
Pasangan pengantin baru itu terlihat begitu lelap dalam tidurnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Namun, mereka seakan enggan untuk sekedar membuka mata atau pun untuk sarapan.
Tuan Alfonso yang sengaja mengunjungi hotel dari pagi, terpaksa pulang ke kediamannya lagi.
Karena dia tak mau mengganggu jam istirahat kedua anak menantunya itu, mereka pasti cape setelah semalaman membuatkan cucu untuknya.
Dia hanya berpesan pada petugas hotel, agar mereka selalu sigap dalam melayani apa pun yang diminta oleh anak menantunya.
Bagaimana tidak tidur pulas, jika saat bangun di pagi hari pun Ajun langsung mendaki gunung kembali.
Gadis sampai dibuat lemas oleh lelaki yang bersetatus sebagai suaminya itu, bahkan pinggangnya pun terasa encok.
Ajun yang baru tahu rasanya mendaki gunung itu ternyata sangatlah enak, membuatnya kecanduan tubuh istrinya.
Dia seakan tak ingin melepaskan istrinya dari jerat kenikmatan yang kian menggulung, beruntung dia meminta libur tujuh hari kepada sang Big Bos'nya.
Selama bekerja dengan Tuan Dirja sampai bekerja dengan Gia, dia tak pernah mengambil cuti. Bahkan hari libur pun dia lebih sering mendapatkan tugas tambahan.
Selama satu minggu ini, dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan istrinya.
Berbeda dengan Ajun, berbeda pula dengan Gia. Kedua pria itu sama-sama sedang bahagia, bedanya Gia bahagia karena tengah menyambut kelahiran Baby ketiganya.
Kini di dalam ruang perawatan Elsa sudah banyak orang yang berkumpul, ada Dina dan juga VB, ada Tuan Dirja dan Bu Anira, tentunya ada twins A juga di sana.
Mereka terlihat membawa kado di tangan masing-masing, bahkan Aurora dan Aurelia tak hanya membawa satu kado saja.
Elsa bahkan sampai menggelengkan kepala melihat bagaimana antusiasnya kedua putrinya dalam menyambut kelahiran adik mereka.
"Sa, selamat ya atas kelahiran anak ketiga elu." Dina langsung memeluk Elsa dan mengelus lembut punggungnya.
"Makasih, Na. Elu udah nyempetin waktu buat nengokin gue," kata Elsa.
"Kita kan friend, do'ain gue ya... semoga kehamilan gue dakasih kelancaran sampai hari H," kata Dina.
Dina terlihat mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit, Elsa pun langsung ikut mengelus perut Dina.
"Pasti, Na. Gue selalu berdo'a yang terbaik buat elu," jawab Elsa.
Elsa dan Dina terlihat mengobrol dengan riang, bahkan VB pun ikut antusias saat berbicara tentang Baby Elsa.
Melihat obrolan antara Bundanya dan juga Aunty Dina yang begitu terlihat seru, membuat Aurora dan Aurelia merasa ingin cepat memberikan kado yang sudah mereka beli.
"Bunda, Rara udah bawa kado untuk Ade." Aurora terlihat menyimpan kado di samping Box Baby.
"Terima kasih, Kakak," jawab Elsa dengan senyum manisnya.
"Rere juga bawa kado yang banyak buat Ade," kata Aurelia tak mau kalah.
Anak berusia delapan tahun itu pun langsung menyimpan kado-kado yang dia bawa di samping sofa.
"Makasih, Kakak Rere," ucap Elsa.
Aurelia pun langsung tersenyum senang, melihat Bundanya yang terlihat bahagia dengan kedatangan mereka kali ini.
Tuan Dirja seakan tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa duduk di samping Bu Anira yang sedang menggendong Baby cantik yang begitu mirip dengan Gia.
"Sa." Bu Anira terlihat mengelus lembut pipi Baby yang masih berwarna merah itu.
"Iya, Bu," jawab Elsa.
"Babynya mirip banget sama Gia, sepertinya kamu harus segera membuatnya lagi," ucap Bu Anira tanpa mengalihkan pandangannya.
Dahi Elsa langsung berkerut dalam, dia tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Ibunya. Sedangkan Gia nampak tersenyum senang, saat mendengar ucapan dari Bu Anira.
"Maksud Ibu?" tanya Elsa.
"Buat satu lagi yang mirip sama kamu, Nak. Biar ngga ada rasa iri," goda Bu Anira.
__ADS_1
"Ya ampun Ibu! Ibu sama aja kaya Mas Gia, bekas lahiran aja belum kering. Tapi kalian malah udah ngomongin Baby lagi," kata Elsa.
Bibir Elsa nampak mengkerucut sempurna, dia merasa tak suka kala ibunya berkata seperti itu.
Dia juga sama menginginkan keturunan yang memiliki wajah mirip seperti dirinya, namun dia baru saja melahirkan.
Apakah tidak bisa membicarakan hal itu lain kali saja? Lagi pula Elsa tak mempermasalahkan, jika semua putrinya memiliki wajah yang begitu mirip dengan sang ayah.
Karena Gia yang dulu arogan, kasar, dingin dan irit bicara itu. Kini sudah menjelma menjadi seorang lelaki idaman, dia baik dan juga selalu perhatian.
Gia selalu berusaha untuk membahagiakan dirinya dan juga putri-putrinya, dia benar-benar sangat senang.
Semua yang ada di sana nampak tertawa, padahal Bu Anira hanya bercanda saja. Namun, Elsa sudah ketakutan terlebih dahulu.
Tuan Dirja nampak menghampiri Elsa dan mengecup keningnya.
"Kami hanya menggodamu, Sayang. Jangan marah," ucap Tuan Dirja.
"Yes, Daddy," jawab Gia.
"Lalu, siapa nama Baby cantikmu? Daddy sudah tak sabar ingin mengetahui namanya," ucap Tuan Dirja.
"Aku belum tahu, Dad. Mas Gia belum memberitahuku," ucap Elsa.
"Daddy tenang saja, aku sudah menyiapkan nama yang cantik untuk putri kami ini," ucap Gia.
"Ya, Daddy percaya," kata Tuan Dirja.
"Bunda, Rara laper. Tadi ngga keburu sarapan, aku izin ke kantin ya?" ucap Aurora.
"Kok bisa belum sarapan? ini sudah pukul sepuluh," kata Elsa.
"Dia terlalu asik mengurusi kado," jawab Bu Anira.
Elsa langsung menggelengkan kepalanya. Mendengar penuturan dari Ibunya, namun dia juga senang karena baik Aurora atau pun Aurelia tak ada yang merasa iri pada adiknya itu.
"Ya, Sayang," jawab Elsa.
Aurora pun nampak keluar dari ruang perawatan milik Elsa, dia langsung berjalan menuju kantin dengan tergesa.
Karena dia berjalan dengan sangat tergesa, hal itu membuat Aurora tak melihat tulisan tanda lantai basah, hingga pada akhirnya dia pun terpeleset dan....
BRUGH
Aurora sudah memejamkan matanya, dia yakin kalau dia pasti akan jatuh tersungkur di lantai dan rasanya pasti akan sangat sakit.
Namun, sudah beberapa detik dia memejamkan matanya, dia tak merasa sakit sama sekali.
Malahan, dia merasa jika dia kini sedang duduk dibangku yang terasa begitu empuk. Bahkan terasa ada tangan yang kini memegang pinggangnya.
"Ehm, mau sampai kapan kamu duduk di pangkuanku, Nona kecil?"
Sebuah pertanyaan yang terdengar sangat jelas dikuping Aurora seakan langsung menyadarkan dirinya, Aurora langsung membuka matanya.
Saat matanya terbuka, dia sangat kaget karena dia kini sedang duduk di atas pangkuan seorang anak laki-laki yang terlihat sangat tampan.
Aurora langsung melompat dari pangkuan seorang pria yang sekitar berusia lima tahun lebuh tua darinya itu.
"Maaf, saya tidak sengaja, Kak." Aurora terlihat memilin ujung baju yang dia pakai.
"Tak apa, lain kali berhati-hatilah." Anak itu terlihat kembali bermain dengan gawainya.
Aurora pun langsung berpamitan kepada anak laki-laki tersebut.
"Sekali lagi, saya minta maaf. Saya permisi," pamit Aurora.
Aurora langsung melangkahkan kakinya menuju kantin, dia sudah sangat lapar dan ingin segera sarapan.
Selapas kepergian Aurora, anak laki-laki itu langsung menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Dasar ceroboh!" pekiknya.
Setelah bekata seperti itu, anak. lelaki itu nampak pergi dari sana. Sedangkan Aurora nampak memakan sarapan yang sudah dia beli dengan lahap.
Setelah perutnya terasa kenyang, Aurora pun langsung kembali ke ruang perawatan Bundanya.
"Sudah?" tanya Tuan Dirja.
"Sudah, Grandpa," jawab Aurora.
"Kalau begitu kita pulang, biarkan Bunda sama Dede istirahat," kata Ibu Anira.
Awalnya kedua bocah itu terlihat enggan untuk meninggalkan Bundanya di sana, karena mereka juga masih ingin melihat Baby yang baru saja lahir tadi malam itu.
Namun mereka juga tak bisa egois, karena Elsa dan Adeknya memang membutuhkan waktu untuk beristirahat.
"Baiklah, Bunda. Kami pulang," dulu ucap Aurelia.
Walaupun wajah mereka nampak cemberut, tetapi tetap saja mereka pergi dari Klinik Bersalin tersebut. Tentunya VB dan Dina pun ikut pulang, karena Dina yang tengah hamil muda pun harus istirahat.
Ya, semenjak mengandung. Dina memang jarang di kasih pergi oleh lelaki brondong yang kini berubah posesif itu.
Terkecuali, ada VB atau pun ada Nyonya Miranda. Barulah Dina boleh pergi, itu pun tentunya dengan sarat.
Elsa pun langsung merebahkan tubuhnya untuk beristirahat, tentu saja tujuannya agar dia labih cepat pulih dan bisa cepat pulang.
*/*
Kembali ke kamar pengantin....
Ajun nampak sudah terbangun dari tidurnya, dia nampak tersenyum senang saat dia melihat Gadis yang tertidur dengan pulas.
Gadis menjadikan dadanya sebagai bantal, sedangkan tangannya begitu posesif memeluk tubuh Ajun.
"Cape ya? Bobonya ampe pules banget," kata Ajun.
Ajun mengusap pipi Gadis dengan lembut, rasanya ini masih seperti mimpi. Dia bisa menikah diusianya yang satu minggu lagi genap tiga puluh tiga tahun.
Mendapatkan usapan lembut dari tangan suaminya, Gadis nampak menggeliatkan tubuhnya.
"Aduh!" pekik Gadis.
Ajun nampak khawatir mendengar ucapan dari Gadis, dia langsung bangun dan memeriksa keadaan istrinya.
"Kenapa, Sayang? Apa yang sakit? Sini Om bantu obatin," ucap Ajun.
"Itu Om, anu. Itunya sakit, sama pinggang aku kayaknya encok deh. Om sih, ngga ada istirahatnya!" keluh Gadis.
"Maaf, Yang. Abisan enak, kita mandi dulu aja. Nanti Om pesenin makan sama sekalian minta dibelikan obat anti nyeri, oke?" tawar Ajun.
"Hem, tapi jangan minta lagi. Nanti aku bisa pingsan," ucap Gadis dengan bibir yang sudah mengkrucut sempurna.
Ajun mengecup bibir Gadis dan dia pun langsung berkata.
"Tidak akan, Sayang. Maaf kalau Om membuat itu kamu sakit," ucap Ajun.
"Iya, tapi aku belum percaya sama Om. Jadi, Om diem dulu di sini. Aku mau mandi duluan, kalau barengan takutnya Om akan khilaf." Gadis langsung turun dari ranjang.
Gadis mengambil kimono mandi dan langsung memakainya.
Dia terlihat melangkahkan kakinya dengan pelan menuju kamar mandi, sesekali dia terlihat meringis.
Ajun pun menjadi tak tega melihatnya, mungkin dia akan mencoba untuk menahan hasratnya untuk sementara waktu.
Setelah melihat Gadis masuk ke dalam kamar mandi, Ajun langsung bangun dan mengambil handuk. Dia langsung melilitkan handuk tersebut di pinggangnya
"Sepertinya aku harus memesan makanannya sekarang, agar Gadis tidak kelaparan."
Ajun langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi anak buah Tuan Alfonso, tentunya untuk memesankan makanan untuk mereka dan juga meminta tolong untuk membelikan obat anti nyeri untuk Gadis.
__ADS_1
"Beres," ucapnya.