
Saat dokter Irawan dan Anita tiba di dalam ruang keluarga, mereka sangat kaget. Karena ternyata, Mommy Clara terlihat sedang mengobrol dengan Clarista.
'Ck! Mau apa lagi, wanita lucnut itu?' tanya Dokter Irawan dalam hati.
Clarista dan Mommy Clara yang menyadari kedatangan dokter Irawan bersama dengan Anita, langsung menghentikan obrolan mereka.
Clarista dan Mommy Clara langsung bangun sambil memperhatikan penampilan Anita, Mommy Clara bahkan melihat penampilan Anita dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dia melihat Anita dengan tatapan datar tanpa ekspresi, bibirnya tak sedikit pun tersenyum.
Hal itu membuat Anita cemas, karena dia tak bisa membaca wajah Mommy Clara. Apa lagi saat melihat wajah Clarista, Anita terlihat ketakutan.
Dia jadi teringat akan kelakuan Clarista yang selalu ingin berusaha untuk mempermalukan dirinya, Anita pun jadi takut jika Clrista hari akan lebih membuat dirinya malu di depan Mommy Clara.
Saking takut dan cemasnya, Anita langsung memeluk lengan kekar dokter Irawan. Menyadari jika Anita sedang cemas, dokter Irawan langsung mengusap-usap punggung Anita.
Hal itu tentu tak luput dari pandangan mata Mom Clara, dia bisa lihat bagaimana cemasnya Anita dan bagaimana perhatiannya putranya.
"Aunty bisa lihat sendiri, penampilannya aja nggak banget! Masa Aunty mau menjadikan dia sebagai menantu?" keluh Clarista.
Mendengar ucapan Clarista, Mom Clara langsung mengalihkan pandangannya kepada keponakannya tersebut. Lalu, dia pun tersenyum dan berkata.
"Pulanglah dulu, Sayang. Aunty ingin berbicara dengan putra Aunty dan juga wanita itu," ucap Mom Clara dingin.
Clarista tersenyum, karena dia menebak jika mom Clara tidak akan menyetujui rencana pernikahan dokter Irawan dan juga Anita.
Apa lagi saat melihat wajah mom Clara yang terlihat dingin dan juga cara dia memanggil Anita, dia menjadi yakin jika Anita tidak diterima di keluarga Handerson.
"Oke Aunty, aku pulang," pamit Clarista.
Setelah berpamitan, Clarista nampak memeluk mom Clara. Lalu, dia pun menautkan kedua pipinya secara bergantian.
Setelah itu, dia pun langsung pergi dari rumah dokter Irawan. Saat melewati Anita, dia sempat menyenggol bahu Anita cukup keras.
Hal itu membuat Anita terhuyung, beruntung dokter Irawan merangkul pinggang Anita dengan erat. Sehingga, Anita tidak sampai terjatuh.
"Duduklah, Sayang." Wajah Mom Clara kini terlihat begitu bersahabat.
Dia tersenyum hangat, alu mempersilahkan Anita dan dokter Irawan untuk duduk bersama dengannya.
__ADS_1
Dokter Irawan dan Anita pun menurut, mereka langsung duduk tepat di depan mom Clara.
"Jadi, ini calon istri kamu?" tanya Mom Clara.
Mom Clara terlihat tersenyum hangat, berbeda dengan Anita yang terlihat begitu cemas.
"Yes, Mom. Cantik, kan?" tanya Dokter Irawan.
"Ya, cantik dan juga manis," puji Mom Clara.
Mendengar ucapan dari Mom Clara, Anita nampak tersenyum malu-malu.
"Ya ampun, Sayang. Kamu itu benar-benar," celetuk Mom Clara.
"Kenapa, Mom?" tanya Dokter Irawan tidak mengerti.
"Kamu tuh sengaja kan, milih daun muda kaya Anita. Sudah cantik, pinter, ngga neko-neko lagi," kata Mom Clara.
Mendengar ucapan dari Mom Clara, dokter Irawan nampak menautkan kedua alisnya. Dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Mom'nya.
"Maksud Mom apa? Mom seperti Gia," keluhnya.
Setelah mendengar ucapan dari mom Clara, dokter Irawan pun tampak mengerti. Sepertinya setelah dia mengatakan akan menikah, mom Clara menyuruh orangnya untuk menyelidiki siapa Anita dan dari mana asalnya.
"Jadi--"
"Yes, dia wanita baik. Mom setuju," kata Mom Clara.
"Oh, Lord." Dokter Irawan langsung memeluk Mom'nya.
Dia merasa senang karena momminya telah setuju jika dia akan menikahi Anita, dia merasa terheran-heran kenapa bisa dengan mudahnya momnya menyetujui rencana pernikahannya dengan Anita.
Padahal sejak dulu jika dia berdekatan dengan wanita momnya selalu selektif, bahkan hampir semua wanita yang menjadi pilihannya tak pernah disetujui.
Apa lagi saat dia hendak menikah dengan kekasih hatinya, selain dari fitnah yang diucapkan oleh Clarista, mom Clara pun menentang keras hubungannya bersama dengan kekasihnya tersebut.
Dia berkata, jika dia punya alasan kenapa bisa menentang hubungannya dengan kekasinya itu.
Mom Clara terlihat mengurai pelukannya, kemudian tatapan matanya beralih kepada Anita.
__ADS_1
"Kenapa diam saja, apa kamu tidak mau memeluk, Mom?" tanya Mom Clara.
"Eh? Iya, Mom." Anita terlihat bangun dari duduknya, dia menghampiri Mom Clara lalu memeluk Mom Clara dengan erat.
"Tank's, Mom. Karena sudah mau menerimaku sebagai calon mantu," kata Anita.
Mom Clara mengurai pelukannya, lalu dia menatap Anita dengan lekat.
"Karena kamu wanita baik, makanya Mom menerima kamu." Mom Clara tersenyum manis.
Mata Anita langsung membulat dengan sempurna saat mendapatkan jawaban dari mom Clara, dia tidak menyangka jika mom Clara akan menerima dirinya dengan mudah.
Namun, dia juga bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Mom Clara bisa menyebutnya wanita baik. Padahal dia baru kali ini bertemu dengan Mom Clara.
"Tapi, Mom. Aku hanya orang biasa, bukan orang yang sepadan dengan--"
Anita terlihat mengalihkan pandangannya kepada dokter Irawan, dia sangat sadar jika dia hanya orang biasa. Sedangkan dokter Irawan adalah orang berada, mempunyai jabatan yang bagus dan juga harta berlimpah.
"Tidak masalah, yang penting kamu mau setia dan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk anak Mom," kata Mom Clara.
Tentu saja mom Clara menginginkan menantu yang setia dan juga bisa merawat anaknya dengan baik, jangan sampai seperti dirinya yang pernah merasakan sakitnya diselingkuhi.
"Aku akan berusaha," kata Anita.
Anita terlihat serius dalam berucap, dia memang belum mencintai dokter Irawan. Namun, pernikahan adalah hal yang sakral, bukan hal yang bisa dipermainkan begitu saja.
Anita sudah bertekad dalam hatinya untuk memulai rumah tangga yang baik dengan dokter Irawan, dia ingin menikah sekali seumur hidup'nya.
"Mom percaya, besok kamu sama Awan ke butik. Belilah baju pengantin yang bagus," kata Mom Clara.
"Awan siapa, Mom?" tanya Anita.
Mendengar pertanyaan dari Anita, mom Clara juga dokter Irawan langsung tertawa.
"Awan itu, panggilan kesayangan Mom untuk calon suami kamu, Sayang." Mom Clara mengelus lembut tangan Anita.
"Oh, maaf. Aku ngga tahu," kata Anita.
Anita terlihat mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin.
__ADS_1