
Selaa perjalanan menuju kampus, Cristian dan juga Aurelia hanya saling diam. Cristian terlihat bingung harus mengawali pembicaraan mereka dari mana, sedangkan Aurelia terlihat acuh.
Berbeda dengan Kiandra dan juga Aurelia, selama perjalanan menuju kampus mereka nampak terus saja berdebat.
Karena Kiandra terkesan selalu ingin berduaan dengan Aurelia, bahkan Kiandra begitu gigih berusaha untuk bisa masuk ke dalam kehidupan Aurora.
"Pulang kuliah nanti aku langsung jemput kamu," kata Kiandra.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kiandra, Aurora yang nampak sedang asyik menatap jalanan langsung memalingkan wajahnya ke arah Kiandra.
"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri." Aurora mendelik tidak suka.
Kiandra terlihat menatap Aurora sejenak, lalu dia kembali fokus dalam menyetir.
"Ck! Hari ini kamu ada kursus lukis, biar sekalian aku ajarin kamu," kata Kiandra.
Pria berusia dua puluh dua tahun itu benar-benar serius dengan ucapannya, dia ingin dekat dengan gadis manis berusia enam tahun di bawahnya itu.
"Iiih, kamu tuh nyebelin banget! Kamu tuh pemaksa," kesal Aurora seraya memukul-mukul lengan Kiandra.
Kiandra terlihat meringis menahan sakit, karena Aurora terlihat memukul Kiandra dengan kencang.
"Aduh, sakit. Nanti aku tidak bisa menyetir, aku belum mau mati. Karena aku belum merasakan malam pengantin sama kamu," kata Kiandra.
Aurora semakin kesal dibuatnya, karena menurutnya Kiandra tidak pantas mengatakan hal itu terhadap dirinya.
"Astaga, dasar pria mesumm! Kemana dirimu yang dingin dan juga kaku? Kenapa jadi berubah seperti ini?" keluh Aurora.
__ADS_1
Terus terang Aurora lebih menyukai sifat dingin dari Kiandra, walaupun sesekali Aurora mengharapkan Kiandra bersikap manis dan juga hangat.
Akan tetapi, tidak semesumm ini. Menurut Aurora ini malah lebih menyebalkan, karena dia merasa jika itu bukan sifat dari Kiandra.
"Aku berubah karena kamu, Ra. Aku serius ingin menjadikan kamu sebagai istriku," kata Kiandra.
Aurora semakin kesal dibuatnya, ingin sekali dia menjambak rambut Kiandra dan mengikat bibir lelaki dingin itu, agar dia tidak bisa berucap lagi.
"Kan aku sudah bilang, aku masih kecil," jawab Aurora.
Kiandra tersenyum, lalu dia bertanya.
"Berapa tahun lagi aku harus menunggu?" tanya Kiandra.
"Kamu itu percaya diri sekali, Kak. Aku belum berkata setuju untuk menikah sama kamu, kamu main nunggu-nunggu aja," kata Aurora.
Bagaimana kalau dia menemukan pria yang lebih baik dari Kiandra, lalu dia memutuskan untuk menikah dengan pria tersebut, bukan menikah dengan Kiandra.
"Ck! Kamu tuh berisik, jangan sampai bibir mungil kamu aku cium karena kamu terlalu cerewet," kata Kiandra.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kiandra, Aurora langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jangan! Aku masih perawan," kata Aurora.
Melihat tingkah dari Aurora, Kiandra terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia merasa tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Aurora.
"Ish! Memangnya aku pernah berkata akan mengambil keperawanan kamu? Aku hanya berkata akan mencium kamu," kata Kiandra.
__ADS_1
"Sama saja, bibir aku masih perawan," kata Aurora.
"Jaga terus semua yang ada di dalam tubuh kamu, karena semuanya hanya aku yang boleh memilikinya," kata Kiandra.
"Iiih, Kakak makin lama makin lebay!" keluh Aurora.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Aurora, Kiandra nampak tersenyum. Kemudian dia menepikan mobilnya, karena sudah tiba di depan kampus tempat di mana Aurora menimba ilmu.
"Turunlah, Tuan Putri. Karena kita sudah tiba di tempat yang kita tuju," kata Kiandra.
Aurora nampak mencebikkan bibirnya, selama dalam perjalanan menuju kampus Kiandra terus saja merayunya.
Namun, giliran Aurora hendak turun dari mobil, Kiandra terlihat enggan untuk turun dari mobil dan membukakan pintu untuk dirinya.
"Hem," jawab Aurora seraya turun dari mobil Kiandra.
Aurora terlihat masuk ke dalam Fakultas tempat dia menimba ilmu, tentu saja dia tidak menoleh sama sekali ke arah Kiandra. Karena hatinya masih terasa kesal dan juga dongkol.
Berbeda dengan Kiandra, dia terlihat tersenyum dengan sangat manis ketika melihat kepergian wanita yang sudah menjadi incarannya itu.
"Selamat belajar, wanitaku." Kiandra tersenyum lalu dia melajukan mobilnya menuju perusahaan miliknya.
BERSAMBUNG....
Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu, murah rezeki dan selalu meluangkan waktu untuk membaca karya receh Othor ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak, yes.
__ADS_1