
Wajah Gia nampak berseri pagi ini, senyum di bibirnya pun terus saja mengembang. Karena setelah siangnya berbuka puasa, malam harinya pun Gia meminta kembali haknya.
Tentu saja Elsa memberikannya, bukan karena Elsa yang kegatelan. Tapi, Gia yang tak ada hentinya merayu sang istri. Hal itu membuat Elsa jengah dan memberikan hak Gia kembali.
Gia bahkan langsung melakukannya dari arah mana pun yang dia suka, yang dia rasa nyaman dan enak pasti dia coba.
Elsa sudah benar-benar seperti kue cucur, dibolak-balik dan ditarik sana tarik sini. Kalau saja bisa Elsa ingin sekali melayangkan protesnya, sayangnya Gia melakukannya dengan lembut.
Hal itu membuat Elsa merasa nyaman dan merasa ingin terus dimasuki oleh milik suaminya.
"Ehm, Tuan. Maaf, saya memerlukan tanda tangan anda segera." Ajun yang sedari tadi menunggu Gia menandatangani berkas pun, langsung menepuk pundak Gia.
"Eh? Maaf, aku sedikit melamun," jawab Gia.
Gia memang terus aja tersenyum sambil melamunkan kegiatan panasnya bersama dengan istrinya, dari pertama menikah Gia selalu melakukan hal itu dengan gaya itu-itu saja.
Karena Gia takut jika Elsa akan mengalami traumanya kembali, namun kali ini Elsa sudah sembuh dari traumanya. Sehingga dia pun bisa merealisasikan keinginannya dalam bercinta.
"Melamun sih melamun, tapi jangan nyengir mulu. Kering nanti itu gigi," kata Ajun mencibir.
"Astaga!" pekik Gia.
Ajun hanya tertawa lalu kembali menuju meja kerjanya, sedangkan Gia terlihat kesal pada Ajun.
"Belum saja kamu merasakannya, Aku sumpahin biar istri kamu langsung hamil," kata Gia.
"Bagus dong kalau langsung hamil, aku sudah tua tak perlu menunggu lama lagi," kata Ajun seraya terkekeh.
"Ya, enak dapet anak cepet-cepet. Tapi, kamu ngga bisa dapet jatah dalam waktu yang lama," jelas Gia.
Ajun langsung terdiam, dia pun jadi teringat jika setelah melahirkan nanti wanita akan mengalami masa nifas.
"Semoga saja aku kuat, hanya empat puluh hari. Ajun, pasti kamu akan kuat." Gumamnya dalam hati.
Melihat Ajun yang diam saja, membuat Gia langsung tersenyum mencibir ke arah Ajun.
"Sudah kerja, ngga usah lihatin aku terus. Masih banyak waktu buat nganu, Gadis juga belum hamil. Aku masih bisa sering-sering melakukannya dengannya," kata Ajun.
"Cih! Percaya diri sekali, coba saja lihat nanti. Aku jadi ingin tahu bagaimana jika istrimu hamil nanti," kata Gia.
"Terserah apa kata kamu saja," ucap Ajun pada akhirnya.
__ADS_1
*/*
Ajun dan Gia merasa jika hari ini terasa sangat lama menuju sore, tentu saja bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk. Akan tetapi, mereka memang sudah merindukan istri mereka masing-masing.
Setelah waktu menunjukkan pukul 4 sore, baik Ajun atau pun Gia langsung bergegas untuk meninggalkan perusahaan milik keluarga Pranadtja tersebut.
Gia langsung pulang ke kediaman Pranadtja, sedangkan Ajun langsung pulang ke kediaman Tuan Alfonso.
Karena sampai saat ini, Gadis masih ingin tinggal bersama Tuan Alfonso. Dia beralasan jika dirinya masih ingin menemani Tuan Alfonso di masa tuanya, Ajun pun tak keberatan.
Apa lagi di sana ada pak Galuh, lelaki paruh baya yang juga membesarkan Gadis dengan penuh kasih sayang, lelaki yang juga punya andil dalam hidup Gadis.
Selama di rumah Tuan Alfonso, pak Galuh selalu saja berkebun di belakang rumah Tuan Alfonso. Berbagai tanaman dia tanaman, dari mulai bunga hingga tanaman buah.
Karena di belakang rumah Tuan Alfonso, memang ada halaman luas yang tak terpakai. Sehingga memudahkan pak Galuh dalam menghabiskan waktunya.
Karena Tuan Alfonso selalu saja bekerja bersama dengan Gadis di perusahaan miliknya, dia selalu memperkuat pemahaman Gadis dalam berbisnis.
Gadis yang memang menuruni sifatnya dalam berbisnis, membuat Tuan Alfonso bersemangat dalam membentuk pribadi Gadis agar lebih kuat lagi.
"Sayang, aku pulang!" teriak Ajun.
Ajun pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya bersama dengan Gadis, kamar yang berada di lantai dua.
"Sayang!" kembali Ajun memanggil istrinya kala pintu kamar mereka terbuka.
Namun, tak ada Gadis di sana, Ajun pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya. Kemana sebenarnya sang istri tercinta.
Ajun lalu menyimpan tas kerjanya, membuka jasnya dan membuka dasinya. Dia juga membuka kemejanya dan menggantinya dengan kaos rumahan.
"Mungkin Gadis ada di taman belakang sama Bapak," tebak Ajun.
Ajun lalu melangkahkan kakinya menuju ke taman belakang, di sana ada pak Galuh yang sedang duduk sambil menatap bunga-bunga miliknya yang terlihat sedang bermekaran.
Ajun tersenyum, lalu dia pun menghampiri pak Galuh dan duduk tepat di sampingnya.
"Eh, kamu udah pulang?" tanya Pak Galuh.
"Sudah, Pak. Gadis kemana ya, Pak? Aku lihat tas sama ponselnya ada di kamar," kata Ajun.
"Dia ada di kamar Tuan Alfonso," jawab Pak Galuh.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari pak Galuh, Ajun pun langsung merasa heran dibuatnya. Untuk apa pikirnya, Gadis berada di kamar Tuan Alfonso.
"Di kamar, Daddy?" tanya Ajun memastikan.
"Ya," jawab Pak Galuh.
"Ya sudah, kalau begitu Ajun ke kamar Daddy dulu," pamit Ajun.
Ajun pun langsung pergi dari taman belakang, dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama, kamar milik Tuan Alfonso.
Tiba di depan kamar, Ajun langsung mengetuk pintu. Setelah mendapatkan izin untuk masuk, Ajun pun langsung membuka pintu kamar tersebut.
Saat pintu kamar terbuka, Ajun bisa melihat dengan jelas jika Gadis sedang duduk sambil memeluk Tuan Alfonso.
"Yang!" panggil Ajun.
"Ya, Mas." Gadis langsung melerai pelukannya dan merentangkan kedua tangannya.
Ajun tersenyum dia pun langsung menghampiri Gadis dan langsung memeluk wanitanya, setelah enam minggu menikah dengan Gadis, membuat Ajun bersikap seperti anak remaja.
Saat Ajun memeluk Gadis, tiba-tiba saja Gadis terlihat mengendus aroma tubuh Ajun.
"Kenapa, Yang?" tanya Ajun.
"Mas, bau." Gadis lalu melerai pelukannya, dia kembali memeluk Tuan Alfonso.
Ajun terlihat mengendus wangi tubuhnya, tak bau menurutnya. Wanginya pun sama seperti biasanya, bahkan parfum yang dia pakai pun sama seperti yang Tuan Alfonso pakai.
"Ngga bau kok, Yang. Kaya biasa," jawab Ajun.
"Ish! Tapi tadi aku cium bau, Daddy wangi." Gadis langsung mengendus aroma tubuh Daddynya.
"Astaga!" pekik Ajun.
Mendengar kata protes dari Ajun, Tuan Alfonso langsung tertawa.
"Sepertinya, istri kamu sedang kesambet Almarhumah Intan. Mungkin dia rindu memeluk dan mencium wangi tubuhku," ucap Tuan Alfonso.
"Bisa jadi," kata Ajun dengan raut wajah serius.
"Anak Daddy yang cantik, sekarang sudah pukul lima. Suami kamu sudah menunggu, pergilah! Laksanakan kewajiban kamu," ucap Tuan Alfonso.
__ADS_1