Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kekesalan Anita


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, dokter Irawan terlihat termenung di dalam kamarnya. Dia tertidur sambil menatap langit-langit kamarnya.


Sudah beberapa hari ini dia mengambil sift pertama di klinik, hal itu dia lakukan agar bisa beristirahat jika sore hari tiba. Malam hari pun, dia bisa lebih puas dalam tidur malamnya.


Setiap hari dia mengecek ponselnya, dia berharap jika Anita akan menghubunginya. Dia benar-benar serius dalam menawarkan pernikahan kepada Anita.


Namun, sepertinya penawaran dari dokter Irawan hanya dianggap sebagai angin lalu saja oleh Anita.


Dia jadi merasa heran kenapa Anita, kenapa dia tidak mau menikah dengannya. Padahal banyak sekali wanita yang tergila-gila kepadanya, bahkan mereka rela menyerahkan tubuhnya tanpa dia nikahi.


Berbeda dengan Anita yang terlihat biasa saja saat melihat wajahnya, tidak ada sorot kekaguman sama sekali di matanya.


Dokter Irawan juga kini sedang merasa heran, karena sudah satu minggu ini Clarista tak pernah datang ke klinik milikiknyaknya.


Bahkan, hanya untuk sekedar berkirim pesan pun Clarista sudah tak pernah lagi. Dia pun jadi berpikir jika Clarista sudah menyerah untuk membujuk dirinya menjadi suaminya.


Sebenarnya dia merasa kasihan kepada Clarista, karena walau bagaimanapun juga Clarista tetap adik sepupunya.


Namun kelakuan Clarita yang arogan dan sangat keterlaluan menurutnya, membuat dirinya merasa tak suka dengan sikapnya tersebut.


Apa lagi jika Clarista sudah berbicara dengan kasar, rasanya dia ingin mengambil lakban dan menutup mulutnya dengan lakban tersebut.


"Semoga saja Clarista sudah berubah, semoga saja dia sudah sadar," do'a Dokter Irawan sebelum dia memejamkan matanya.


*/*


Keesokan paginya, Anita terlihat sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Seperti biasanya, dia akan berangkat ke kampus dengan Andrew.


Karena memang arah ke kampus dan ke kantor tempat Andrew bekerja memiliki arah yang sama, hal itu memudahkan Andrew Untuk mengantarkan adik tersayangnya.


"Hati-hati, jangan nakal. Belajar yang benar!" selalu saja itu pesan yang Andrew katakan kepada Anita setiap harinya.


Walaupun Anita merasa bosan dengan apa yang diucapkan oleh Andrew, namun dia tetap tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya, Kakakku, Sayang. Ceria bener deh, yang baru pulang bulan madu," celetuk Anita.

__ADS_1


"Hush! Anak kecil ngga usah ngomongin hal kaya gitu, belum waktunya." Andrew terlihat mengacak pelan puncak rambut Anita.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Anita hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebagai tanda kalau dia tak suka dengan apa yang dilakukan oleh Andrew.


Melihat kelakuan adiknya, Andrew hanya bisa tertawa. Anita memang sudah besar. tapi di mata Andrew, Anita adalah adiknya yang lucu dan menggemaskan.


Karena tak ingin telat, Anita pun segera berpamitan kepada Andrew dan turun dari mobil kakaknya tersebut.


Dia terlihat melambaikan tangannya saat Andrew meninggalkan kampus tempat dia menimba ilmu.


Anita terus tersenyum sambil berjalan menuju kelasnya, namun tiba di dalam kelas dia sangat kaget. Karena ternyata di sana ada Clarista dan juga Rektor yang berada tepat di samping Clarista.


"Akhirnya orang yang kita tunggu-tunggu datang juga," ucap Clarista dengan senyum meremehkan.


Anita yang tidak tahu apa-apa hanya diam sambil menatap wajah Rektor dan Clarista secara bergantian.


"Silakan duduk," ucap Rektor.


Walaupun tidak paham, Anita menurut. Dia pun duduk di salah satu bangku mahasiswa yang terdekat dengan Rektor dan juga Clarista.


"Sudah salah masih saja berpura-pura tidak tahu," kata Clarista melotot tajam pada Anita.


"Anda lihat sendiri' kan Pak Rektor kelakuan mahasiswi anda, benar-benar--"


Clarissa tidak dapat melanjutkan ucapannya, Rektor langsung mengayunkan tangannya ke atas. Clarista yang paham pun langsung menghentikan terdiam.


"Pagi ini saya mendapatkan laporan jika mahasiswi yang bernama Anita Maharani telah merebut calon suami dari nona Clarista, bahkan Nona Clarista berkata jika anda, Nona Anita Maharani rela melakukan apa pun demi merebut calon suaminya." Rektor terlihat menarik napas berat.


"Saya tidak menyangka jika mahasiswi yang pandai, bahkan mendapatkan beasiswa seperti anda rela melakukan hal seperti itu," ucap Rektor.


Mendengar ucapan Rektor dari Universitas dia menimba ilmu, Anita langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


Ternyata Clarista itu sangat pandai membalikan fakta pikirnya, dia pun dengan cepat langsung melayangkan protesnya.


"Maaf, apakah ada bukti yang memperkuat tuduhan anda terhadap saya?" tanya Anita kepada Clarista.

__ADS_1


Clarista nampak tersenyum, lalu dia pun merogoh tasnya dan mengambil ponsel miliknya.


Dia membuka galeri foto dan memperlihatkan foto-foto kebersamaan antara Anita dan juga Dokter Irawan.


Di sana terlihat dokter Irawan yang tengah memeluk Anita saat keluar dari Caffe, ada juga foto dokter Irawan yang melepaskan jasnya dan memakaikannya di tubuh Anita.


Rektor tersebut langsung menatap Anita dengan tatapan tajamnya, lalu dia pun berkata.


"Ini buktinya, kamu sudah tidak bisa mengelak lagi. Saya malu mempunyai mahasiswi seperti anda, Nona Anita. Maka dari itu saya akan mencabut beasiswa anda, kalau perlu saya akan mengeluarkan anda secara tidak hormat."


Mendengar hal itu, sontak Anita pun langsung bangun dan menghampiri Rektor yang sedang berdiri bersama Clarista.


"Memangnya foto apa yang dijadikan bukti oleh Nona clarista?" tanya Anita.


Rektor tersebut langsung menunjukkan foto-foto kebersamaan dirinya dengan dokter Irawan, Anita tersenyum sinis lalu kemudian dia pun berkata.


"Anda seorang Rektor, pasti anda sangat pandai. Apakah anda tidak bisa membedakan yang mana adegan romantis dan yang mana tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh dokter Irawan dalam foto itu!"


Mendengar ucapan dari Anita, Rektor tersebut langsung mengernyitkan dahinya. Kemudian dia memperhatikan foto tersebut dengan seksama, bahkan beberapa kali dia memperbesar foto tersebut.


"Waktu itu Nona Clarista menuduh saya merebut calon suaminya, dia bahkan mengguyur saya dengan jus yang ada di atas meja, sehingga badan saya yang basah langsung tercetak jelas. Dokter Irawan yang merasa kasihan pun langsung melepaskan jasnya dan memakaikannya di tubuh saya, agar tubuh saya tidak menjadi tontonan orang banyak!" jelas Anita.


Rektor tersebut terus memperhatikan foto tersebut, dia bahkan sampai mengambil kaca matanya. Tak lama kemudian, dia pun terlihat tertunduk malu.


"Nona Clarista, jika anda ingin mendapatkan dokter Irawan, berjuanglah dengan cara sehat. Jika kelakuan anda terus seperti ini, maka dokter Irawan akan lebih ilfil kepada anda," kata Anita.


"Ck! Anak kecil tau apa kamu? Mau dengan cara curang atau pun dengan cara seperti apa, itu urusan saya. Bukan urusan kamu," ucap Clarista dengan kesal.


Darah Anita langsung mendidih seketika, karena dia merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Clarista.


"Awalnya saya ingin menolak ajakan dokter Irawan untuk menikah, namun sepertinya saya lebih baik menikah saja dengan dokter Irawan. Saya sudah terlanjur malu dikatakan sebagai perebut calon suami orang," ucapk Anita.


Mendengar ucapan Anita, Clarista langsung membulatkan matanya. Dia langsung mengangkat tangannya hendak menampar Anita.


Namun, dengan cepat Rektor menepis tangan Clarista.

__ADS_1


"Terima kasih atas kedatangan, anda. Namun, saya berharap anda jangan membuat keributan di sini, ini adalah Universitas, tempat belajar. Bukan tempat mengadu argumen, apa lagi membahas tentang memperebutkan seorang pria."


__ADS_2