Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Berhenti Dari Dunia Keartisan


__ADS_3

Pagi ini merupakan pagi sabtu, Gia terlihat bersantai sambil menjemur Baby Adelia di taman belakang.


Berbeda dengan Elsa yang kini sedang sibuk merapikan kamar mereka yang sangat berantakan, tentu saja itu semua karena ulah Gia.


Baby Adelia kini sudah berusia tiga bulan, Namun Gia dan juga Elsa masih sering mengajak putri mereka untuk berjemur. Karena cahaya matahari di pagi hari, sangat bagus untuk kesehatan dirinya dan juga Baby Adelia.


Saat sedang asyik menjemur bayinya, tiba-tiba saja Aurora dan Aurelia datang menghampiri ayahnya tersebut.


"Yah!" ucap Aurora dan Aurelia bersamaan.


Aurora dan juga Aurelia langsung memeluk tangan Gia dan menyandarkan kepala mereka di bahu Gia.


"Ada apa, hem? Apa kalian menginginkan sesuatu?" tanya Gia


Karena biasanya jika kedua putrinya bersikap manja seperti itu, mereka mempunyai keinginan yang ingin segera dikabulkan.


"Tidak ada, kami hanya ingin mengungkapkan keinginan kami. Apakah boleh, Yah?" tanya Aurora.


Gia terlihat tersenyum hangat, lalu dia pun membelai puncak kepala kedua putrinya.


"Sayang, bicaralah! Kalian mau apa?" tanya Gia.


Gia terus saja mengusap puncak kepala kedua putrinya, sesekali matanya mengawasi Baby Adelia yang terlihat tertidur nyaman di atas kereta dorongnya yang hangat akan akan belaian sinar matahari.


Anak itu memang sangat anteng, Gia merasa beruntung mempunyai tiga putri yang cantik dan tak ada yang rewel atau pun melawan pada dirinya.


"Ayah, kami ingin berhenti dari dunia keartisan. Apa boleh?" tanya Aurelia.


Mendengar pertanyaan dari putrinya, Gia langsung tersenyum senang. Justru dia tidak ingin jika kedua putrinya menjadi artis, walaupun mereka memanglah artis papan atas yang mempunyai garis fans panatik dan berpenghasilan pantastis.


Namun, kalau boleh memilih. Gia ingin jika kedua putrinya menjalani hidup yang normal saja, bisa menikmati masa kecil mereka dan bekerja jika sudah pas umurnya.


"Tentu saja boleh, Sayang. Ayah sangat setuju Kalau kalian tidak jadi artis lagi, Ayah rasa itu akan lebih baik," kata Gia.


"Benarkah?" tanya Aurora.


"Tentu saja benar," ucap Gia.


"Terima Kasih, Ayah," ucap Aurora dan Aurelia bersamaa.


Gia langsung mengecupi kening kedua putrinya secara bergantian, rasanya senang luar biasa ketika kedua putrinya memutuskan untuk mundur.

__ADS_1


Gia merasa, jika waktunya akan lebih banyak lagi untuk berkumpul bersama dengan kedua putrinya itu, jika mereka sudah tidak menjadi artis lagi.


"Memangnya apa yang membuat kalian ingin berhenti dari dunia keartisan?" tanya Gia.


"Entahlah, Yah. Aku rasa, aku sangat bosan pegi kesana-kemari dan bertemu dengan banyak orang. Namun, waktu kami berkumpul dengan kalian sangat kurang," ucap Arora seraya mengeratkan pelukannya.


"Gitu ya, Kak. Kalau Dede kenapa mau berhenti?" tanya Gia.


"Kalau aku merasa tidak nyaman jika ada kerumunan fans yang terkadang nekat, mereka bisa menyakiti fisik kita Yah. Kadang mereka juga suka membuli kita jika penampilan yang kita suguhkan tidak sesuai dengan ekpektasi mereka," ucap Aurelia


Mendengar curhatan kedua putrinya, Gia pun langsung tersenyum. Kedua putrinya memanglah masih terlalu kecil, usianya pun baru 8 tahun.


Wajar jika mereka merasakan banyak keluhan, karena pada dasarnya di usia tersebut mereka haruslah belajar dan bermain.


Contohnya, seperti banyak berkumpul dengan keluarga untuk merasakan kasih sayang yang utuh dari ayah dan ibunya.


"Ayah akan selalu mendukung apa pun keinginan kalian, tentunya selama itu di jalan yang benar. Kalian memang putri-putri Ayah yang cantik," ucap Gia.


"Terima kasih," ucap Arora dan Aurelia bersamaan.


Aurora dan juga Aurelia terlihat sangat senang sekali, karena ternyata ayah mereka mendukung keinginan mereka.


"Memangnya kalian ingin melakukan apa setelah vakum dari dunia keartisan?" tanya Gia.


Gia kambali tersenyum, lalu dia pun mengecup kening Aurora.


"Terus, kalau Dede mau apa?" tanya Gia pada Aurelia.


"Aku ingin mempelajari dunia bisnis dengan serius, Yah. Aku mau jadi pengusaha yang sukses," ucap Aurelia.


Gia sangat kaget mendengar penuturan dari Aurelia, ternyata walaupun tak punya anak lelaki, dia masih bisa mengandalkan Aurelia untuk menjalankan bisnisnya.


"Wow! Itu sangat luar biasa, Ayah bangga pada kalian. Kalian memang luar biasa," ucap Gia.


"Tentu!" jawab Aurora dan Aurelia secara bersamaan.


Jika pagi ini di rumah Gia terlihat penuh dengan kebahagiaan, berbeda dengan Melani yang kini sedang merapikan semua perhiasannya.


Dia ingin menjual semua perhiasannya untuk membeli rumah, walaupun hanya mendapatkan rumah yang kecil, namun menurut Melani itu akan lebih baik daripada tinggal di ruko.


Setelah semuanya terlihat siap, dia pun memasukkan perhiasan tersebut ke dalam tas miliknya. Lalu, Melani pun segera memandikan Fajri.

__ADS_1


Pukul 9 pagi, Melanie pun kembali meminta izin kepada Reni. Karena dia harus pergi untuk menjual semua perhiasannya, setelah itu dia pun akan langsung pergi untuk mencari rumah yang sesuai dengan harga dari uang yang dia miliki.


Tadi malam Melani memang sudah mencari rumah dengan harga murah melalui internet, sudah ada beberapa kandidat yang pas dengan uang yang dia miliki.


Setelah menjual perhiasan pun, dia akan pergi ke sana. Kali ini tak hanya Fajri yang dia bawa, namun dia pun membawa Merrisa, putrinya.


Dia tidak mungkin meninggalkan Merrisa, namun baru saja dia hendak keluar dari Caffe, tiba-tiba Nyonya Mesti datang dan langsung memeluk Melani.


"Mel, Mamah kangen," ucap Nyonya Mesti.


"Mel juga kangen sama Mamah, Mamah ke sini sama siapa? tanya Melani.


"Sendiri, Sayang. Mamah sendiri, Mamah kangen sama kamu. Sama kedua cucu Mama juga, boleh kan kalau Mamah ajak mereka jalan-jalan?" tanya Nyonya Mesti.


"Tapi Mah, aku mau pergi. Mau mencari tempat tinggal baru," ucap Melani.


Nyonya Mesti terlihat melerai pelukannya, kemudian dia tersenyum hangat kepada Melani.


"Pergilah, Sayang. Biar Mamah yang menjaga kedua buah hati kamu, kamu percaya' kan sama Mamah?" tanya Nyonya Mesti.


Sebenarnya Melani merasa berat hati, harus membebankan kedua buah hatinya kepada mantan mertuanya tersebut.


Namun, dia tak mungkin menolak tawaran bantuan dari mantan mertuanya itu.


"Baiklah kalau begitu, aku titip mereka," ucap Melani pada akhirnya.


Nyonya Mesti pun terlihat tersenyum senang, dia langsung menghampiri kedua cucunya dan mengecup kening mereka secara bergantian.


"Cucu Nenek yang cantik dan ganteng, mau kan kalau kita jalan-jalan ke taman?" tanya Nyonya Mesti.


Merissa terlihat menatap ke arah Melani, lalu Melani pun mengaggukan kepalanya. Merrisa tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.


"Mau' kan ya? Nanti Nenek beliin banyak mainan sama makanan," bujuk Nyonya Mesti.


"Mau, Nek. Icha mau," ucap Merrisa.


"Aji juga mau," jawab Fajri.


Melani terlihat tersenyum melihat kesenangan di mata kedua buah hatinya, walaupun dia telah berpisah dengan Aldino. Ternyata Nyonya Mesti tidak melepaskan dia dan kedua buah hatinya begitu saja.


"Titip mereka ya, Mah," ucap Melani.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Pergilah!" kata Nyonya Mesti.


Melani pun langsung pergi dengan mobilnya menuju toko perhiasan terbesar di pusat kota, setelah melihat kepergian Melani, Nyonya Mesti pun langsung mengajak kedua cucunya untuk jalan-jalan ke taman dengan menggunakan taksi.


__ADS_2