
"Mas! Aku sakit karena perbuatan kamu, Dokter bilang dinding vag.ina aku terluka karena kamu selalu ngajakin aku main di mana aja dan dengan gaya apa aja. Terus, karena kamu selalu melakukannya dalam tempo yang cepat dan milik kamu ini masuk terlalu dalam." Dina langsung memukul milik VB yang masih terbungkus rapi itu.
"Apa, Yang?" tanya VB sambil meringis.
"Ini semua gara-gara senjata laras panjang milik kamu itu, benda yang selalu kamu banggain karena besar dan bikin aku..." Dina langsung menutup mulutnya, saat dia kelepasan karena mengatakan hal itu.
Rasanya VB ingin tertawa saat melihat istrinya yang hampir saja mengatakan efek dari senjata laras panjang miliknya, tapi masih dia tahan. VB takut jika Dina akan marah.
"Tuh kan, Yang. Kamu juga suka, jadi jangan marah." Kata VB memelas.
Dia masih berusaha untuk bernegosiasi dengan istrinya, siapa tahu ye kan Dina mau dengan cepat memaafkan suami berondongnya itu.
"Aku tetep marah, karena gara-gara kamu, aku harus ngerasain sakit kaya gini." Kata Dina, VB meringis. "Pokoknya, kata Dokter kita ngga boleh nyampur dulu selama satu bulan." Kata Dina berbohong.
Dia sengaja berkata seperti itu, karena dia ingin menghukum suami yang telah memberikan luka di dalam kelembutan milik'nya.
"Nyam--nyampur gimana?" tanya VB tak mengerti.
Dia sungguh takut jika dia tidak boleh berhubungan suami istri dengan istrinya.
"Ngga boleh itu dulu, selama satu bulan. Kalau perlu dua bulan, sampai punya aku sembuh." Ucap Dina lagi.
VB terlihat kaget, dia langsung duduk dan menegakan tubuhnya.
"Apa, Yang? Harus selama itu, ya? Lalu, bagaimana nasib nya dia?" tanya VB dengan tatapan lesu menatap miliknya.
"Iya, harus kaya gitu. Terus, kalau nanti udah sembuh. Kamu harus pelan-pelan kalau mau ngelakuin itu, kalau masih kasar dan di sembarang tempat. Aku ngga bakal mau, aku ngga mau sakit lagi." Kata Dina tegas.
"Selama itu, Yang? Trus Itunya emang sakit banget ya?" tanya VB.
"Hem, harus nunggu aku sembuh dulu. Terus harus pelan-pelan, inget itu!" kata Dina lagi.
VB langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, lemes sudah. Memikirkannya saja dia sudah kelimpungan, apa lagi harus menjalaninya, satu bulan tanpa merasakan liang kelembutan milik istrinya.
Beh! Merana? Sudah pasti, apa lagi dia merupakan lelaki yang sangat senang mengekspresikan keinginannya. Dia sangat suka menantang adrenalinnya.
"Yang, aku pasti merana. Kamu kan tahu sendiri, kalau aku lagi semangat-semangatnya, Yang." Ucap VB memelas.
__ADS_1
"Sabar, kalau ngga mau sabar kamu nikah lagi aja sana!" ucap Dina ketus.
"Astaga, Yang. Jangan sembarangan bicara kamu, aku ngga bakal kaya gitu." VB langsung bangun, menggendong Dina dan membawanya menuju tempat tidur.
VB langsung memeluk Dina lalu mengecupi bibirnya, Dina langsung mendorong wajah VB. Dia masih merasa kesal pada VB, rasanya dia sangat malas walau hanya sekedar bermesraan saja.
"Mau apa sih, Mas?" tanya VB.
"Mau peluk kamu, Yang. Ini sebagai permintaan maaf aku. Aku janji, aku akan berusaha untuk menahan hasratku. Kalau kamu udah sembuh nanti, akau akan berusaha untuk bersikap lembut, Yang." VB kembali mengecupi bibir istrinya.
"Janji?" tanya Dina yang telah berhasil lepas dari kecupan VB yang tak berkesudahan.
"Janji, Yang. Tapi...."
"Apa?" tanya Dina.
"Tetep kasih dua kali ya? Kalau hanya sekali, nanti dia bakal bangun terus sampai pagi." Kata VB memelas.
Dina ingin sekali ketawa saat melihat suami brondongnya yang terlihat memelas. Akan tetapi, dia begitu ingin memberikan pelajaran pada suaminya itu.
"Mana aku tahu, Yang. Aku kan ngga bisa ngajakin dia ngobrol, aku ngga bisa nanya. Yang aku tahu, milik kamu enak, sempit banget. Bikin punya aku bangun terus, pengennya masuk terus." Ucap Jujur VB.
Satu pukulan mendarat dengan sempurna di dada VB, Dina merasa sebal dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
"Kalau ngomongin itu aja, paling semangat kamu. Heran aku tuh," ucap Dina.
"Jangan marah, Yang. Aku juga ngga tahu, padahal kan kamu tahu sendiri kalau aku ngga pernah minum obat. Cuma rajin ngegym aja," kata VB.
"Iya, aku tahu. Tapi inget ya, nanti kalau akunya udah sembuh, kamu harus ngelakuinnya pelan-pelan." Kata Dina.
"Siap Tuan Putri." Jawab VB, "peluk lagi sama cium." Pinta VB sambil memonyongkan bibirnya.
Mau tak mau, Dina langsung memeluk VB dan menautkan bibirnya dengan bibir suaminya. VB langsung berdecak senang, setidaknya dia masih mendapatkan pelukan dan juga ciuman dari istri tercintanya.
*/*
Di kediaman Tuan Dirja, Aurora dan Aurelia sedang sibuk mencari Bunda mereka. Sepulang dari acara TV, mereka di ajak pergi ke toko mainan oleh Bu Anira.
__ADS_1
Bukannya membeli mainan untuk mereka, yang ada mereka malah membeli banyak mainan Babby. Mereka mengingat jika Bunda mereka sedang hamil, tentunya mereka mengingat untuk membeli mainan untuk adik mereka.
"Bunda..." Aurora dan Aurelia berteriak memanggil nama Bunda mereka.
Elsa yang mendengar teriakan kedua putrinya, langsung keluar dari dalam kamarnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Elsa, dia langsung berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya.
Aurora dan Aurelia langsung masuk ke dalam pelukan Bundanya, mengecupi pipi cabi Elsa dan mengelus lembut perut Elsa.
"Rara beliin Dede mainan," ucap Aurora.
"Rere juga, Bun. Beliin mainan yang banyak buat Dede," ucap Aurelia.
Elsa langsung mengernyitkan dahinya, dia tak menyangka jika kedua putrinya begitu peduli terhadap Babby yang sedang dia kandung.
"Sayang, Dede kalian saja belum lahir. Kenapa kalian beli mainan buat Dede?" tanya Elsa heran.
Percuma juga, pikirnya. Jika mereka membelikan banyak mainan untuk Babby yang sedang dia kandung, bahkan adik mereka masih sebesar buah jeruk.
Masih dalam masa pertumbuhan dan belum terbentuk dengan sempurna. Akan tetapi, dia sangat senang dengan perhatian dari kedua putrinya itu.
"Abisnya di sana banyak banget mainan buat Dede, aku kan jadi pengen beli." Ucap Jujur Aurora.
"Iya, Bun. Banyak banget mainan yang lucu-lucu, ayo Bun. Bunda harus lihat mainan yang udah kita belikan buat Dede." Aurelia ikut menimpali.
Elsa menurut, dia langsung mengikuti langkah kedua putrinya ke ruang tengah. Mata Elsa langsung membulat dengan sempurna, kala melihat banyaknya mainan yang berada di dalam ruang tengah.
"Astaga!" Elsa memekik kaget seraya menepuk jidatnya.
+
+
+
Hari ini Othor males banget, mau nulis ngga semangat banget. Semoga kalian sehat selalu dan Jangan males kaya Othor, Semangat!
__ADS_1