
"Ini semua gara-gara kamu, kenapa kamu harus mempunyai Baby yang sangat tampan dan menggemaskan? Istriku jadi merajuk," ucapnya.
Setelah mengatakan hal itu, Gia langsung bangun dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Ajun yang tidak paham hanya tersenyum kikuk, lalu dia pun duduk di kursi tempat biasa dia bekerja.
Elsa terlihat senyum-senyum sambil duduk anteng di sofa, sesekali dia bertukar pesan dengan Dina dan juga Gadis.
Tentu saja untuk memberitahukan pada mereka jika Gia sudah menyetujui keinginannya untuk hamil lagi. Walupun sebenarnya Gia hanya berusaha, selebihnya tetap atas kuasa Sang pencipta.
Elsa juga sempat menertawakan dirinya sendiri, dulu dia sempat takut untuk hamil saat Gia memperkosa dirinya. Namun sekarang, dia malah menginginkan banyak anak dari lelaki yang pernah membuat dirinya sakit hati dan kecewa.
Berbeda dengan Gia, dia terlihat bekerja dengan serius, namun dia tak terlihat ceria seperti biasanya. Wajahnya terlihat datar dan dingin.
Berbeda dengan Elsa yang terlihat sangat bahagia, dia terus saja memandangi ponselnya. Karena dia sedang asyik bertukar pesan dengan Gadis dan juga Dina.
Sesekali Elsa akan mengecek keadaan Baby Adelia yang terlihat masih tidur dengan sangat pulas.
Ajun memperhatikan wajah Gia dan juga Elsa secara bergantian, mereka terlihat sangat berbeda menurut Ajun.
Elsa terlihat sangat bahagia, sedangkan Gia terlihat seperti sedang menahan rasa kesal di hatinya.
Ajun pun menjadi bingung dibuatnya, karena Gia sempat berkata jika ini semua akibat dirinya yang memiliki putra yang sangat tampan dan juga menggemaskan.
Ajun dari tadi bertanya-tanya dalam hatinya, sebenarnya apa hubungannya antara putranya dengan kekesalan yang terlihat di wajahnya.
"Heh!" terdengar helaan napas berat dari bibir Ajun.
Gia langsung memandang Ajun dengan tatapan tajamnya.
"Kamu kenapa?" tanya Gia.
"Tidak apa-apa," ucap Ajun seraya mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.
Aura Gia benar-benar terasa dingin, rasanya tubuhnyas seperti akan membeku dengan hanya tatapan Gia yang mengarah tajam melihatnya.
Ajun berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya, dari pada nantinya akan kena semprot dari Gia.
Jika di ruangan Gia kini terasa sangat dingin dan tanpa adanya obrolan, berbeda dengan keadaan di rumah Mama Andrew.
__ADS_1
Baru saja satu hari Andrew dan Melani pergi meninggalkan kedua buah hatinya, namun ternyata Fajri yang baru saja di sapih oleh bundanya sudah begitu merindukan Melani dan juga Andrew.
Bahkan dia langsung demam karena seharian tidak mau makan, Anita, Merissa dan juga mama Andrew terlihat panik dibuatnya.
Akhirnya Anita pun memutuskan untuk membawa Fajri untuk diperiksa ke klinik dokter Irawan.
Anita dan mama Andrew berbagai tugas, jika Anita kini sedang pergi ke klinik untuk memeriksakan keadaan Fajri, Mama Andrew bertugas untuk menjaga Merissa.
"Selamat siang, Sus. Tolong keponakan saya, Sus. Dia demam," kata Anita.
"Tunggu sebentar ya, Nona. Di dalam sedang ada pasien," kata Suster sopan.
Anita pun menurut, dia duduk di bangku tunggu sembari menggendong Fajri. Tak lama kemudian, seorang suster pun mempersilahkan Anita untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan.
Karena pasien sebelumnya telah selesai melakukan pemeriksaan, Anita pun langsung masuk ke dalam ruangan dokter Irawan.
"Silakan duduk," ucap Dokter Irawan.
Anita pun langsung duduk tepat di depan dokter Irawan, Fajri terlihat anteng dalam pelukan Anita.
"Begini, Dokter. Keponakan saya demam," ucap Anita.
"kalau begitu tolong ditidurkan saja di atas bed pasien, biar saya periksa," kata Dokter Irawan.
Anita terlihat mengangguk, lalu dia pun menuruti ucapan dari dokter Irawan. Setelah Anita menidurkan Fajri, dokter Irawan nampak menghampiri bocah tampan berusia 2 tahun itu.
Saat melihat wajah Fajri, dokter Irawan tersenyum. Lalu, dia pun berkata.
"Bukankah ini anaknya Melani? Fajri, kan?" tanya Dokter Irawan.
"Iya, Dok. Ini anaknya Kak Melani," jawab Anita.
"Wah kamu kok bisa demam lagi sih, Nak?" tanya Dokter Irawan.
"Itu, Dok. Kak Melani sedang berbulan madu, selama seharian dia tidak mau makan. Sepertinya masuk angin, badannya terasa dingin semua. Tapi suhu tubuhnya panas," kata Anita.
"Biar saya periksa," ucap Dokter Irawan.
__ADS_1
Dokter Irawan pun segera memeriksakan kondisi Fajri, ternyata setelah diperiksa Fajri hanya demam biasa. Mungkin dia terlalu merindukan bundanya, karena memang dia belum pernah berpisah dengan bundanya tersebut.
Walaupun Melani sangat sibuk dalam bekerja, tapi dia selalu meluangkan waktu untuk kedua buah hatinya.
"Fajri hanya demam biasa, Nona. Cukup dikasih obat penurun panas saja sama dikompres. Biar panasnya cepat turun," ucap Dokter Irawan.
"Iya, Dok. Saya akan me--"
Ucapan Anita terhenti karena tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka, nampaklah seorang wanita cantik dan juga seksi yang masuk begitu saja.
Wanita yang selalu dokter Irawan hindari, wanita yang selalu memaksakan kehendaknya yang dirasa tidak masuk akal menurutnya.
Anita dan dokter Irawan langsung memalingkan wajahnya ke arah wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, wajah dokter Irawan berubah menjadi kesal.
"Bisa bersikap lebih sopan?" tanya Dokter Irawan.
"Ngga bisa, Wan. Aku ngga bisa sopan kalau kamunya ngga mau ngabulin keinginan aku," kata Clarista.
"Ck! Sudah aku katakan berkali-kali, aku tidak akan pernah menikahi kamu, Clarista Handerson." Dokter Irawan nampak mengeratkan giginya.
"Jangan munafik, Wan. Aku tahu kamu juga jomblo dan sudah lama tidak bersenang-senang dengan seorang wanita. Kita menikah, kamu pun bisa mendapatkan kepuasan dari aku," ucapnya tanpa malu.
"Maaf, Clarista. Kamu salah, aku sudah memiliki calon istri." Dokter Irawan terlihat menghampiri Anita.
Tanpa Anita duga, dokter Irawan langsung merangkul pundaknya dan mengecup keningnya dengan lembut. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari dokter Irawan, Anita hanya bisa mengerjakan matanya beberapa kali.
Anita memang bukan gadis yang tidak pernah merasakan yang namanya pacaran, namun dia tidak mengerti dengan yang dilakukan oleh dokter Irawan terhadap dirinya.
Melihat interaksi antara Anita dan dokter Irawan, membuat Clarista menjadi geram. Dia bahkan langsung menghampiri Anita dan hendak menampar wajahnya.
Namun sebelum tangannya mendarat sempurna di pipi Anita, dokter Irawan sudah menepis tangan Clarista dengan kasar.
"Pergilah! Jangan pernah ganggu calon istriku," kata Dokter Irawan.
Mendengar kata pengusiran dari dokter Irawan, membuat Clarista semakin marah. Dia bahkan sempat mendorong tubuh Anita, namun dokter Irawan dengan cepat mendekap tubuhnya. Sehingga dia pun tak terjatuh.
"Sialan kalian, awas saja nanti!" kesal Clarista seraya berlalu.
__ADS_1