
Saat makan malam tiba, Suasana rumah yang biasanya sepi, kini terasa sangat ramai dengan celotehan Aurora dan Aurelia.
Tuan Dirja begitu senang, bahkan senyum di bibir tua'nya tak hentinya berkembang. Dia sangat senang, karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan.
Dia juga merasa bahagia, karena Elsa mau memberikan kesempatan kedua pada Gia. Walau Elsa terlihat masih takut pada Gia, tapi menurutnya, hanha perlu sedikit rayuan dan menunjukan rasa yang tulus, Elsa sudah mau berdekatan dengan Gia.
Makan malam pun telah selesai, semua anggota keluarga pun langsung berkumpul di ruang keluarga. Aurora dan Aurelia, terlihat sedang memperebutkan chanel tv yang akan mereka tonton.
Tuan Dirja terlihat menjadi penengah di antara keduanya, sedangkan Gia, di duduk dengan anteng. Akan tetapi, tangannya tak berhenti bergerak.
Sedari tadi, yang Gia masuk ke dalam baju Elsa dan mengelus punggung nya, sesekali tangannya akan turun dan meremat bokong Elsa.
Elsa ingin sekali berteriak dengan kelakuan yang menurutnya tak seharusnya di lakukan, tapi dia tak enak hati, karena ada kedua putrinya di sana dan juga Tuan Dirja.
"Awas saja kamu, tuh! Kalau nanti di dalam kamar, aku ngga bakalan ngizinin kamu buat nyentuh aku." Batin Elsa.
Sesekali, Elsa nampak menatap tajam ke arah Gia. Namun Gia seolah tak perduli, yang penting saat ini, Gia bisa menyentuh Elsa dengan bebas.
Saat mereka sedang asik dengan kegiatan masing-masing, tiba-tiba saja bel pintu berbunyi dengan sangat nyaring.
Elsa pun segera menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari jajahan tangan nakal suaminya.
"Biar Elsa yang buka," Elsa pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Saat Elsa membuka pintu, Elsa langsung berteriak sambil memanggil nama Ibunya dan juga Dina sahabatnya.
"Ibu,,,,,Na,,, Echa kangen." Elsa langsung merentangkan kedua tangannya.
Ibu Anira dan Dina, langsung terkekeh mendengar penuturan putrinya. Padahal, mereka baru dua hari tidak bertemu. Tetapi, Elsa seakan sudah merindukan dirinya dan juga Dina.
Mereka bertiga pun langsung saling memeluk.
Aurora dan Aurelia langsung menghampiri Elsa, karena mereka mendengar teriakan Elsa yang memanggil nama Bu Anira dan juga Dina.
Aurora dan Aurelia pun langsung menghampiri mereka dan ikut berpelukan. Mereka, sudah seperti teletubies saja.
"Nenek, datang?" Aurora mendongakan kepalanya melihat wajah Bu Anira.
__ADS_1
Bu Ani ra langsung tersenyum hangat, menatap wajah kedua cucunya.
"Nenek kenapa dateng ngga bilang-bilang?" tanya Aurelia.
"Memangnya, kalau Nenek bilang mau datang ke sini, Kalian mau apa?" tanya Ibu Anira.
"Mau jemput Nenek, biar Nenek tidak datang sendirian." Aurora melerai pelukannya, lalu menuntun Ibu Anira untuk masuk kedalam ruang keluarga.
Dina yang masih berada di samping Elsa, mulai merajuk. Karena dia tak di pedulikan oleh kedua putrinya Elsa.
"Hey, kenapa aku di cuekin?" tanya Dina.
Dina pura-pura cemberut, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aunty ada, Bunda. Jangan kolokan," jawab Aurora.
Dina hanya bisa mencebik pasrah, kedua putri Elsa memang tua, pikirnya.
"Lagian, Aunty sudah besar. Jangan manja!" ucap Aurelia.
Bukannya marah, Dina malah tertawa. Dia merasa sangat lucu dengan tingkah kedua putrinya untuk Elsa.
Gia melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Dia pun menghampiri Elsa dan berbicara kepadanya.
"Aku sengaja mengajak Ibu, untuk tinggal bersama kita. Agar kamu tidak kesepian, kalau aku sedang bekerja. Aku pergi ke kamar terlebih dahulu, kamu bersenang-senanglah dengan Dina dan juga Ibu."
Gia mengecup kening Elsa dengan mesra, hal itu membuat jiwa jomblo Dina meronta.
"Iya, Mas." Jawab Elsa.
Setelah mengucapkan kata itu, Gia pun segera berlalu dari ruang keluarga. Dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya, karena dia harus memikirkan strategi tentang bagaimana caranya, agar Elsa bisa langsung luluh terhadapnya.
Tentunya, tanpa harus dirayu dulu karena rasa takut yang dia dera. Karena menurut Gia, terlalu lama tak bisa menyentuh Elsa, itu sangatlah menyiksa.
Untuk saat ini, Gia masih bisa menahannya. Tapi, Gia tak bisa menjamin untuk kedepannya.
Setiap hari Gia akan tidur bersama dengan Elsa, tak mungkin Dia tak akan tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya.
__ADS_1
Jika di dalam kamar Gia, sedang sibuk memikirkan strategi untuk meluluhkan hati istrinya. Berbeda dengan keadaan di ruang keluarga, yang terdengar begitu ramai.
Karena Arora dan Aurelia, begitu berisik. Mereka begitu senang, kerena di kelilingi oleh orang-orang yang mereka sangat sayangi.
Baru kali ini, mereka begitu bahagia dan tertawa dengan lepas. Karena begitu banyak orang yang menyayangi mereka. Elsa pun jadi terharu di buatnya, rasanga menikah dengan Gia adalah keputusan yang tepat.
Walaupun, Elsa belum bisa menyerahkan cintanya buat Gia.
Aurora dan Aurelia begitu anteng bermain dengan mainan baru yang di belikan Tuan Dirja, sedangkan Tuan Dirja langsung pamit.
Dia butuh istirahat, badannya sudah mendingan karena sudah meminum obat. Tapi, dia tak mau mengambil risiko.
Dina langsung mendekati Elsa, dia mendekatkan diri pada Elsa. Karena ada hal yang ingin dia bahas bersama dengan Elsa.
"Sa, gue sebel sama si VB itu. Katanya, dia mau ngajakin gue kawin." Adu Dina pada Elsa.
Dina membayangkan VB, yang datang ke rumah Bu Anira dan mengajaknya untuk memulai hubungan, untuk di lanjutkan ke jenjang pernikahan.
"Nikah Na, jangan kawin dulu." Elsa mengingatkan.
"Ck, maksud gue itu. Tapi, gue ngerasa kurang suka sama VB, dia masih berondong." Dina mengutarakan pendapatnya tentang VB.
"Elu ngga suka, atau ngga Pede bersanding sama Aktor ternama?" Tanya Elsa dengan seringai di bibirnya.
"Jangan Ngehina gue, begini-begini gue cantik. Walaupun tak berpengalaman, untuk urusan ranjang." Ucap Dina lirih.
Dina memang agak sensitif kalau untuk urusan ranjang, karena sering di putuskan pacar gara-gara tidak mau di ajak bermain di atas ranjang.
"Elu harus lihat seberapa tulus dia ngajakin elu buat nikah, kalau udah yakin, langsung saja. Ngga usah nunggu-nunggu waktu, keburu tua." Saran Elsa.
"Astaga, Sa. Omongan elu, bener banget. Abis nikahan, gue harus buruan kejar target, biar cepet punya bocah yang lucu-lucu kaya anak elu." Dina langsung tersenyum, saat membayangkan jika dirinya menikah, mengandung dan juga melahirkan.
Elsa jadi terkekeh geli, melihat kelakuan Dina. Dia tahu, jika Dina sudah ingin berumah tangga. Hanya saja, dia belum bertemu dengan lelaki yang cocok untuk dirinya.
"Bener itu, kamu harus sedia obat encok." Bisik Elsa.
"Elu bener, " jawab Dina.
__ADS_1
Mereka pun langsung terkikik mendengar ucapan mereka sendiri, sedangkan kedua putri Elsa begitu asik bermain dengan mainan barunya tanpa peduli dengan apa yang mereka bahas.