
Aldino terlihat memiringkan wajahnya, dia mengecup pipi Fajri dengan sayang, dan tanpa Melani duga Aldino pun mengecup pipi Melani.
Dia terlihat sangat kaget saat Aldino melakukan hal itu kepada dirinya, ingin sekali dia memarahi Aldino.
Namun, itu tak mungkin dia lakukan karena ada kedua buah hatinya dan juga Nyonya Mesti di sana.
Melihat Melani yang diam saja, Aldino terlihat sangat senang. Kembali dia memiringkan wajahnya, dia hendak mengecup kembali pipi Melanie. Namun, dengan cepat Melani memundurkan tubuhnya.
"Cukup, Mas. Kamu tidak boleh melakukan itu kepadaku, karena aku bukan istrimu lagi." Melanie nampak mengangkat tangannya, dia memberikan kode kepada Aldino agar dia tidak berbuat hal yang lebih lagi.
"Tidak bisa seperti itu, Mel. Kamu masih tetap istriku, karena Hakim belum mengetuk palu tanda kita telah bercerai," ucap Aldino berpendapat.
Mendengar ucapan Aldino, Melanie hanya bisa tersenyum sinis. Karena, ternyata lelaki yang berada di hadapannya itu belum juga mengerti.
Aldino bahkan seperti seorang suami yang siaga mempertahankan rumah tangganya, namun hal itu tidak berarti lagi di mata Melani.
Karena semuanya terasa sudah telat, kemana saja saat Melani begitu mengharapkan dirinya? Kemana saja saat Melanie sangat membutuhkan kehadirannya? Kemana saja saat Melani begitu menginginkan berkasih sayang dengan suaminya tersebut?
"Maaf, Mas. Apa pun alasan yang kamu ucapkan, kamu sudah tidak berhak lagi memperlakukan aku semaumu. Lebih baik Mas pulang saja, ajak Mamah. Kasihan dia, ini sudah terlalu sore," kata Melani.
Aldino terlihat menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Rasa-rasanya mengajak Melani untuk kembali rujuk sangatlah susah, pikirnya.
Melihat ketidaknyamanan di wajah Melani, Nyonya mesti pun langsung menghampiri Aldino dan mengajaknya untuk pulang.
"Ayo, Nak. Kita pulang," ajak Nyonya Mesti.
Aldino hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban, sebelum pergi dia pun menyempatkan diri untuk memeluk Merrisa dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Ayah pulang dulu, nanti kapan-kapan Ayah ke sini lagi," ucap Aldino.
Merrisa tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Anak itu seperti enggan untuk menjawab ucapan dari ayahnya, apa lagi setelah melihat sendiri bagaimana perlakuan ayahnya terhadap bundanya.
Melani terlihat bisa bernapas dengan lega saat melihat kepergian Aldino bersama dengan Nyonya Mesti. Sebenarnya dia merasa sangat kasihan kepada Aldino, namun dia tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada lelaki itu.
__ADS_1
Entahlah, dia merasa sangat yakin jika Aldino tidak akan berubah seperti saat mereka bertemu dulu. Saat Melani menatap wajah Aldino, ketulusan Aldino terasa hambar.
Walaupun Aldino berkata jika dia benar-benar bersungguh-sungguh untuk kembali rujuk dengannya, namun Melani tak dapat merasakan ketulusan itu.
"Buna, kita pulang." Merrisa terlihat menautkan tangannya dengan tangan Bundanya.
"Ya, Sayang." Melani pun menggenggam erat tangan putrinya.
Melani nampak menuntun Merrisa sambil menggendong Fajri menuju rumah mereka, sebelum Melani masuk kedalam rumahnya, dia sempat memperhatikan Andrew yang sedang bercengkerama bersama adik perempuannya dan juga ibunya.
Mereka terlihat sangat akrab sekali, Melani bisa melihat sosok Andrew yang terlihat sangat perhatian terhadap kedua wanita yang terlihat sangat spesial di matanya.
Melani pun jadi berpikir, jika dengan adik dan ibunya saja Andrew bisa bersikap sangat manis seperti itu, pasti jika nanti Andrew menikah yang menjadi pasangan hidupnya merupakan wanita yang sangat beruntung.
Karena, dia mendapatkan lelaki yang baik dan juga bertanggungjawab seperti Andrew. Seulas senyum terbit di bibir Melani, namun tak lama kemudian dia pun menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa aku memikirkan hal itu? Toh itu semua tidak ada hubungannya denganku," ucap Melani lirih.
Setelah mengucapkan hal tersebut, Melanie pun langsung memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya beserta kedua buah hatinya.
...****************...
Melani yang sedang tertidur tiba-tiba saja merasakan jika tenggorokan yang sangat kering, Melani pun mengucek matanya dan berusaha untuk bangun.
Dia duduk sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya, lalu setelah itu dia pun segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Ah, seger banget." Melani nampak mengusap lehernya.
Melani pun segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya kembali, saat dia masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Fajri yang sedang tidur namun wajah Fajri terlihat gelisah.
Bahkan tubuhnya terlihat berkeringat, padahal AC di kamarnya sudah menyala. Bahkan Melani merasa hawanya terasa sangat dingin.
Perlahan Melanie pun menghampiri putranya, dia mengusap dahi Fajri yang terlihat mengeluarkan banyak keringat.
__ADS_1
Alangkah kagetnya Melanie, saat merasakan jika suhu tubuh putranya sangatlah panas. Dengan cepat Melanie pun berlari untuk mencari kotak obat, setelah itu dia pun mengukur suhu tubuh Fajri dengan cepat.
"Ya tuhan, 39,7. Tinggi sekali panas tubuhnya," kata Melani
Karena tak ingin terjadi sesuatu terhadap putranya, Melani pun segera berlari ke kamar Merrisa. Dia membangunkan putrinya untuk dimintai bantuan, awalnya dia merasa bingung dengan tingkah bundanya.
Namun, setelah Melani menjelaskan kondisi Fajri, Merissa pun langsung terbangun. Dia langsung mengikat rambutnya dan mencuci mukanya dengan cepat.
Setelah itu dia pun langsung pergi ke kamar Melani, benar saja, wajah adiknya terlihat memerah dan sekujur tubuhnya dibasahi dengan keringat. Merissa pun ikut khawatir.
"Bun, deket sekolah ada klinik dua puluh empat jam. Kita bawa kesana saja dulu, yang penting Fajri dapat penanganan," usul Merrisa.
"Kamj benar," ucap Melani.
Melani pun dengan cepat mengambil ponsel dan juga dompetnya, kemudian dia juga mengambil kain panjang untuk menggendong putranya.
Setelah itu, Melani dan juga Merrisa langsung pergi ke klinik yang tak jauh dari perumahan tempat mereka tinggal.
Mereka berjalan kaki dengan cepat agar segera tiba di klinik, sampai di klinik, Melani pun langsung meminta tolong kepada suster yang berjaga di sana.
"Mari, Nyonya." Suster tersebut nampak ramah dan mengajak Melani untuk menemui Dokter.
Tiba di depan ruangan periksa, Melani pun segera mengetuk pintunya. Namun yang Melani dengar bukan sahutan untuk mempersilakan dirinya masuk.
Justru Melanie mendengar suara teriakan antara lelaki dan perempuan dari ruangan dokter tersebut, mereka terdengar sedang berdebat.
Bahkan suara perempuan tersebut terdengar makin meninggi, membentak dan memaki. Melanie yang merasa tak tahan pun langsung membuka pintu ruang periksa tersebut dengan kasar.
BRAK!
Pintu nampak terbuka dengan kasar, sepasang manusia yang sedang berdebat di ruangan tersebut nampak kaget. Mereka langsung memalingkan wajahnya ke arah Melani.
"Bisakah kalian tidak bertengkar terlebih dahulu? Anakku sedang demam, dia membutuhkan pertolongan dari Dokter," kata Melani.
__ADS_1
Mendengar ucapan Melani, seorang lelaki yang memakai baju dokter langsung mendorong tubuh wanita yang sedari tadi berdebat dengannya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Perempuan tersebut nampak tidak suka, dia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Namun, lelaki yang berseragam dokter tersebut seakan tak peduli. Justru dia merasa terselamatkan dengan adanya Melani yang datang.