamar mandi.
Elsa, merasa lucu dengan tingkah Gia. Tapi, Elsa juga bersyukur karena Gia tak memaksanya. Elsa, memang punya trauma akan apa yang Gia lakukan dulu terhadapnya. Tapi, Elsa juga tahu jika Gia adalah lelaki normal.
Apa lagi mereka pasangan pengantin baru, sudah dapat dipastikan jika Gia, pasti ingin terus mengajak Elsa untuk menggapai surga dunia.
Sampai di dalam kamar mandi, Gia merutuki dirinya. Dia kesal, karena miliknya tak bisa di ajak kompromi.
"Harusnya kamu tuh ngga usah bangun di saat yang tidak tepat, aku kan jadi susah buat tidurinnya." Maki Gia pada belalainya.
Gia langsung menyalakan kan air dingin dan langsung mengguyur tubuhnya, dia harus meredam hasratnya yang kian menggebu.
"Andai dulu, aku tak melakukan kesalahan. Pasti kamu ngga takut kaya gini sama, aku." Gia, begitu menyesali perbuatannya.
+
+
+
__ADS_1
Selamat malam geng,, jangan lupa tinggalkan jejak ya.. Kasih koment juga ,biar aku nya tambah semangat...