
Saat tiba di ruang makan, wajah Gia langsung terlihat kesal. Pasalnya, cilok dan cimol yang dia beli sudah habis di makan oleh Aurora, Aurelia dan juga Tuan Dirja.
"Babby, itu cilok sama cimolnya punya Ayah!" kesal Gia pada Aurora dan Aurelia, sedangkan kedua putri Gia hanya tersenyum kikuk karena menghabiskan makanan Ayahnya tanpa permisi.
Elsa yang melihat kekesalan di wajah Gia langsung menghampiri suaminya, lalu mengelus lembut pundak suaminya tersebut.
Tentu saja Elsa tidak mau hanya karena gara-gara jajanan cilok dan cimol hubungan antara Gia dan kedua putrinya jadi merenggang.
"Sabar ya, Sayang. Jangan marah-marah, nanti kita bisa beli lagi." Kata Elsa mengucapkan kata bujuk rayunya.
"Tapi, Sayang. Mas maunya makan ciloknya sekarang, Mas sudah ngiler banget ini," kata Gia merajuk.
"Ya Tuhan, Mas! Kita cari cilok sama cimolnya sekarang, mau aku antar sekarang?" kata Elsa.
Bukannya menjawab, Gia malah terlihat mencebik kesal. Lalu, Gia terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut, Aurora dan Aurelia yang merasa bersalah pun langsung menghampiri Ayahnya.
Kemudian, mereka pun memeluk Gia dengan sangat erat. Tak lupa, kecupan-kecupan hangat' pun mereka labuhkan di setiap inci wajahnya Gia.
Gia yang tadinya terlihat sangat kesal pun menjadi luluh, karena menurut Gia perlakuan dari Aurora dan Aurelia itu begitu manis
Bahkan dia merasa hatinya menghangat, dia merasa sangat senang karena mempunyai dua putri yang cantik dan juga hebat.
Walaupun mereka memang lahir dari sebuah kesalahan yang Gia lakukan, tapi Gia tak pernah menyesal karena sudah mempunyai dua putri cantik seperti mereka.
"Ayah, maafkan Rara. Ciloknya sangat enak, jadinya Rara menghabiskannya," ucap tulus Aurora.
"Maafkan Rere juga, Yah. Cimolnya sangat enak, jadi Rere menghabiskannya. Rere juga tidak tahu kalau itu punya Ayah," ucap tulus Aurelia.
Gia pun langsung tersenyum, lalu dia memandang kedua putrinya secara bergantian.
"Tak apa, Ayah sudah memaafkan kalian. Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi saja? Kita cari jajanan di luar saja, mau?" ucap Gia menawarkan.
"Mau, Yah. Mau banget," ucap Aurora dan Aurelia bersamaan.
Elsa pun pada akhirnya bisa bernafas lega, karena ternyata Gia mau berdamai dengan kedua putrinya.
"Ya udah, Mas. Mumpung belum malem, kita berangkat sekarang saja." Ajak Elsa sambil mengulurkan tangannya, dengan senang hati Dia pun menerima uluran tangan dari Elsa.
__ADS_1
"Dad, kita pergi dulu." Pamit Gia, lalu dia pun menghampiri Tuan Dirja dan mengecup keningnya.
"Ya, hati-hati," jawab tuan Dirja.
Gia, Elsa dan kedua putrinya pun langsung pergi. Tentu saja tujuannya bukan Mall atau Resto mahal, namun... Gia ingin pergi ke pinggir taman.
Di mana di sana banyak pedagang yang menjajakan dagangannya dengan banyak varian makanan, makanan berharga murah namun enak dan tidak murahan.
"Loh, kok kita malah ke sini, Yah?" tanya heran Aurora.
"Iya, Sayang. Kita akan makan. sepuasnya di sini," kata Gia.
"Tapi, Yah. Bagaimana kalau nanti banyak fans kita yang minta foto?" tanya Aurelia.
Tentu saja kedua putri Elsa yang sedang naik daun itu, tidak mau dikenali banyak orang. Karena kalau sampai banyak orang yang mengenali mereka, mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk mencari jajanan yang ereka inginkan.
Namun, mereka akan menghabiskan waktu untuk berfoto ria dengan para penggemarnya. Mendengar keluhan dari kedua putrinya, Elsa seakan paham. Elsa langsung mengambil kotak make up'nya yang selalu dia simpan di dalam mobil.
Kemudian, dia pun mengajak Aurora dan Aurelia untuk didandani. Awalnya Aurora dan Aurelia merasa bingung, namun setelah melihat senyum Elsa, kedua putri Elsa pun langsung tersenyum.
Mereka paham kalau Elsa akan merubah penampilan wajah mereka, tentunya agar tidak diketahui oleh para fansnya.
"Harus berubah, kalau perlu jadi seperti boneka Barby berjalan." Aurelia berucap dengan antusias, bahkan. sampai mencubit gemas tangan Gia.
Gia hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah kedu putrinya.
15 menit bergulat dengan peralatan make up miliknya, akhirnya wajah Aurora dan Aurelia pun nampak berbeda. Bahkan, Elsa sengaja mendandani mereka dengan dandanan yang tidak sama.
Sehingga, membuat Aurora dan Aurelia sedikit berubah dan tidak terlalu mirip seperti anak kembar pada umumnya.
Aurora dan Aurelia langsung mengambil cermin kecil yang ada di kotak make up tersebut, lalu senyuman Indah pun langsung terukir dari bibir keduanya.
"Bunda memang hebat!" ucap kedua putrinya.
Elsa langsung tersenyum senang, karena melihat kesenangan di wajah kedua putrinya. Sedangkan Gia hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena ternyata istrinya benar-benar pandai.
Setelah semuanya siap, Gia pun mengajak Elsa dan kedua putrinya untuk berkeliling. Tentunya berkeliling untuk mencari jajanan yang sangat mereka inginkan.
__ADS_1
Pastinya, makanan yang palin dicari oleh Gia adalah cilok dan cimol yang sangat dia inginkan sejak tadi. Seperti makanan yang sore tadi dia beli di pinggir jalan.
Sayangnya tidak ada cilok yang seperti dia beli, di sana memang ada gerobak cilok. Namun di gerobak tersebut ada tulisannya cilok asap, Gia pun mengernyitkan dahinya.
Lalu, dia pun menghampiri tukang cilok tersebut dan berniat untuk bertanya tentang cilok tersebut.
"Kang, ini namanya beneran cilok asap?" tanya Gia.
"Iya, Den. Cilok asap ini," jawab Kang cilok.
"Memangnya rasanya enak? Ngga bau asep gitu?" tanya Gia.
"Tentu tidak bau Asep atuh, yang ada rasanya enak. Harganya murah lagi, Aden mau coba?" tanya Kang cilok.
"Wah... boleh, Kang. Satu porsi ya?" pinta Gia.
"Mau yang kuah, apa kering?" tanya Kang ciloknya.
" Yang kuat deh, tapi sambalnya jangan banyak-banyak. Kalau kurang bisa nambah," kata Gia.
"Siap," jawab Kang cilok.
Jika Gia kini sedang asik duduk sambil menunggu cilok pesanannya datang, berbeda dengan Elsa. Elsa terlihat sedang memesan sebuah burger berisi daging telur, dan juga keju yang tak jauh letaknya dari tempat Gia.
Sedangkan Aurora dan Aurelia, mereka terlihat sedang membeli es krim dan juga permen kapas. Mereka mencolekkan permen kapas kepada es krim yang mereka beli, sungguh ada-ada saja pikir Gia saat melihat kelakuan kedua putrinya.
Saat pesanan Gia datang, dia langsung memakan cilok asap tersebut dengan lahap. Dia sudah seperti orang yang sudah seharian penuh tak mendapatkan makanan.
"Tuan, anda sedang apa di sini?"
Gia langsung mendongakkan kepalanya, kala mendengar ada suara seorang wanita yang menegurnya.
"Kamu? Sedang apa di sini?" tanya Gia.
"Ih... Tuan mah gitu, saya nanya bukannya dijawab malah balik nanya!" kata Gadis yang kebetulan sedang berada di sana.
Melihat Gia yang terlihat sedang asik mengobrol dengan seoaran perempuan muda, Elsa langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Mas, dia siapa??"