
Selsai makan siang, Gia, seolah enggan untuk pulang. Gia, malah masuk ke dalam kamar Aurora dan Aurelia. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya, di antara kedua putrinya yang sedang tertidur dengan pulas.
Elsa, dengan tergesa langsung menyusul Gia, ke dalam kamar kedua putrinya. dia tidak mau Jika dia sampai mengganggu jadwal tidur siang kedua putrinya.
"Ck, Hey... Sini kamu," ucap Elsa pelan tapi penuh penekanan.
Dengan perlahan, Gia bangun dan menghampiri Elsa. Gia, langsung memeluk Elsa dan menyandarkan kepalanya di pundak Elsa.
"Berat!" Elsa mendorong dada Gia.
Bukannya melepaskannya, Gia malah mengeratkan pelukannya.
"Cape, mau bobo." Gia berucap dengan manja.
"Pulang sana! Ngapain juga di sini?! Yang ada, kamu gangguin anak kita." Elsa tanpa sadar berkata seperti itu.
Gia nampak senang mendengarnya, Gia langsung melonggarkan pelukannya, kemudian dia menatap Elsa dengan lekat.
" Terima kasih, karena sudah mengakui aku, sebagai Ayah dari kedua Putri kita."
Cup!
Satu kecupan manis, mendarat tepat di kening Elsa. Elsa terlihat sangat kesal, karena lagi-lagi Gia melakukan hal semaunya.
"Ish,,, kamu tuh. Aku udah bilang, jangan suka cium-cium." Elsa terlihat mencebik kesal.
Gia langsung tersenyum, dia suka melihat Elsa yang terlihat merajuk. Terlihat cantik dan manis.
"Itu namanya bukan cium, tapi kecup." Gia berucap seraya menyelipkan anak rambut Elsa.
"Sama saja, kamu nakal. Suka ba--"
Ucapan Elsa langsung terhenti, karena Gia sudah menutup bibir Elsa dengan kehangatan bibir Gia. Elsa terlihat berusaha untuk melepaskan tautan bibir Gia, tapi, dengan cepat Gia. mempererat pelukannya.
"Itu, baru yang namanya ciuman." Gia mengusap. bibir bawah Elsa.
"Sinting kamu!" maki Elsa.
Bukannya marah, Giia malah tertawa mendengar ucapan Elsa.
"Jangan ketawa kayak gitu, nanti Aurora sama Aurelia bisa bangun." Elsa berucap dengan nada kesal, karena Gia seakan mempermainkan dirinya.
"Kalau gitu, kita pindah." Ajak Gia.
"Kemana?" tanya Elsa.
"Ke kamar kamu," ucap Gia.
Tanpa menunggu persetujuan Elsa, Gia langsung menggendong Elsa, menuju kamarnya. Tiba di dalam kamar Elsa, Gia langsung merebahkan tubuh Elsa dengan perlahan.
__ADS_1
Elsa berusaha untuk bangun, tapi Gia, malah mengurung pergerakan Elsa. Kini, Gia sudah berada di atas tubuh Elsa.
"Ma-mau apa, kamu?" tanya Elsa gugup.
"Mau bobo, aku ngantuk." Tangan Gia, mengusap. lembut pipi Elsa.
"Ja--jangan, macam-macam." Elsa begitu takut melihat Gia, yang berada tepat di atas tubuhnya.
Tanpa banyak bicara, Gia langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Elsa. Kemudian, dia menarik Elsa ke dalam pelukannya.
"Tidurlah," ucap Gia.
Elsa tak dapat berkata apa-apa, dia hanya bisa menatap wajah Gia, yang sudah mulai memejamkan matanya.
Elsa ingin sekali lepas dari pelukan Gia, tapi, Gia memeluknya dengan sangat erat. Elsa pasrah, Elsa pun, tertidur di dalam pelukan Gia.
Tanpa mereka ketahui, Ibu Anira memperhatikan kebersamaan mereka. Dia sangat khawatir, jika Gia akan berbuat hal yang tidak diinginkan lagi terhadap putrinya.
Tapi, saat melihat Gia dan Elsa yang tertidur dengan posisi saling memeluk, Ibu Anira pun langsung bernafas lega.
Ibu Anira benar-benar berharap, semoga saja kedatangan Gia, bisa membuat putrinya bahagia.
"Tuhan, jangan biarkan putri ku menderita lagi. Sudah cukup penderitaannya selama ini, semoga dengan datangnya pria yang bernama Gianandra Pranadtja, bisa membuat hidup Elsa dan kedua cucu ku bahagia."
Do'a tulus, Ibu Anira panjatkan pada sang maha pencipta.
Pukul empat sore, Elsa mengerjapakan matanya. Rasa lelahnya, terasa sudah hilang. Elsa mengangkat kedua tangannya, lalu meregangkan otot-otot 'nya.
"Bunda, sudah bangun?" tanya Aurora.
"Bunda, bobonya pules banget. Mentang-mentang di peluk Ayah," ucap Aurelia menimpali.
Elsa langsung melirik ke arah samping, dan benar saja. Ada Gia, di sampingnya yang sedang memeluk erat perutnya.
Elsa, terlihat begitu malu, karena ketahuan oleh kedua putrinya. Jika dia, tidur bersama dengan Gia.
"Hey, bangun." Elsa menggoyangkan pundak Gia.
"Apa sih, Yang? Mau di s--"
Elsa langsung menutup mulut Gia, dia takut, jika Gia akan mengucapkan kata-kata yang tak pantas untuk di dengar oleh anak-anak.
Gia langsung gelagapan, karena ternyata, Elsa bukan hanya menutup mulut Gia, tetapi hidungnya juga tertutup oleh tangan Elsa.
Saat tersadar dengan apa yang dilakukannya, Elsa pun langsung menarik kedua tangannya.
"kamu mau bunuh aku?" tanya Gia.
"Bu--bukan gitu, ada anak-anak. Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh," ucap Elsa sambil melirik kedua putrinya.
__ADS_1
Gia pun langsung mengikuti tatapan mata Elsa, saat melihat kedua putrinya ada di sana, Gia pun dengan cepat merentangkan kedua tangannya.
"Sudah bangun ya, sini... Peluk, Ayah." Aurora dan Aurelia, pun langsung menghambur ke dalam pelukan Ayahnya.
"Rara senang, lihat Ayah bobo bareng, Bunda." Aurora, mengatakan hal itu dengan sangat tulus membuat hati Elsa dan juga Gia merasa terenyuh.
"Rere juga seneng, jadi merasa punya keluarga yang utuh." Aurelia langsung melerai pelukannya, lalu, dia menghujani wajah Gia dengan ciuman.
"Ayah, juga seneng. Semoga saja, Bunda kalian mau menerima, Ayah." Gia pura-pura bersedih, agar menarik simpati kedua putrinya.
Aurora dan Aurelia pun langsung memeluk Elsa, mereka menatap Elsa, dengan tatapan penuh permohonan.
"Bun, jangan pisahkan Rara, dari Ayah." Aurora berucap dengan sangat memelas.
"Aku baru tahu, jika mempunyai Ayah itu, sangat menyenangkan." Aurelia menyandarkan kepalanya di pundak Elsa.
Elsa langsung menatap Gia dengan tajam, sedangkan Gia, hanya tersenyum melihat kekesalan di wajah Elsa.
"Jangan suka menghasut yang tidak-tidak," ucap Elsa.
Sebenarnya, Elsa sangat ingin memarahiku Gia, tapi, dia tidak enak hati. Karena, ada kedua putrinya di sana.
"Aku, sama sekali tak bermaksud untuk menghasut. Tapi, pada kenyataannya, kamu memang belum sepenuhnya bisa membuka hati buat aku, Elsa." Gia,. menatap Elsa dengan lekat.
" Jangan takut, aku pasti akan menikah denganmu. Demi anak-anak," ucap Elsa.
Gia sudah terlihat sumringah, saat Elsa mengatakan mau menikah dengannya. Tetapi, Gia kembali tertunduk lesu, saat Elsa mengatakan jika dia mau menikah dengan Gia hanya karena anak-anak.
"Jadi, cepatlah pulang. Persiapkan acara pernikahan untuk kita, jangan diam saja di sini. Kalau kamu diam terus, siapa yang akan mempersiapkan acara pernikahan kita?" Elsa sengaja mengatakan hal itu, agar Gia cepat pulang.
"Kamu lupa? Ada Ajun," ucap Gia.
"Ck, selalu saja mengandalkan orang lain." Gerutu Elsa.
"Bun, jangan marahi Ayah." Ucap Aurora.
"Iya, Bun. Kasihan, Ayah." Aurelia ikut menimpali.
" Lihatlah, sekarang mereka sudah berpihak kepadamu. Aku, sudah tidak dianggap lagi." Ucap Elsa merajuk.
"Jangan marah, kami sayang, Bunda." Gia langsung memeluk Elsa, Aurora dan Aurelia pun ikut memeluk Bundanya.
+
+
+
Jangan lupa tinggalkan jejak, tinggalkan Hadiah juga boleh.
__ADS_1