Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kenangan Mantan


__ADS_3

Gia melajukan mobilnya dengan sangat cepat, karena dia sudah terlambat. Seharusnya pukul 8 pagi, dia sudah berada di kantor karena akan ada rapat penting.


Sedangkan saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Ia pun merasa terdesak, apalagi Ini pertama kalinya dia kembali bekerja.


Banyak hal, yang harus dia persiapkan sebelum meeting dimulai. Tiba di kantor, dia pun langsung menuju ruangannya.


Saat Gia masuk ke dalam ruangannya, ternyata Ajun sudah berada di sana. Ajun memang selalu sigap, dia memang selalu bisa diandalkan dan tentunya selalu jadi penolong untuk Gia.


Ajun bahkan sudah menyiapkan semuanya, bahan-bahan untuk keperluan meeting pun sudah dipersiapkan semua.


Dia pun bisa bernapas dengan lega dan bisa langsung mengikuti langkah Ajun, langsung menuju ruangan meeting di mana sudah banyak orang. yang berkumpul menunggu kedatangannya.


Meeting berjalan dengan sangat lancar, sehingga hanya memerlukan waktu satu jam saja meeting pun sudah berakhir.


Gia melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Dia belum sarapan, perutnya sudah terasa keroncongan meminta jatah makannya.


"Ajun, apa ada kegiatan lagi setelah ini?" tanya Gia.


"Setelah makan siang, kita akan pergi ke kota D untuk memantau langsung project yang sedang berlangsung di sana." Ajun berbicara sambil menggulir layar ponselnya.


"Baguslah, kalau begitu aku keluar sebentar. Mau cari sarapan," Gia langsung berlaku meninggalkan kantor.


Sedangkan Ajun, langsung masuk ke dalam ruangannya. Selama Gia pergi, dia harus melakukan tugas Gia. menghandle semua pekerjaan bos'nya itu.


Gia langsung menuju Resto yang tak jauh dari kantor, bahkan dia hanya berjalan kaki untuk bisa sampai di Resto.


Karena lapar, Gia langsung memesan makanan dan duduk sambil menunggu pesanannya datang. Hanya butuh waktu sepuluh menit saja, pesanan Gia sudah datang.


Gia yang memang sudah sangat lapar langsung makan dengan sangat lahap, dia tak hanya memesan makanan ringan saja. Tapi langsung memesan satu porsi nasi lengkap dengan lauknya.


Saat sedang asik makan, tiba-tiba saja ada yang memeluk Gia dari belakang. Gia yang kaget pun refleks memukul tangan yang melingkar indah di dadanya.


"Aww! tega banget sih kamu," Melinda langsung mencebikan bibirnya.


Gia langsung tersenyum kala melihat Melinda yang sedang merajuk padanya.

__ADS_1


"Salah sendiri, kenapa kamu. membuat aku kaget?" Gia kembali memasukan satu suapan nasi ke dalam mulutnya.


"G, aku rindu." Melinda langsung duduk di samping Gia dan memeluk tangan kanannya Gia dengan sangat erat.


"Ck, jangan memanggil aku seperti itu lagi! kita sudah tidak ada hubungan lagi." Tegas Gia.


"G, tapi aku masih cinta. Gimana dong?" tanya Melinda manja.


"Aku sudah menikah, Apa kamu lupa?" Gia berusaha untuk menyadarkan Melinda, tentang statusnya kini.


"G, kamu tega!" Melinda terlihat merajuk sambil mencebikan bibirnya.


"Mel, bukankah kamu juga sudah menikah dengan Darwin? untuk apa kamu datang lagi kehadapan aku?" tanya Gia.


Gia menatap wajah Melinda dengan lekat. Dia ingin tahu dan melihat dengan jelas tatapan mata Melinda.


Melinda terlihat salah tingkah dan menunduk sambil meremat kedua tangannya.


"Aku tidak bahagia, hidup bersama dengan Darwin." Wajah Melinda terlihat suram.


Gia hanya bisa tersenyum miring, dia merasa lucu dengan wanita yang bernama Melinda itu. Dulu saat sedang berpacaran dengan Gia, dia malah selingkuh dengan Darwin.


"Darwin selingkuh, dia tega menghianati aku." Melinda mulai terisak.


Sayangnya, Gia seakan tak perduli. Dia sudah mempunyai Elsa dan twins A, yang menurutnya lebih berharga dari apa pun.


"Maaf, aku tidak ada waktu untuk meladeni curhatan kamu." Gia langsung bangkit dari duduknya.


Gia langsung melangkahkan kakinya menuju kasir, diapun membayar makanan yang sudah dia makan. Walaupun makanannya belum habis semuanya, Gia memilih untuk menghindari Melinda.


Setelah membayar, dia pun langsung pergi dari Resto tersebut. Melinda berteriak memanggil-manggil nama dia.


Sayangnya, dia sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Melinda. Baginya, saat ini rumah tangganya dengan Elsa lebih penting, baginya kedua putrinya lebih penting dari apapun.


Dia pun lebih memilih pergi, daripada harus berhubungan lagi dengan mantan kekasihnya itu. Wanita yang dengan setulus hati dia cintai, tetapi dengan teganya dia mengkhianati Gia.

__ADS_1


Yang lebih membuat dia sakit lagi, Melinda berselingkuh dengan temannya sendiri. Bahkan ternyata, mereka sering berhubungan badan di saat mereka berjauhan.


Sampai di kantor, Gia berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Dia merasa mood'nya sudah berantakan, tidak dapat dipungkiri jika dia bertemu dengan Melinda, hatinya masih selalu merasa sakit.


Apa lagi, saat melihat Melinda begitu menikmati hentakan demi hentakan yang Darwin lakukan kala itu. Gia juga sangat kecewa, saat mendengar Melinda yang mende sah penuh hasrat saat berada di bawah Darwin.


"Aaaah!" teriak Gia sambil meremat rambutnya dengan kasar.


Saat Gia sedang larut dengan kisah kelam masa lalunya, tiba-tiba dia di kagetkan dengan kedatangan Tuan Dirja.


"Katakan pada Daddy, apa maksudnya ini?" Tuan Dirja langsung melemparkan botol obat perangsang tepat di wajah Gia.


Gia langsung bangun karena kaget, dia langsung menghampiri Daddynya yang terlihat sangat marah.


"Daddy dapat dari mana?" tanya Gia seraya memandang botol obat yang di berikan oleh Dokter Irawan.


"Di dapur! tidak bisakah kamu mengambil hati Elsa? kenapa harus dengan cara tidak bermutu seperti ini, hah?!" murka Tuan Dirja.


"Sorry, Dad. Aku terlalu tak sabar, aku tahu aku salah. Aku janji, tak akan melakukan kesalahan lagi." Gia mendekati Daddynya dan mengecup punggung tangan Tuan Dirja.


"Jangan pernah berjanji, berusahalah untuk melakukan yang terbaik." Tuan Dirja melepaskan tangannya dari genggaman tangan Gia.


"Dad," panggil Gia.


"Buatlah Elsa jatuh cinta pada mu, sehingga dia sangat takut jika akan berpisah dengan kamu. Jangan buat dia tak berdaya, iti bukan sifat lelaki." Tuan Dirja langsung duduk, di salah satu sofa tunggu.


Dia lelah, dia cape mendidik putranya yang selalu bertingkah semaunya.


Gia pun ikut duduk di samping Tuan Dirja, dia pun langsung memeluk tangan Tuan Dirja dan menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Dirja.


"Gia, akan berusaha untuk menjadi suami yang baik. Gia, juga akan berusaha untuk menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak Gia. Gia, juga akan berusaha untuk menjadi anak yang baik buat Daddy." Mata Tuan Dirja berkaca-kaca mendengar ucapan Gia.


+


+

__ADS_1


+


selamat malam semua, jangan lupa tinggalkan jejak, Vote, dia like, koment dan Hadiahnya ya...


__ADS_2