
Saat membuka matanya, Gia sangat senang. Karena, Gia bisa memandang wajah cantik kedua putrinya. Mereka terlihat begitu mirip dengannya, membuat dirinya makin merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan terhadap Elsa.
Dengan perlahan, Gia bangun dan turun dari tempat tidur. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi, lalu membersihkan tubuhnya.
Selsai mandi, Gia yang tak mempunyai baju ganti, langsung memakai kembali bajunya. Gia melihat waktu baru menunjukkan pukul enam pagi, Gia pun segera keluar dari kamar twins A.
Baru saja dia keluar, hidung' nya sudah mencium wangi sedap dari arah dapur. Kakinya, seolah menuntunnya untuk pergi ke arah dapur.
Sedangkan di dalam dapur, Elsa terlihat sedang menuangkan masakan yang sudah terlihat matang. Elsa terlihat sudah menyelsaikan makannya, dia menata sup Ayam, perkedel, sambel dan ikan goreng.
Makanan sederhana yang terlihat menggugah selera, Elsa juga menyiapkan beberapa lembar roti tawar dengan selai.Elsa tersenyum, saat pekerjaannya sudah terlihat selesai.
Gia memperhatikan penampilan Elsa, dia hanya memakai baju panjang berwarna abu dengan celana trening berwarna hitam, tapi terlihat sangat cantik.
Rambut Elsa terlihat di kuncir kuda, sehingga memperlihatkan leher jenjang milik Elsa. Gia yang merasa gemas pada Elsa pun, langsung memeluknya dari belakang.
Elsa sampai berjingkat, dia kaget dengan apa yang di lakukan oleh Gia sepagi itu.
"Mau apa kamu?" tanya Elsa.
"Peluk, kamu tetap wangi walaupun keringetan kaya gini." Gia mengendus wangi tubuh Elsa, membuat Elsa merasa tak nyaman.
"Jangan macem-macem deh, awas!" Elsa berusaha melepaskan diri dari Gia, tapi tak bisa." Nyebelin banget sih!" kesal Elsa.
"Panggil aku, Sayang. Baru aku lepas," pinta Gia.
Gia mengecup leher Elsa, membuat Elsa menggeliatkan tubuhnya.
"Sa--sayang, tolong lepasin. A--aku mau Bangunin anak-anak, mereka harus segera sarapan." Tubuh Elsa terasa meremang, karena Gia terus mengecupi leher jenjang Elsa.
"Baiklah, Calon istri." Gia melepaskan pelukannya, serasa mendapatkan kesempatan, Elsa langsung berlari dari dapur.
Gia hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu, jika Elsa takut dengan apa yang akan di lakukannya. Padahal, Gia hanya ingin menggoda Elsa saja.
Gia mengedarkan pandangannya, sebenarnya, dia merasa ingin meminum kopi. Tapi setelah mencari, Gia tak menemukannya, hanya ada teh saja di sana.
"Nak Gia, sedang mencari apa?" tanya Bu Anira yang ternyata sudah berada di dapur.
Gia pun segera berbalik, mencari arah suara.
"Nyari kopi, Bu. Tapi, ngga ada." Ucap Gia kecewa.
Ibu Anira pun langsung tersenyum, lalu, Bu Anira pun berkata.
"Di sini, tidak ada yang menyukai kopi." Jelas Bu Anira.
"Tapi, dulu aku pernah melihat Elsa meminum kopi." Ingatan Gia menerawang jauh, dia mengingat saat pertama bertemu dengan Elsa.
__ADS_1
Gia, melihat Elsa dan juga Daddynya yang sedang meeting bersama para klien penting. Saat itu, Elsa terlihat menikmati secangkir kopi latte.
"Dulu Elsa memang sangat suka kopi, tapi, Setelah melahirkan Aurora dan Aurelia, dia sudah tidak minum kopi lagi." Bu Anira tersenyum setelah menjelaskan.
"Kenapa?" tanya aja Gia penasaran.
"Karena setelah minum kopi, Asi' nya malah bermasalah. Jadi, Elsa memutuskan untuk tidak mengkonsumsi kopi lagi." Jelas Bu Anira.
"Ya tuhan,,," Gia jadi merasa bersalah, demi menyusui kedua putrinya, Elsa harus rela tak meminum kopi kesukaannya.
"Sudah, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Hari ini, kalian ada rencana pergi kemana?" tanya Bu Anira.
Bu Anira yakin, jika Gia akan mengajak Elsa ke suatu tempat. Makanya anak itu rela menginap.
Gia mendekati Bi Anira, lalu, Gia pun berbisik tepat di telinganya Bu Anira.
"Aku mau mengajak Elsa fiting baju pengantin, tapi ibu jangan bilang-bilang." Bisik Gia.
Bu Anira langsung tersenyum, melihat tingkah Gia. Gia, benar-benar seperti anak Abege yang baru mengenal cinta.
"Tentu saja, Ibu tidak akan bilang." Ibu Anira menirukan gaya mengunci mulutnya, Gia pun langsung tertawa dibuatnya.
Elsa dan kedua putrinya yang baru saja masuk ke dalam dapur, menjadi curiga melihat Gia dan ibu Anira terlihat sedang tertawa bersama.
"Ayah, kalian sedang apa?" tanya Aurora.
"Kalian mencurigakan," kata Elsa.
Gia langsung menghampiri Elsa dan merangkul pundaknya," Selepas sarapan, aku akan mengajak kamu dan juga kedua putri kita pergi. Bisa?"
"Mau kemana?" tanya Elsa penasaran.
"Pokoknya ikut saja, Mas mau, persiapan pernikahan kita selsai hari ini. Biar besok, kamu tinggal menghabiskan waktu untuk memanjakan diri." Gia menarik kursi kosong, dia menuntun Elsa untuk duduk.
"Terima kasih," ucap Elsa.
Aurora dan Aurelia tampak mendelik kesal, karena Ayah mereka, hanya memberikan perhatian kepada Bunda'nya saja.
Gia yang paham pun, langsung menghampiri kedua putrinya. Dia melakukan hal sama seperti yang dia lakukan pada Elsa.
Aurora dan Aurelia pun langsung tersenyum senang, mereka sangat senang karena Gia memperhatikan mereka juga.
"Terima kasih, Ayah." ucapan Aurora dan Aurelia bersamaan.
''Sama-sama, cantiknya Ayah." Gia, lalu mengecup kening Aurora dan Aurelia secara bergantian.
*/*
__ADS_1
Pukul sembilan pagi, Gia mengajak Elsa dan kedua putrinya menuju butik ternama di pusat kota. Butik tersebut adalah milik dari desainer ternama di dalam negeri, hasil rancangannya sudah mendunia.
Membuat Gia, mempercayainya untuk merancang gaun pengantin untuk pernikahannya bersama dengan Elsa. Bahkan Gia, juga membuatkan gaun cantik untuk kedua putrinya.
Sampai di sana, Gia langsung mengajak Elsa dan kedua putrinya untuk masuk. Elsa, Aurora dan Aurelia langsung terkagum-kagum saat melihat banyaknya gaun yang terpajang indah di sana.
"Mas, kenapa bawa kami ke sini?" tanya Elsa.
Gia nampak tak suka dengan pertanyaan dari Elsa, padahal harusnya Elsa paham, karena pernikahan mereka akan di laksanakan lusa.
"Yang, kita fiting baju pengantin. Sekalian anak-anak juga nyoba gaun mereka, lusa kita akan menikah. Apa, kamu tak mau menggunakan gaun pengantin?" Gia bertanya dengan pelan, karena memang tepat berada di samping Elsa.
"Ah, Mas benar. Lusa kita menikah," Elsa seakan tersadar, jika dia akan segera menikah dengan Gia.
"Aku juga di beliin gaun, Yah?" tanya Aurora, Gia mengangguk.
"Aku, Aku?" tanya Aurelia.
Gia langsung duduk di sofa tunggu, kemudian merangkul pundak kedua putrinya.
"Tentu, Sayang. Bahkan, gaun kalian bertiga nampak sama. Hanya berbeda ukuran saja," ucap Gia.
Saat Gia sedang asik bercakap dengan kedua putrinya, pemilik butik sekaligus desainer ternama dalam negeri itu pun nampak keluar dari dalam ruangan peribadi'nya.
Dan yang membuat Gia terkejut, ternyata, Melinda ada di sana. Bersama dengan lelaki berwajah tampan, namun terlihat luwes itu.
"Gia!" pekik Melinda," aku ngga nyangka banget bakal ketemu kamu di sini." Melinda langsung menghampiri Gia.
Melinda langsung menggeser Aurora agar menjauh, kemudian, dia langsung duduk di samping Gia dan menyandarkan kepalanya di pundak Gia.
+
+
+
Sedikit curhat, novel ini ikut lomba. Dapet arahan langsung dari Kakak Editornya, dari bab 1 - 20 sampai tiga kali ganti alur cerita, karena kurang sejalan dengan Kakak Editornya.
Yang pertama katanya kurang bagus alurnya, aku ganti. Yang kedua, kurang ada percakapan antara protagonis pria dan wanita, aku ganti lagi. Yang ketiga baru deal, katanya udah oke.
Isi Novelnya benar-benar murni sesuai pemikiran aku yang di arahin langsung Kakak Editor, supaya lebih baik dalam cerita ataupun tulisan.
Jadi..
Kalau ada yang bilang jiplakan, saya tersungging.
__ADS_1
Aslinya sedih aku tuh,, mikirin jalan ceritanya, ampe kadang kurang tidur.