
Gia hanya bisa melongo tak percaya melihat Elsa pergi begitu saja, Gia pun berusaha untuk mengejar Elsa yang sudah hampir keluar dari ruangan tersebut.
"Sa, tunggu." pinta Gia.
"Apa sih?" tanya Elsa.
"Aku seriusan, aku ingin menikahi kamu. Bukan hanya demi kedua anak kita, tapi, karena aku mencintai kamu." ucap Gia.
"Masa?" tanya Elsa dengan senyum konyolnya.
"Astaga? Beneran, Sa. Aku sudah jatuh cinta sama kamu, perasaan cinta aku udah mentok ke kamu." jawab Gia.
"Sejak kapan?" tanya Elsa.
"Aku ngga tahu tepatnya sejak kapan, tapi, semenjak kita ketemu lagi, aku merasa sangat nyaman kalau deket kamu. Lama-lama, rasa itu berubah jadi Cinta. Aku cinta kamu Elsa." ucap Gia.
"Waah, ada Om Gia." ucap Aurora.
"Bunda di tembak, Om Gia." ucap Aurelia.
Elsa dan Gia sontak langsung memalingkan wajah mereka, mereka langsung menatap Aurora dan Aurelia yang sedang memandang mereka dengan tatapan penuh harap.
Gia langsung menghampiri Aurora dan Aurelia, Gia langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
Aurora dan Aurelia pun, dengan senang hati langsung memeluk Gia dengan erat.
"Aku kangen, Om kenapa baru nyusul?" tanya Aurora.
"Aku seneng banget, Om udah bisa jalan lagi." ucap Aurelia.
Elsa pun memperhatikan Gia dari atas sampai ke bawah, dan Elsa pun baru tersadar, bahwa Gia sejak tadi tidak memakai alat bantu untuk berjalan. Tetapi, dia berjalan menggunakan kedua kakinya sendiri.
" Terima kasih, karena kalian sudah begitu perhatian terhadap Om. Tapi, Om ada kabar baik untuk kalian. Apa kalian mau dengar?" tanya Gia.
"Apa?" tanya Aurora.
" Bicaralah, Om. Jangan bikin kami penasaran!!" ucap Aurelia.
"Pemeriksaan yang kita lakukan dulu, ternyata hasilnya akurat. Dan--"
__ADS_1
Gia sengaja menggantungkan ucapannya, dia ingin melihat wajah Aurora dan Aurelia. Mereka terlihat sangat penasaran, menunggu jawaban dari Gia.
"Jadi?" tanya Aurora.
"Hasilnya?" tanya Aurelia.
"Itu artinya, kamu, kamu dan aku menjadi kita." jawab Gia.
Aurora dan Aurelia langsung mengeratkan pelukannya, kemudian Aurora dan Aurelia terlihat menangis di dalam pelukan Gia.
Elsa yang tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan, langsung berjongkok dan mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan kedua putrinya dan juga Gia.
Elsa mengusap kepala kedua putrinya secara bergantian.
"Ada apa? Kenapa kalian menangis?" tanya Elsa.
"Rara senang, Bunda. Karena ternyata, Rara masih mempunyai Ayah." jawab Aurora.
"Rere juga seneng, karena ternyata, Rere bukan anak yatim." ucap Aurelia.
"Maksudnya apa?" tanya Elsa pada Gia.
" Kita ke ruang tengah dulu, kita bicarakan semuanya di sana. Mau kan Elsa?" ucapan Gia terdengar seperti perintah, karena Gia langsung berjalan ke ruang tengah dan duduk di sana.
Mau tak mau, Elsa pun langsung menyusul. Dia pun langsung duduk di sofa, tak jauh dari kedua putrinya bersama Gia.
"Sebelumnya aku minta maaf kepadamu, Elsa. Karena aku dan kedua Putri kita, sudah melakukan tes DNA. Dan hasilnya akurat, mereka adalah anak kandung aku, Aku adalah Ayah biologis dari kedua Putri yang selalu Kamu sangkal kebenarannya." ucap Gia.
Elsa terlihat syok, dia tidak bisa berkata-kata. Dia merasa kesal, karena ternyata Gia bisa melakukan tes DNA tanpa sepengetahuannya.
Tuan Dirja yang melihat kekesalan dimata Elsa pun, langsung turut bicara.
"Maafkanlah aku, Elsa. Ini semua adalah kesalahanku, Gia dan kedua putrimu, hanya menuruti keinginanku. Akulah yang meminta mereka, untuk melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan kamu." ucap Tuan Dirja.
Elsa langsung menatap Tuan Dirja dengan tajam, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. ternyata Tuan Dirja mampu melakukan hal itu di belakang Elsa.
"Jangan marah, Elsa. Ini semua demi kebahagiaan kamu dan kedua anak-anak kamu, aku yakin, Gia bisa membahagiakan kamu." ucap Tuan Dirja.
"Aku kecewa pada kalian," ucap Elsa sambil memandang Gia dan Tuan Dirja secara bergantian.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Elsa langsung pergi menuju ke kamarnya. Dia merasa kesal, dia merasa resah, merasa kalut, dan gundah, Semua rasa campur aduk menjadi satu. Hidup Elsa, kini terasa bagaikan permen nano-nano.
Setelah tiba di kamar, Elsa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia menelungkupkan tubuhnya, dan dia menangis sambil memeluk bantal guling yang ada di sana.
Kebenaran yang selama ini dia tutup-tutupi, kini terkuak juga. Entah kenapa, dia merasa sangat kesal. Rasanya, Elsa tidak mau mengakui Gia sebagai Ayah dari kedua putrinya.
Hatinya terlalu sakit, dengan perlakuan Gia kala itu terhadap Elsa.
Jika boleh memilih, Elsa lebih baik hidup sederhana. Jauh dari keramaian, dan tentunya jauh dari lelaki yang bernama Gianandra Pranadtja.
Tanpa Elsa tahu, ternyata Gia mengikuti Elsa sampai di kamarnya. Hati Gia terasa sangat sakit, saat melihat Elsa yang sedang tertidur, dengan tubuh yang begetarn karena menangis.
Elsa menangis dalam diam, Gia segera menghampiri Elsa. Gia duduk di pinggir tempat tidur lalu mengelus lembut puncak kepala Elsa.
"Maafkan aku, aku benar-benar tulus meminta maaf kepada mu. Aku janji, akan melakukan hal yang terbaik untukmu dan juga kedua Putri kita. Tolong beri aku kesempatan, Elsa." ucap Gia dengan tatapan yang penuh dengan permohonan.
Elsa terlihat bangun dari tidurnya, dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
" Aku masih takut ke padamu, bahkan aku masih mengingat dengan jelas perbuatan keji mu itu." ucap Elsa sambil terisak.
"Aku tahu, aku yang membuat kamu sakit. Izinkan aku, untuk menjadi obat untuk mengobati rasa sakit itu." ucap Gia tulus.
Untuk sesaat Elsa menatap mata Gia, dia bisa dengan jelas melihat ketulusan di mata Gia. Elsa pun jadi bimbang, haruskah dia memaafkan lelaki itu?
Saat Elsa sedang bimbang dengan pikirannya, tiba-tiba saja kedua putrinya masuk kedalam kamarnya. Mereka pun lalu memeluk Elsa dengan erat, mereka seakan berusaha untuk menenangkan hati Bundanya.
Mereka seakan paham dengan sakit hati, yang dirasakan oleh Bundanya.
"Bunda bilang, setiap orang itu mempunyai kesempatan kedua." ucap Aurora.
"Lalu, Apakah Om Gia, tidak mempunyai kesempatan kedua itu?" tanya Aurelia.
Elsa tertegun dengan ucapan kedua putrinya, tapi dia belum bisa menjawab semua pertanyaan yang terlontar dari mulut kedua putrinya.
Dia hanya terdiam, sambil memeluk kedua putrinya itu. Sedangkan Gia, terlihat ingin melayangkan protes nya.
"Sayang, panggil aku AYAH." pinta Gia.
Aurora dan Aurelia melerai pelukannya, kemudian mereka pun menatap wajah Elsa dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1