
Cukup lama Ajun dan juga Gadis menemani Elsa dan juga Gia di Rumah Sakit, mereka saling bercanda tawa dan tentunya menertawakan kekonyolan Gia selama 1 bulan menunggui Elsa.
Gia bahkan sampai rela tak mandi hanya karena ingin menunggu istrinya, dia beralasan jika istrinya takut tersadar tanpa melihat dirinya di sampingnya.
Gia selalu berkata jika dirinya ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh istrinya, tidak boleh oleh orang lain.
"Ck! Kalian itu tega sekali, kenapa semua keburukan yang kalian katakan kepada istriku?" kesal Gia.
Elsa tertawa melihat kekesalan Gia, begitupun dengan Gadis dan juga Ajun.
"Kamu tahu, Sa? Bos CEO kita yang tampan dan gagah itu tidak ada saat kamu sakit, dia berubah jadi sosok melow yang selalu saja menangis," adu Ajun.
"Hus... hus... pergi sana! Kalian benar-benar menyebalkan," keluh Gia.
Gia merasa sudah sangat kesal dengan pasangan suami istri yang ada di dalam ruang perawatan istrinya tersebut.
"Baiklah, kami pulang. Rupanya Bos kita yang tampan ini sudah tidak sabar untuk bermesraan bersama dengan istrinya," kata Ajun.
Elsa terlihat tersenyum malu-malu dengan apa yang dikatakan oleh Ajun.
"Ehm, Hubby. Jangan godain Tuan Gia terus," kata Gadis.
Dia merasa enak hati saat melihat wajah Gia yang sudah terlihat tidak sedap dipandang mata.
"Iya, Sayang. Kita pulang, kita juga harus bikin adik buat Ken." Ajun langsung terkekeh dengan apa yang dia katakan.
Dia pun sudah rindu ingin bermesraan bersama dengan istrinya, sudah satu minggu ini Ken rewel.
"Hubby!" Gadis langsung memelototkan matanya.
"Pamer aja terus, mentang-mentang aku masih puasa," kata Gia.
*/*
Ajun dan juga Gadis sudah pulang, mereka berdua tidak ingin mengganggu Gia yang sudah terlihat tidak sabar ingin mengungkapkan kerinduannya terhadap Elsa, istrinya.
Gia kini sudah duduk tepat di samping Elsa, dia mengusap-usap puncak kepala Elsa dengan lembut.
Sedari tadi dia hanya diam saja, bukan karena tidak rindu. Namun, ada hal yang ingin dia ucapkan kepada istrinya tersebut.
"Sayang, Mas mau jujur sama kamu. Mas harap kamu tidak marah," kata Gia gugup.
Melihat tingkah suaminya, Elsa menjadi curiga. Sebenarnya apa yang terjadi selama dia koma? Kenapa Gia terlihat merasa bersalah terhadap dirinya?
__ADS_1
"Mas kenapa terlihat seperti itu? Jika ada sesuatu hal yang ingin dikatakan, katakan saja!" kata Elsa.
Elsa melerai pelukannya, lalu dia menatap wajah Gia dengan intens.
"Itu, Yang. Anu, ehm--"
Dia seakan benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan hal yang menjadi unek-unek di dalam pikirannya, dia sangat takut jika istrinya akan marah jika dia berkata jujur.
Gia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian, benar-benar hilang wibawanya sebagai seorang pemimpin.
"Ada apa sih, Mas? Katakan saja, jangan bikin aku mati penasaran!" kata Elsa.
Elsa benar-benar sudah tidak sabar melihat kelakuan Gia, dia Ingin secepatnya mendengar apa yang disembunyikan oleh suaminya tersebut.
Melihat raut wajah istrinya yang begitu tidak sabar, Gia pun mau tidak mau langsung mengatakan semuanya.
"Sebenarnya setelah dokter melakukan operasi caesar, aku meminta dokter untuk melakukan steril agar kamu tidak hamil lagi. Aku benar-benar takut kehilangan kamu, aku tidak mau melihat kamu kesakitan seperti itu lagi," kata Gia seraya menunduk lesu.
Dia tidak berani menatap wajah istrinya, dia takut jika istrinya akan marah dan tidak terima dengan keputusan sepihak yang sudah dia lakukan.
Awalnya Elsa merasa sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Gia, namun setelah dia berpikir lagi, mungkin itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Karena rasa khawatir yang begitu mendalam yang dirasakan oleh suaminya.
"Semuanya sudah terjadi, Mas. Aku berkata tidak boleh pun serasa percuma, karena semuanya sudah dilakukan," kata Elsa.
"Kamu marah sama, Mas?" tanya Gia.
Elsa menggelengkan kepalanya, untuk apa marah pikirnya, semuanya sudah terjadi.
"Tidak, Mas," jawab Elsa.
Setelah mendapatkan jawaban dari Elsa, wajah Gia langsung berubah. Dia terlihat lebih lega, karena ternyata istrinya tidak marah terhadap dirinya.
"Syukurlah, Mas senang mendengarnya," kata Gia.
Elsa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, dia sangat tahu jika dia ingin melakukan hal yang terbaik untuk dirinya.
"Aku tahu Mas melakukan semua ini karena sayang sama aku," kata Elsa.
Tentu saja dia melakukan hal itu karena sangat menyayangi istrinya, dia benar-benar ketakutan jika istrinya akan pergi meninggalkan dirinya.
Dia benar-benar tidak tega saat melihat Elsa yang kesakitan, lebih baik dia yang sakit pikirnya dari pada anak dan istrinya yang mengalami penderitaan.
"Terima kasih, Sayang." Gia langsung memeluk Elsa dengan erat.
__ADS_1
Tak lama kemudian Elsa terlihat melerai pelukannya, kemudian dia menggenggam tangan Gia dengan erat.
"Aku juga mau minta maaf, karena saat hendak pergi ke pemakaman aku terjatuh di kamar mandi. Tapi, aku tidak mengatakannya. Karen takut mengganggu kegiatan, Mas," kata Elsa.
"Seharusnya kamu jujur ,Sayang. Supaya kamu bisa langsung mendapatkan tindakan pertolongan," kata Gia.
"Maaf," ucap Elsa penuh sesal.
"Tidak apa, sekarang tidurlah! Hari sudah malam," kata Gia.
Elsa menganggukkan kepalanya, lalu dia merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
*/*
Keesokan paginya, Gia yang sudah menyelesaikan administrasi dan surat menyurat untuk kepulangan istrinya, terlihat sumringah.
Karena pada akhirnya setelah satu bulan tinggal di Rumah Sakit kini akhirnya dia bisa pulang dan tidur di rumahnya sendiri, tentunya yang paling membahagiakan adalah istrinya sudah tersadar dari koma.
"Kita pulang sekarang," ajak Gia.
"Iya, Mas," jawab Elsa.
Gia terlihat memapah Elsa untuk keluar dari ruang perawatannya, supir pribadi keluarga Pranadtja terlihat mengekori langkah Gia dan Elsa sambil membawakan barang-barang milik Elsa.
Tiba di lobby Rumah Sakit, Gia tanpa ragu langsung membopong Elsa dan mendudukkannya di dalam mobil.
"Mas malu," kata Elsa.
"Ngga usah malu," kata Gia.
Setelah keduanya duduk dengan nyaman, Gia meminta pak Sopir untuk melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja.
"Jalan, Pak!" kata Gia.
Pak sopir mengangguk, lalu dia pun melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja. Selama perjalanan pulang, Gia terlihat menarik istrinya ke dalam pelukannya. Lalu dia mengelus lembut punggung istrinya, terlihat sekali jika dia begitu menyayangi dan merindukan istrinya.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibu dan anak-anak, terutama putra kita," kata Elsa.
"Hem, pasti kalau ketemu baby boy kamu akan senang," kata Gia.
"Memangnya kenapa?" tanya Elsa.
"Karena wajahnya sangat mirip sama kamu," jawab Gia seraya mencuil dagu Elsa.
__ADS_1