Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Rindu


__ADS_3

Awalnya Melani merasa tidak akan pernah bisa menerima kehadiran Andrew di dalam kehidupannya, dia juga sempat berpikir tidak akan membutuhkan sosok lelaki yang bernama Andrew.


Namun ternyata dia salah, karena baru satu hari saja dia ditinggalkan dia sudah merasa gelisah.


Dia benar-benar merasa kacau, apa lagi selama tiga hari ini dia benar-benar tidak mendapatkan kabar sama sekali dari Andrew.


Setiap hari dia berusaha untuk menelepon Andrew, namun tetap saja ponselnya tidak aktif. Melani benar-benar berpikir jika Andrew mungkin sudah tidak menginginkannya lagi.


Dia berpikir mungkin Andrew sudah mendapatkan wanita pengganti selain dirinya, yang lebih muda, yang lebih cantik dan juga lebih segala-galanya dari dirinya.


Buktinya Andrew tak pernah mau menghubunginya lagi, tak pernah mau meneleponnya lagi. Bahkan dia tak pernah melihat Andrew pulang, karena setiap hari mobilnya tak pernah ada di garasi rumahnya.


"Sepertinya aku sudah gila, karena setiap hari terus saja berusaha untuk menghubunginya," kata Melani lirih.


"Sadar Melani, sadar! Dia masih muda, pasti dua sudah mendapatkan wanita muda yang cantik. Makanya dua ngga inget lagi sama elu," kata Melani seraya menepuk-nepuk pipinya.


"Sudah jangan ngelamun mulu, mending pulang gih. Sudah jam tiga sore juga," kata Reni.


"Hem, gue pulang!" kata Melani dengan raut wajah malas.


Akhirnya Melani pun segera pulang dari Caffe, dari pada dia bete mendengar ocehan Reni, mending dia tidur di rumah, pikirnya.


Saat dia melewati rumah Andrew, senyum di bibirnya sempat terukir karena melihat mobil Andrew yang terparkir di garasi rumahnya.


"Tumben ada mobilnya, apa dia sudah pulang?" ucap Melanie seraya tersenyum.


Namun senyumnya kembali memudar kalau dia mengingat Andrew yang tak ada niatan sama sekali untuk menghubungi dirinya. Bahkan, Andrew juga tak menjemputnya.


"Ya Tuhan, Melani. Kenapa harus mikirin dia lagi sih? Lagian dia juga nggak peduli sama elu, sadar Melani, sadar!" ucapnya Lirih.


Tiba di depan rumahnya, Melani langsung memarkirkan mobilnya. Lalu, dia pun masuk ke dalam rumahnya.


Saat dia masuk, dia merasa heran karena rumahnya terlihat sepi. Dia pun jadi bertanya-tanya, kemana kedua buah hatinya? Kenapa tidak terdengar berceloteh? Lalu kenapa Nyonya Mesti tak terdengar suaranya?


"Mah, Kakak, Dede, kalian di mana?" tanya Melani setengah berteriak.


Tak ada jawaban sama sekali, Melanie pun memilih untuk menyisiri setiap ruangan yang ada di dalam rumahnya.


Namun ia tak kunjung menemukan keberadaan kedua buah hatinya dan juga Nyonya Mesti, akhirnya Melani pun memutuskan untuk pergi ke taman yang ada di belakang rumah.

__ADS_1


Saat dia membuka pintu belakang, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.


Melani sangat kaget bahkan dia berusaha untuk memukul orang yang berani-beraninya memeluknya.


"Lepasin!" teriak Melani.


"Ini aku, Mbak. Aku kangen banget, peluk lama boleh ya?" pinta Andrew.


Mendengar suara Andrew, Melanie langsung terdiam. Ternyata lelaki yang sudah tiga hari ini dia rindukan pulang juga.


Hatinya terasa berdebar, walaupun kesal tapi dia Rindu. Dia membalas pelukan Andrew dan menghirup aroma tubuh lelaki itu dalam-dalam.


Aroma maskulin langsung menguar kedaam indera penciumannya, dia rindu wangi tubuh itu, dia rindu suara itu, dia rindu semua yang ada di dalam diri Andrew.


"Kamu kemana saja? Kenapa ponselnya mati terus? Kenapa tidak mengabari?" tanya Melani.


Mendengar pertanyaan Melani, Andrew langsung terkekeh. Kemudian dia pun melerai pelukannya dan menatap wanita yang dia cintai dengan lekat.


"Aku baru pulang kerja, Sayang. Aku ditugaskan untuk memantau kantor cabang yang ada di pulau B," kata Andrew.


"Bohong!" kesal Melani.


"Kenapa tidak memberi tahu? Kenapa ngga pernah ngasih kabar?" tanya Melani.


"Karena aku ingin tahu perasaan kamu seperti apa saka aku, agar aku tahu. Apa yang harus aku lakukan," kata Andrew.


''Terus, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Melani.


"Awalnya aku ingin menyerah dan meninggalkan kamu, karena kamu terlihat tak menyukai aku. Kamu tak pernah merespon setiap apa yang aku lakukan terhadap kamu, namun setelah melihat binar rindu di mata kamu, setelah melihat rasa khawatir di wajah kamu, setelah melihat ada cinta di mata kamu, aku ingin segera menikahi kamu." Andrew langsung menoel hidung Melani.


"Gombal," ucap Melani seraya tersipu.


"Aku ngga gombal, aku rindu banget sama kamu, Mbak. Boleh' kan aku--"


Andrew tak menyelesaikan ucapannya, karena Melani sudah membungkam bibir Andrew dengan bibirnya.


Awalnya Andrew terlihat kaget, bahkan matanya langsung membulat dengan sempurna.


Namun, tak lama kemudian dia langsung menutup matanya dan menikmati setiap cecapan bibir Melani. Dia bahkan membalas setiap cecapan bibir Melani dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Aku mau kita menikah minggu depan," kata Andrew setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Aku menurut," kata Melani.


"Mau pernikahan yang mewah atau yang sederhana?" tanya Andrew.


"Aku tidak membutuhkan pernikahan mewah, Andrew. Karena yang terpenting setelah menikah kamu selalu mencintaiku, selalu memberikan kebahagiaan untukku dan keluarga kecil kita," kata Melani.


"Lalu, untuk bulan madunya?" tanya Andrew.


"Terserah kamu saja, diem di dalam kamar asal sama kamu, aku mau," jawab Melani.


"Astaga, Mbak! Jangan mancing-mancing, jangan sampai aku khilaf dan membawa kamu ke dalam kamar," kata Andrew seraya menaik turunkan alisnya.


"Mau ngapain?" goda Melani.


"Mau itu," jawab Andrew malu-malu.


"Emang bisa?" tanya Melani.


"Ya ampun, aku memang belum pengalaman. Namun jangan pernah ragu kalau soal keperkasaan, aku bahkan bi--"


"Ya ampun," kata Melani seraya menutup bibir Andrew dengan tanganya.


Andrew langsung menarik tangan Melani dan kembali menikmati manisnya bibir Melani, mereka berdua terhanyut dalam buayan rindu karena tiga hari sudah tidak bertemu.


"Ma, sepertinya kita harus nikahkan Bang Andrew secepatnya. Dia udah ngga sabar soalnya!" teriak Anita.


Mendengar ucapan Anita, Melani langsung melepaskan tautan bibirnya. Kemudian dia pun langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andrew.


Dia benar-benar merasa malu karena ketahuan sedang berciuman oleh adik dari lelaki yang dia cintai itu.


"Apa sih teriak-teriak?" tanya Mama Andrew.


"Itu Ma, Bang Andrew kayaknya sudah ngga sabar," kata Anita.


Mama Andrew sempat melihat ke arah Andrew dan juga Melani yang terlihat sedang berpelukan, dia tersenyum lalu menarik tangan Anita agar tidak mengganggu kegiatan Andrew dan juga Melani. Dia percaya jika Andrew tidak akan berbuat hal diluar batas.


"Jangn ganggu mereka, Sayang. Biarkan mereka melepas rindu," kata Mama Andrew.

__ADS_1


"Ya, Mamaku, Sayang." Anita langsung memeluk Ibunya dan berlalu dari sana.


__ADS_2