Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Benci


__ADS_3

Gadis berusaha untuk bangun dengan memegang motor matic kesayangannya, lalu Gadis menatap pria yang sudah membantu mendirikan motornya itu.


"Kamu?!" ucap Gadis dan pria itu bersamaan.


Mata Gadis langsung memerah, pandangan matanya terlihat menajam. Dia terlihat begitu kesal saat melihat lelaki yang kini berada di hadapannya.


Walaupun kaki Gadis terasa sangat sakit, dia dengan cepat menaiki motor matic miliknya. Dia sudah tak ingin lagi bertemu dengan pria itu lagi.


Pria yang menorehkan luka yang sangat dalam pada hidup Gadis, pria yang menyebabkan satu nyawa hilang karenanya.


"Tunggu, aku ingin bicara." Pria itu mencekal tangan Gadis, membuat Gadis mendengus sebal.


Sumpah demi apa pun, ingin sekali Gadis pergi dari kota ini. Andai saja dia punya uang banyak, dia akan pergi sejauh-jauhnya agar tak kembali bertemu dengan pria yang ada di hadapannya.


"Jangan pegang-pegang, aku ngga punya waktu." Gadis menstater motornya, dia ingin segera pergi dari sana.


Tak sudi rasanya dia harus berlama-lama bersama dengannya. Tapi sayangnya, pria itu malah berdiri tepat di depan motor yang Gadis tumpangi.


"Awas brengsek!" kesal Gadis.


Lelaki itu bergeming, dia malah tersenyum sambil menatap Gadis dengan tatapan rasa bersalahnya.


"Aku ngga bakal pergi, sebelum kamu mau bicara sama aku." Pria itu malah memegang setir motor Gadis, membuat Gadis mendelik sebal.


"Tapi aku ngga mau lagi bicara sama kamu," kata Gadis.


"Please, hanya sebentar." Lelaki itu berupaya untuk menyentuh tangan Gadis, namun dia langsung menepisnya.


"Maaf, aku ngga bisa." Gadis langsung memundurkan motornya, lalu dengan cepat ia membelokan dan melajukan motornya.


Pria itu hanya bisa menatap nanar kepergian Gadis, padahal dia tahu jika kaki Gadis terlihat berdarah. Pasti terkilir dan juga pasti sakit karena tertimpa bodi motor, pikirnya.


Rasa khawatir menyeruak dalam dirinya, sayang Gadis sudah tidak mau lagi bertemu dengan dirinya. Ya... dia akui semua itu memang murni kesalahannya.


Gadis melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, beberapa kali dia terlihat menyalip kendaraan lainnya. Gadis ingin segera sampai di rumahnya, dia ingin segera menumpahkan segala kesedihannya.


Bahkan rasa sakit di kakinya pun seakan tak dia rasakan, hanya rasa kesal yang menyelimuti hatinya.


"Sudah pulang, Neng?" tanya Bapak Galuh pada Gadis.

__ADS_1


"Sudah, Pak." Gadis langsung memarkirkan motornya dan turun dengan kaki tertatih.


Pak Galuh jadi khawatir melihat anak Gadisnya yang berjalan dengan tertatih, matanya bahkan langsung melihat ke arah kaki Gadis.


"Aih, kenapa eta kakina?" ucap khawatir Pak Galuh.


Pak Galuh langsung menghampiri Gadis, lalu dia memapah Gadis menuju ke dalam rumahnya. Dia tidak menyangka jika anak gadisnya akan pulang dengan kaki yang terlihat membengkak dan berdarah.


"Kamu kenapa?" kembali Pak Galuh bertanya kepada putrinya.


Gadis hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Bapaknya tersebut, "Gadis jatuh, Pak. Boleh gadis minta tolong sama Bapak?"


"Boleh atuh, Neng. Mau minta tolong apa? Sebutin aja ngga usah sungkan kaya gitu sama, Bapak." Pak Galuh langsung mengelus lembut pundak Gadis.


"Tolong ambilin es batu, Pak." Gadis menyimpan kunci motormya di atas meja.


"Iya, Neng. Tunggu sebentar, Bapak ambilkan dulu. Mau sekalian diambilin betadine nggak?" tanya Pak Galuh.


"Boleh atuh, Pak. Sekalian sama rivanolnya biar sekalian lukanya dibersihin," kata Gadis.


"Iya, kamu duduk aja di sini biar Bapak yang ngambilin," ucap Pak Galuh.


Tentu saja dia ingin segera mengompres kaki putrinya yang terlihat membengkak. Tak lama, Pak Galuh pun kini sudah duduk anteng di samping gadis.


Pak Galuh terlihat sangat telaten mengompres kaki Gadis yang terlihat membengkak, kemudian dia juga membersihkan luka Gadis memakai rivanol. Lalu, dia meneteskan beberapa tetes betadine ke atas luka Gadis.


"Sebenarnya kamu teh kenapa, Neng?" tanya Pak Galuh.


"Kan tadi sudah aku bilang, Pak. Gadis jatuh dari motor, lagian Bapak enggak usah khawatir. Besok juga udah sembuh," ucap Gadis menenangkan.


"Bapak cuma khawatir, Nak. Bagaiama dengan kegiatan kampus kamu?" ucap keluh Pak Galuh.


"Kegiatan kampus juga udah selesai, tinggal sesekali doang datang buat ngurus yang perlu. Tinggal nunggu wisuda saja," kata Gadis.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Bapak bantu ke kamar kamu," kata Pak Galuh.


" Iya, Pak," jawab Gadis.


Gadis pun langsung masuk ke dalam kamarnya, tentu dibantu oleh bapaknya. Gadis langsung merebahkan tubuhnya, lalu dia mengingat pertemuannya dengan lelaki yang sangat dia benci.

__ADS_1


Seumur hidupnya sungguh dia tak ingin bertemu kembali dengan lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya, semoga saja, pikirnya.


Berbeda dengan Gadis yang sedang kesal, Gia kini sedang tersenyum senang karena keinginannya sudah terpenuhi. Bahkan Elsa dan kedua putrinya pun begitu senang karena mereka bisa bebas main.


Padahal biasanya mereka jarang keluar, karena selalu saja di kerumuni oleh para fans baik dari barisan ibu-ibu ataupun anak-anak dan remaja.


Kini Gia sedang merebahkan tubuhnya, sesekali dia mengecek pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Mas, bobo dulu. Besok kan harus kerja," ucap Elsa mengingatkan.


Elsa terlihat naik ke atas kasur, lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Gia.


"Hem, Mas besok keluar kota bareng Ajun. Kalau cepet selesai Mas langsung pulang, kalau lama, Kayaknya Mas bakalan nginep." Gia menyimpan ponselnya di atas nakas, lalu mulai mendekap tubuh Elsa yang seakan menjadi candu untuknya.


"Kok baru bilang?" tanya Elsa.


"Mas, lupa." Gia langsung mengecupi bibir Elsa beberapa kali, tangannya pun langsung merambat dan meremat buah kesukaannya.


"Mas!" Elsa mulai merasakan hawa panas yang mulai menjalani setiap inci tubuhnya.


"Mas mau minta bekel buat besok, takutnya Mas ngga bisa pulang." Gia langsung menyingkap baju istrinya, lalu mengecupi perut Elsa yang terlihat menonjol.


"Jangan nakal, Mas. inget aku sama anak-anak yang setia nungguin kamu," ucap Elsa.


"Iya, Sayang. Mas ngga bakal macem-macem," ucap Gia.


Gia mulai membuka kain yang menghalangi tubuh istrinya, mata Gia langsung berbinar kala melihat kesempurnaan yang terpampang nyata di depan matanya.


Gia pun dengan cepat membuka baju yang melekat di tubuhnya, dia sudah tak sabar ingin menyatukan tubuhnya. Namun Elsa mendorong pelan bahu Gia.


"Jangan lupa kasih kabar terus, nanti akunya kangen." Elsa melingkarkan kedua tangannya pada leher Gia.


"Ck, kamu berisik. Ngomong terus, akunya ngga bakal bisa bikin kamu merem melek kalau gitu!" protes Gia.


Elsa langsung mencebik tak suka mendengar ucapan Gia, lalu beberapa detik kemudian.


"Aaww!" pekik Elsa.


Gia dengan tak sabar menyatukan tubuh mereka, karena miliknya sudah terlihat berdiri tegak dan nampak ileran seperti bayi yang menginginkan sesuatu tapi tak terpenuhi kala kehamilan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2