
Satu jam kemudian, Lucas pun datang menemui Nyonya Miranda dan Tuan Alson. Lucas memang selalu sigap, walaupun usianya sama dengan VB tapi tingkat kedewasaannya melebihi VB.
Lucas bahkan sangat bisa diandalkan, cara kerjanaya selalu cepat dan memuaskan.
Tuan Alson dan Nyonya Miranda yang awalnya ingin bersantai di hotel, malah tidak jadi. Merela memilih untuk pulang, karena kesal pada putra semata wayangnya.
"Selamat siang Nyonya, Tuan." Sapa Lucas.
"Sudah tahu di mana keberadaan anak nakal itu?" tanya Tuan Alson.
"Sudah Tuan, pukul enam pagi dia melakukan transaksi dengan kartu miliknya di sebuah hotel terbaik di kota S, Tuan." Lucas segera menjelaskan, Tuan Alson nampak menganggukkan kepalanya.
"Apakah dia bersama dengan menantuku?" tanya Tuan Alson.
"Ya, Tuan. Mereka sedang bersama, bahkan saat saya konfirmasi katanya mereka tak terlihat keluar kamar dari pagi. Untuk makan saja, mereka meminta untuk diantarkan ke dalam kamar.
Rasa gundah, rasa gelisah, rasa kesal dan juga rasa khawatir, kini berubah jadi rasa senang.
Tuan Alson dan Nyonya Miranda pun jadi berpikir, jika anak dan menantunya pasti sedang bergumul di bawah selimut yang sama. Mereguk manisnya madu cinta dan meleburkan dua hasrat dalam satu penyatuan.
"Ya sudah, biarkan anak nakal itu bersenang-senang." Kata Tuan Alson.
"Sekarang kamu pergilah, tolong handle dulu perusahan, aku sedang ingin beristirahat." Jelas Tuan Alson.
"Siap, Tuan." Lucas langsung membungkuk hormat, kemudian berlalu dari kediaman Fahreza.
Nyonya Miranda langsung menghampiri Tuan Alson, kemudian dia pun memeluk suaminya dengan sangat erat.
Mereka sangat bahagia, karena mendengar anak dan menantunya berada di dalam suatu kamar hotel yang sama. Banyak hal yang bisa membuat pasangan paruh baya itu bahagia.
Pastinya, yang paling membuat mereka senang adalah mereka sebentar lagi akan mempunyai cucu, itulah yang terbesit di otak mereka.
"Semoga cepat jadi ya, Dad." Ucap Nyonya Miranda penuh harap.
"Aku pun inginya seperti itu, semoga saja VB akan mempunyai keturunan yang banyak. Supaya rumah kita akan terasa lebih ramai." Kata Tuan Alson.
"He'em, Dad. Aku sudah tak sabar ingin dipanggil Oma." kata Nyonya Miranda.
__ADS_1
Tuan Alson pun langsung terkekeh," aku pun."
Tuan Alson dan Nyonya Miranda terlihat sangat bahagia, begitupun dengan VB dan Dina mereka terlihat bahagia.
Setelah tidur dan mengistirahatkan tubuh lelah mereka, Dina dan VB sedang menikmati indahnya pemandangan di sore hari.
Hujan yang senantiasa mengguyur, lambat laun berhenti. Seakan memberikan kesempatan pada dua insan yang sedang berselimut bahagia itu untuk menikmati kebersamaan mereka.
Dina dan VB terlihat sedang asik menikmati keindahan Alam yang tersuguh di taman yang tak jauh dari hotel tersebut.
Bunga-bunga dan dedaunan yang terlihay basah karena sisa air hujan yang silih berganti menetes, menambah kesan indah dan lebih terlihat hidup.
Beberapa kali VB terlihat mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat camera ponsel milik Dina yang sudah dia charge saat dia tidur tadi.
Bahkan, VB tanpa ragu mencium bibir Dina dan memotretnya. VB juga sengaja mengunggah kebersamaan mereka di laman sosial media milik Dina.
Sontak hal itu membuat postingan yang VB unggah mendapatkan banyak pujian, bahkan ada pula yang mencibir pasangan pengantin baru itu.
Saat VB membaca salah satu koment yang tidak mengenakan, VB segera menghapus pesan tersebut dan menguncinya.
Jika VB sudah terbiasa dengan segala ucapan aneh, nyeleneh bahkan yang julid nyelekit sekalipun, berbeda dengan Dina yang tak pernah mengalami akan hal itu.
Mulai sekarang VB harua menjaga istri cantiknya, entah dari apa pun itu. Pastinya, VB sudah memutuskan untuk setia dan menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan VB.
Bahkan VB rela meninggalakn dunia keartisannya, salah satunya karena Dina.
"Pemandangannya bagus ya, Sayang." Kata Dina.
"Hem, berbeda dengan suasana kota. Di sini kita masih bisa mengisi paru-paru kita dengan udara yang sangat sehat. Apa lagi abis ujan begini, terasa tambah seger ya, Sayang?" ujar VB.
Hari semakin sore, semilir angin terasa menusuk sampai ke tulang. Dina pun memutuskan untuk mengajak VB jalan-jalan sambil kulineran di pinggir jalan.
VB pun setuju, apa pun untuk istri cantiknya akan dia lakukan. Pastinya, jangan minta berpisah karena VB tak akan mengabulkan.
"Mau beli apa?" tanya VB.
Tak jauh dari taman, ternyata begitu banyak deretan kuliner yang menjajakan dagangannya dengan gerobak dorong yang bisa mereka bawa kabur kapan saja saat satpol pp tiba-tiba datang dan melakukan razia.
__ADS_1
"Beli makanan yang banyak boleh, ngga ?" tanya Dina.
Matanya terlihat berbinar, mulutnya seakan berliur saat melihat banyaknya deretan jajanan di sana. Ada syomay, cilok, bakso, permen kapas, pempek, soto, telur gulung dan banyak lagi lainnya.
Melihat binar bahagia di mata Dina, VB langsung tersenyum.
"Boleh, Sayang. Boleh, asal di makan. Jangan di buang-buang makanannya, masih banyak orang yang kelaparan di luar sana." Ujar VB.
Hati Dina langsung menghangat, dia tak menyangka jika VB bisa berbicara dengan bijak. Padahal yang dia tahu kesehariannya, selalu saja bertingkah konyol.
"Iya, Sayang. Lagian kan, tadi sebelum ke sini aku abis di... sama kamu. Aku butuh asupan makanan yang banyak, biar ngga lemes." Dina langsung mengatupkan mulutnya setelah mengucapakan kalimat tersebut.
VB langsung terkekeh mendengar penuturan istrinya," kamu nakal. Ya udah beli jajanan yang banyak, biar kuat. Sekalian beli obat kuat, biar ngga lemes."
Ucapan VB berhasil membuat tangan Dina mendaratkan cubitan di perut VB yang ternyata sangat liat, tentu saja karena VB memang rajin ngegym.
"Ngga berasa," kata VB.
Dina mencebik," perutnya keras banget."
VB langsung terkekeh "Yang bawah lebih keras, mau pegang?"
Dina langsung melotot sebal lalu memukul pundak VB karena kesal, sayangnya bagi VB tak terasa sakit sama sekali. Dina yang kesal pun langsung berjalan sambil menghentakan kakinya.
Dina pun lebih memilih untuk memesan banyak makanan daripada berdebat dengan suaminya.
"Kang, ciloknya satu. Di bungkus," pesan Dina.
"Siap, Neng Cantik." Jawab kang cilok.
Sambil menunggu pesanannya di bungkus, Dina pun memesan beberapa makanan yang ada di sana. Setelah semuanya terbungkus dengan rapih, Dina pun. langsung memanggil VB yang sedari tadi memperhatikan istri cantiknya itu.
"Ayang, bayarin." Ucap Dina manja.
VB langsung berdecak dalam hati, tapi dia tetap menghampiri istrinya.
"Tadi katanya kesal, giliran urusan bayar membayar manggil Sayangnya mesra banget. Dasar cewek! Eh? Biar begitu dia istriku, maafkan aku Tuhan." Gumam VB dalam hati.
__ADS_1